Jul 3, 2020

Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC

Minggu ini kebetulan saya lagi maraton baca novel lokal. Setelah melahap Laut Bercerita dan Pulang, saya geregetan juga ingin re-read novel sejarah yang udah lama banget saya punya: Rahasia Meede. Awalnya tertarik karena kebetulan yang nulis senior (jauh) SMA, tapi ternyata buku ini worth every single stars it gets in goodreads.



Rahasia Meede mengisahkan tentang Batu Noah Gultom, wartawan harian surat kabar yang ditugaskan menyelidiki dugaan pembunuhan berantai di tempat-tempat berawalan huruf B, dan berhubungan erat dengan masa hidup Bung Hatta. Juga tentang Cathleen Zwinckel, mahasiswi pascasarjana Universitas Leiden yang sedang mencari bahan tesisnya mengenai ekonomi jaman kolonial Hindia Belanda (VOC). Somehow, kedua orang tersebut akhirnya terlibat dalam tindak kejahatan pentolan Anarki Nusantara, dan terjalin dalam pencarian ke alam masa lalu mengenai harta karun VOC.

I know my resume does not make any sense, tapi ya memang itu jalan ceritanya. Any more details will spoil the whole book uniqueness. Bagaimana E.S. Ito membolak-balikkan plot, bagaimana main character dan antagonis bercampur baur dalam keabu-abuan. It perfectly describes bagaimana setiap manusia ga selalu hitam atau putih. Ga jelas lagi mana yang benar mana yang salah. Memang kebenaran itu dasarnya apa? Hukum? Seragam tanda instansi? Keberpihakan pada kekuasaan?

"Sekadar naluri binatang memang tidak bisa melihat perbedaannya. Tetapi, nalar manusia jelas melihatnya berbeda. Aku melakukannya atas nama hukum positif, konstitusi. Kau melakukannya untuk hasrat rendah, naluri buas kebinatangan."

"Konstitusi? Bukankah itu tidak lebih dari kepercayaan pada kepalsuan? Pada awalnya, ia dibuat sebagai mandat rakyat untuk kebebasan. Tetapi kenyataannya sekarang, konstitusi tidak lebih dari penjara ketidakadilan. Di balik jerujinya, kita hanya bisa menatap politik tanpa etika, kekayaan tanpa kerja keras, sains tanpa humanitas, peribadatan tanpa pengorbanan, perniagaan tanpa moralitas, pengetahuan tanpa karakter, kesenangan tanpa nurani..."

Yang menurut saya paling menarik sebenarnya adalah banyaknya sindiran terhadap "pribumi", masyarakat Indonesia yang inkompeten, serba tanggung, malas, dan maunya instan. Atau sekadar putus asa dan tidak punya masa depan. Walaupun bukan dimaksudkan untuk melucu, tapi sentimen londo-pribumi yang dilontarkan buku ini lumayan mengundang tawa miris, at least buat saya sendiri. Memang cenderung bias ras, tapi bukan berarti salah sama sekali sih.

Saya sendiri agak bingung mengkategorikan novel ini ketika merekomendasikannya ke twitter literarybase. Dibilang novel action, sebenarnya tidak terlalu banyak adegan berantem di sini. Dibilang novel sejarah, sebenarnya plot cerita tidak melulu flashback ke kejadian masa lalu, walaupun memang detail kejadian yang dimasukkan ke alur dan dialog sangat rinci , dan kelihatan banget diriset dengan benar-benar dalam sehingga ironisnya, melawan semua sentimen yang di"tuduh"kan di dalam cerita tentang tabiat orang Indonesia. Well, outlier dalam kehidupan itu memang selalu ada, sih.

Yang jelas, novel ini sangat menyenangkan buat dibaca. Ceritanya menegangkan dari awal sampai akhir, dengan alur yang cepat dan ga bertele-tele. Bahasa penulisan formal, tetapi tetap penuh sarkasme dan punchline. Awalnya memang agak membingungkan karena ada banyak cerita yang dituliskan secara sporadis, tetapi di tengah buku akhirnya kelihatan benang merah dari semua potongan cerita. Lalu, detail fakta baik lokasi maupun sejarah, serta tanggal-tanggal yang agak mengintimidasi kalau saya jadi authornya, tetapi justru menunjukkan kecerdasan si tokoh (dan penulisnya, tentu saja). Terakhir, plot twist yang agak bangsat di akhir cerita juga melengkapi buku yang akhirnya saya nyatakan, perfect all-rounder.

You definitely won't want to miss this book out.

Personally, penggambaran minor SMA saya di dua adegan dalam cerita juga membangkitkan nostalgia satu dasawarsa lalu, sehingga jadi poin plus. Damn, I'm old.


Ignore the Hate for Clear Skin and Healthy Mind

So a Byun Baekhyun fansite was opened up and admit that she dislike Jongdae, and once again my Jongdae list is full with shade and swear words.



Gua seharian scrolling dari went "iya, ok" sampe capek sendiri.

Agak ngeri juga ya. Ternyata bisa segininya banget, dampak tinggal di lingkungan yang bener2 selektif dan sterile dari perbedaan, sampe perkara selera orang aja jadi bahan cacimaki. As if kalo ada orang yang ga suka sama hal favorit kita, kitanya bakalan ikut terhina.

Gatau, I mean, is it normal?

Gua pribadi sih ga merasa harga diri gua sangat bergantung sama harga diri aidol yang gua suka ya.

Gua suka Chen, orang lain ga suka? Yaudah biarin aja, toh mereka ga yang ketangkap basah melakukan hal-hal yang membahayakan. Hating aint a freaking crime! Dan apakah harga diri gua turun karena ada orang yang ga suka sama sesuatu yang gua suka? Ya engga juga sih. I'm not at the position to judge, knowing very well I dislike other things which people are head over heel into.

Sedikit nyes mungkin, ketika ternyata kita kehilangan satu orang yang tadinya netral (dan bisa diconvert buat spazzing bareng) ke kubu sebelah. Tapi ya udah sih, not that deep. It's just Kpop man.

I like him, I adore his on cam persona, I appreciate his music, I devour his vocal, I love his performance. But then again, it's just Kpop. Afterall, me and him are complete stranger, and there is no point for me to fight other people to shield him from pain.

Emang gua bisa apa sih? Nge-up hashtag? Apa hal itu bisa bikin gua kaya? Bias gua kaya?

Ngereport akun orang? Atas apa? Atas pernyataan mereka bahwa mereka ga suka bias gua? Kok kedengerannya semacam gua ngereport seseakun karena si pemilik koar-koar mereka tidak suka makan duren. Atau tidak suka makan cokelat. And yes, it does sound dumb.

Karena mereka ga menjunjung tinggi OT9? Ini nih yang gua mulai capek. Menuntut penggemar boygroup EXO untuk mendukung semua member sama rata sama rasa tuh sama kayak menuntut orang Indonesia doyan semua jenis soto. Atau kalo mau contoh yang ga terlalu maksa, kaya menuntut anak-anak penggemar coklat untuk suka semua produk keluaran Cadbury. Silly, kan?

Ini tuh kita ngefans boygroup, apa negara fasis?

Kayanya fans Chen, soondingies, dandelions, udah waktunya deh buat pindah haluan buat jadi fans yang biasa-biasa aja. Casual fans, maybe? Yang ga sakaw konten, yang ngerti kalo artis itu emang udah sewajarnya rilis lagu, rilis materi sesuka mereka. Coba lihat deh, Adele rilis musik setiap berapa tahun sekali? Ngasih update berapa minggu sekali? Kok fans Adele ga menggelinjang cranky kalo Adele-nya ga comeback dua tahun?

Atau jangan-jangan, kalian sebenernya punya agenda lain?

Kalian takut kehilangan relevansi among EXO fan twt. Kalian takut kehabisan konten terkait Chen, sehingga apapun yang nyenggol dikit bakal langsung disamber mati. Kalian separanoid itu, sehingga kalian bahkan ga sempet baca dan pahami kondisi yang ada, dan langsung GASSSSSS pol. Yang penting ada konten. Yang penting kalian ngetwit tentang Chen, ga peduli sebodoh apapun kalian kedengerannya.

Maybe you ain't worrying about Chen. You worried about YOURSELF.

Yuk ah, mulai belajar ignore the hate. Ga semua orang harus suka Chen. Kita boleh banget mau ga suka Chanyeol, mau ga suka Baekhyun, mau ga suka Yixing.

Ga ada orang yang naroh AK-47 di pelipis kita dan menuntut kita untuk KALIAN HARUS SUKA SEMUA EXO!

Ga ada yang mendoktrin "Kalau kalian ga dukung kesembilan member EXO, kalian bukan real EXO fans" like, so what? Emang kenapa kalo kalian jadi fans EXO palsu? Emang kalo kalian bukan real fans, duit kalian ga sampe ke oppa? Cinta kalian ga sampe ke oppa?

Gini ya bebs ya, siapapun kalian, duit kalian tetep sampe ke oppa selama kalian beli albumnya atau stream legal albumnya. Mau kalian adalah fans berat, atau antifans sekalipun, duitnya sama harumnya kok.

Lalu apa tuh yang ga sampe ke oppa, kak? Nih salah satu contohnya: hashtag twitter. Beneran deh, duit dari hashtag twitter itu gaada yang sampe ke oppa, seujung-ujung daki telinga aja ga ada. Yang dapet duit itu ya twitter, mereka jadi punya lebih banyak data untuk personalize ads buat kalian.

Lalu apa lagi kak yang ga sampe ke oppa? Energi kalian yang terbuang buat berantem sama fans lain. Beneran deh, itu bau-baunya aja ga sampe ke oppa. Oppa nonton kalian berantem juga cuma cengengesan, ini apa sih muka gua dijadiin DP terus dibuat alat berantem.

Yep, energi kalian yang terbuang percuma itu ya sama aja kaya kalian download mp3 bajakan, kalian stream pake spotify mod. Iya kalian capek, iya kalian berkorban, tapi mohon maaf pemirsa, duitnya ga ada.

Nah, kalo toh ga ada yang maksa kita untuk suka semua member EXO, lalu kenapa kita masih maksain diri untuk show support ke semua member? Seberapa bagusnya pengorbanan kalian, seberapapun idealnya kalian mendukung semua member EXO, ga akan bikin para solo stan itu buat balik suka Chen. Udah lah, drop the wrong effort. Bukan gitu caranya bikin orang support Chen. Hukum timbal balik, hukum sebab akibat itu ga senaif aku dukung kamu kamu dukung aku juga kaya gitu. Kalian dukung OT9 ga bikin solo stan jadi OT9 dan otomatis dukung Chen. Ga sesederhana itu. 

Tuhan ngabulin doa aja belum tentu sesuai sama yang hambanya minta kok.

Mulai dari hal terkecil: drop the OT9 bullshit KALAU ga dari hati. Kalo kalian emang murni suka sama rata sama rasa ke semua member, silakan lanjut. Tapi kalo masih ada bias2an, gausah ikut2an OT9, ntar sakit hati pas bias sendiri ga dapet support sebanyak 'charity effort' yang kalian lakukan untuk nonbias kalian. Ga ada ceritanya tanggung balik. Kalo kalian emang ikhlas OT9, kalian ga akan sakit hati Chen ga disupport orang.

Kalo emang pengen Chen lebih terkenal lagi dari sekarang, cara paling bener emang share lagunya, share MV dan channel youtubenya, dan beli albumnya. Tulis review, kirim ke majalah-majalah lokal kalian. Majalah yang cemen-cemen gitu, yang target marketnya anak-anak SMP di kampung-kampung, gapapa. Bukan dengan berantem sama sesama user. Ini udah Chen-nya malu lihat mukanya dipake alat berantem, fans lain malah makin jijik sama fans Chen.

Man, ini panjang banget. Tapi beneran deh, kenapa sih Chen fans ga jadi casual fans aja? Karena sayang udah bikin twitter handle Chen ya? Ini nih, makanya gausah bikin twitter misah2. Jadinya ada pressure untuk ngetwit sesuai dengan handle name, yang sebenrnya bisa aja kita ganti sesuka hati. Giliran ga ada konten, mutung kan wkwk.

Jun 23, 2020

Laut Bercerita: Tentang Hidup yang Abadi

I wrote the title as if the book talked about some kind of witch that obsessed over eternal youth and beauty, lol.

Despite some details that not so-syar'i (jk :D), this novel told us deeper about how we can live forever as Rasulullah taught us Moslems. Raga mungkin habis terurai, tetapi semangat, idealisme, dan kenangan manis itulah yang membuat kita abadi.

NOTE: Di novel ini terdapat lumayan banyak adegan dan penggambaran yg agak bikin dada nyes~ terutama di bagian penyiksaan, jadi untuk kalian yang punya anxiety, you might need to wait until you're ready, atau skip aja sekalian. Buku lain banyak. Kestabilan mental kalian lebih utama ya tems.

Cover


Novel yang ditulis oleh Leila S. Chudori ini (english title: The Sea Speaks His Name) bercerita tentang penangkapan aktivis mahasiswa pre-Reformasi 1998. Diantara cerita-cerita dari bilik kurungan dan kamar interogasi (penyiksaan), Leila menyisipkan flashback potongan kegiatan-kegiatan aktivisme yang berujung pada berakhirnya sosok salah satu tokoh utama, Biru Laut, di dasar Laut Jawa. Sempat di-mention juga, tragedi Sabtu Kelabu yang (setelah saya googling ditengah-tengah baca, pardon my poor historical reference) merupakan salah satu bab perjuangan kakak-kakak aktivis untuk mendobrak tiranisme rezim Orde Baru.

Paruh kedua dari buku mengambil sudut pandang keluarga korban dan penyintas, yang akhirnya "terpaksa" untuk melanjutkan hidup meski dengan beban yang ga akan bisa dipahami orang-orang yang ga mengalami sendiri. Orang-orang yang berhasil dibebaskan, mereka keluar dengan trauma berat, depresi, dan membawa survivor's guilt kenapa mereka harus dibebaskan sementara rekan-rekannya ga selamat. Sementara keluarga korban, beberapa akhirnya hidup dalam struggle hebat untuk menerima bahwa orang terdekat mereka tidak akan kembali ke rumah. Kenyataan bahwa anak, kekasih, saudara mereka pergi dengan cara yang kejam dan tidak wajar bikin mereka shock, jelas. Some of them cope in denial for years, bahwa anak mereka kelak kembali, bahwa anak mereka mungkin hanya menunggu waktu untuk dipulangkan seperti rekan-rekan aktivis lain yang dibebaskan.

Di sini saya belajar lagi, bahwa trauma seseorang tidak bisa semudah itu disingkirkan hanya dengan himbauan untuk berpikir logis. You definitely could not ask someone who faced terror for months to just quit being miserable and live happily. Sebagai orang yang "sehat", kita udah sepatutnya jadi orang yang banyak-banyak sabar. Dengerin mereka, dukung mereka. Kasihlah mereka waktu untuk pulih. Terimalah kalau mereka memang bukan orang yang dulu kita kenal lagi.

Back to the book, storytelling-nya Leila di sini cukup enak buat dibaca. Meskipun banyak maju-mundur di alur ceritanya (khususnya di paruh pertama), tetapi tidak membingungkan. Walaupun banyak lompatan, tapi alur cerita di bagian ini masih tetap jelas karena di setiap bab dan pergantian periode diberi keterangan tahun.

Well, the fact that buku ini ditulis dalam bahasa Indonesia helps a lot haha. Walaupun topiknya seberat ini, tapi saya berhasil selesain bukunya dalam enam jam, itu pun udah kepotong solat, mandi nyapu ngepel dan bikin makan malam hehe. Memang ya bahasa Ibu itu terbaik, mau cerita dibikin sekacau apapun tetep aja lancar nangkepnya.

Untuk sudut pandang kedua (yang diwakili oleh sudut pandang adik perempuan Laut, Asmara), penulisannya agak lebih straightforward. Bagian ini lebih banyak mengisahkan tentang bagaimana orang-orang yang ditinggalkan (dan bertahan) melanjutkan hidup, bagaimana mereka tetep memperjuangkan nasib teman-teman mereka yang masih belum jelas hidup matinya. While struggling with their own problems, mereka terus menyempatkan diri menggali informasi serta mendesak penguasa untuk segera menuntaskan kekerasan HAM terhadap orang-orang terdekat mereka yang dilenyapkan (hence, aksi Kamisan). Bagi mereka, any revelation is not always comforting, but at least they aren't longer facing with blindness.

Novel ini bener-bener membuka mata saya mengenai apa-apa yang kakak-kakak perjuangkan, untuk hal yang mereka anggap benar. Sekalipun harus melawan penguasa, sekalipun harus menggadaikan masa muda dan nyawa mereka. Penguasa ga selalu ada di pihak yang benar hanya karena mereka memegang kendali hukum dan peraturan. Hal yang terlihat pakem, akan ada waktunya untuk beralih menuju kebenaran yang baru. Mungkin kita ga akan langsung lihat hasil dari apa yang kita upayakan, tapi setidaknya kita udah bekerja.

Semangat mereka mungkin tidak untuk saya ikuti segera (saya belum se-berani itu), tetapi kekuatan mereka untuk berpegang teguh pada hal yang mereka anggap benar, bener-bener jadi pelajaran. Kalau memang itu hal yang benar, why not? Just do it!

Anyway, saya suka banget potongan puisi tokoh "Sang Penyair" yang ada di buku ini:

Matilah engkau mati
Semoga engkau lahir berkali-kali

--
Get your ebook here:

The Weight of Our Sky: Sejarah Negara dari Kacamata "Budak Jin"

Kisah seorang murid perempuan Malaysia yang berencana nonton film Paul Newman bersama sahabatnya, namun berakhir dengan terjebak berhari-hari di rumah kenalannya yang seorang warga keturunan China. Seharusnya hal tersebut bukan masalah, karena baik keturunan China, Melayu, maupun India, semuanya sama-sama warga Malaysia, menjunjung adat dan langit yang sama. Namun, rusuh pasca pemilihan umum dan sarana komunikasi yang putus total memaksanya untuk terpisah dari Mamanya, tanpa ia tahu apakah Mama masih bernapas di luar sana.

Dan ya, bisikan dan seruan dalam kepalanya tentu saja membuat situasi yang sudah kusut, makin menjadi kalut. Terima kasih, "Jin".

Cover Buku

Saya tahu karya ini dari seorang netizen di twitter literary base. Saya tidak banyak berekspektasi, waktu itu cuma mau cari buku selingan non-serial setelah maraton delapan buku Artemis Fowl dan reader slump dari The Raven Cycle yang ga kelar-kelar.

Saya belum pernah baca "Laut Bercerita"-nya Leila S. Chudori. Dan penasaran sangat. Belum kesampaian dapetin bukunya (legal maupun ilegal). Tapi sepertinya buku The Weight of Our Sky ini agak mengobati rasa penasaran saya tentang gimana sih, rasanya baca novel dengan setting cerita kerusuhan politik. Bagaimana melihat huru-hara dari sudut pandang orang-orang yang terdampak langsung, bagaimana orang-orang masih banyak yang mau nolong sesama walaupun mereka sendiri korban.

Saya juga dapat bonus besar (it's an understatement, ini sebenernya malah pelajaran terbesar) soal mental illness. Tokoh utama buku ini adalah seorang pejuang OCD. Ia begitu terobsesi dan bergantung pada pola-pola hitungan per-tiga-an dan sisi sebelah kanan. Bagi orang luar, orang seperti ini tentu ga masuk akal dan aneh kan, dan bakal gampang aja untuk menyarankan "Well you can just STOP counting if that gives you discomfort. What so difficult?".

Well, mereka sadar kok mereka freak.

Mereka ngerti, kalau number does not really matter.

Tapi di saat yang bersamaan, mereka ga bisa semudah itu berhenti.

OCD ini bukan sekadar ketakutan biasa yang bisa kalian stop kalau ancamannya sudah berlalu, seperti misalnya kalian takut sama cicak atau takut lewat kuburan di malam jumat. Atau sekedar clean freak yang ga bisa lihat debu di meja. Ancaman mereka itu ada di dalam kepala mereka, dan bisikan-bisikan itu muncul setiap saat. They obsess with whatever they're holding on with, because they're coping with that fear. Capek loh. Dan himbauan untuk berhenti dari orang lain, ga bisa mereka lakukan semudah itu.

Makanya, mental illness patients itu selalu bilang bahwa di kepala mereka ada monster. Karena memang iya.

Anyway. Balik lagi ke review buku. TWOOS ini bercerita tentang Melati Ahmad, seorang panderita OCD yang menjadi saksi mata kerusuhan politik rasial di Malaysia, tahun 1969 antara warga ras Melayu dan warga keturunan China. Melalui buku ini, Hanna Alkaf menceritakan bagaimana Melati melihat langsung kerusuhan dan serangan-serangan dari dua kubu yang berseteru, bagaimana mengerikannya situasi di luar dan betapa tegangnya situasi di dalam rumah, yang tidak beda jauh mencekamnya.

Konflik cerita dikemas secara cantik, dimana Melati yang keturunan Melayu ended up ditolong oleh Aunt Bee yang keturunan Cina. Ia dijaga baik-baik di dalam rumah, sementara rekan satu ras mereka saling bunuh. Hanna juga mengemas konflik yang dihadapi penderita OCD dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dan stigma (tekanan) orang luar, yang terganggu dengan obsesinya mengetuk dan menghitung. Pun, konflik internal dalam diri Melati, dimana ia merasa bahwa kematian sahabatnya, bahwa beban yang ditanggung Auntie Bee, semua salahnya.

Karena buku ini bercerita tentang kejadian nyata, tentu Melati ga punya peran signifikan dalam menghentikan kerusuhan seperti layaknya main characters di Detective Conan atau Avenger series. Alur cerita dibuat mulus dengan intensitas konflik yang seimbang, sampai ga kerasa tahu-tahu udah sampai halaman 162 aja.

Adapun ending kerusuhan dibiarkan apa adanya, karena memang tidak di-highlight juga kan siapa yang akhirnya mengakhiri tragedi tersebut in real life. Namun, Melati sendiri diceritakan berhasil melawan "Jin" di kepalanya dalam satu tindakan yang cukup nekat. Ga diceritakan apakah ia benar-benar sembuh (karena tahun 1969 awareness mengenai mental illness belum sebaik sekarang), tapi saya lihat lompatan yang dilakukan tokoh Melati cukup besar, untuk kondisinya saat itu. Cakep untuk jadi penutup cerita.

Well, ga ada keharusan kalo ending cerita harus sejelas kamera Huawei P40 kan?

Anyway, saya jadi makin tergoda buat beli Laut Bercerita di Google Playbook nih :")

--
get your ebook here:

Jun 22, 2020

Semacam Rencana Tengah Tahun

22 Juni 2020

Selamat ulang tahun Jakarta

Eh, saya ga peduli juga sih. Saya warga Jawa Barat, pun lagi ga kerja di Jekardah juga gabisa ya kalian maksa gua berterima kasih sama kalian pake alasan saya ngotor2in udara Jakarta lmao gua udah ga ke sana empat bulan sejak korona.

Anyway. Udah enam bulan aja di tahun 2020. Udah satu semester berlalu. Kalo anak sekolah udah dapet rapot kenaikan kelas ini, sayang lagi wabah jadi hura-hura perpisahan dan kenaikan kelasnya harus diskip tahun ini. Yak saya mendengar Bapak Ibu di sebelah sana bernapas lega karena tahun ini tidak harus bayar iuran perpisahan.

Tapi karena saya pengangguran, jadi tahun ini agak-agak miris haha. Aktivitas saya selama enam bulan ini bener-bener bisa dihitung pake jari tangan. Ga bagus-bagus amat pula hasilnya.

Kayanya emang saya harus cepet-cepet cari kerja terus cari pacar. Suram gini hidup saya kalo ga ada yang ngedorong. Selama sekolah, guru sama orang tua yang selalu ngerecokin saya buat ngepush diri sendiri. Hamdalah, ini otak belum kenal twitter jadi ga ketularan mental disease trend nya anak-anak edgy yang disuruh cuci piring emaknya aja teriak PARENT ABUSE! -well, intinya, saya tuh ga masalah dipush. Malah kalo gaada yang "nyiksa" saya, saya mungkin ga akan pernah nyicipin bangku kuliah dan kerja enem taon di kantoran.

Jadi postingan ini cuma bakal jadi outline aja, konten-konten apa aja yang bakal saya tulis di sini. Semacam niat ingsun lah. Yep, saya niatkan rajin ngeblog lagi. Dari postingan terakhir sampai hari ini, sebenernya saya ada beberapa kali nulis. Cuma karena saya mager konek ke internet buat ngelink-in sumber tulisan, jadinya tulisan-tulisan itu teronggok begitu saja di draft. Mau di-post, udah basi haha

Rencana konten 2020

1. Review buku

Kegiatan yang lumayan nyita (buang-buang) waktu saya selama enam bulan ini adalah ngeberesin baca novel fiksi. Saya punya banyak banget novel fiksi (bajakan woops) hasil ngopi dari temennya temennya temennya -yah intinya temen, dan niatnya sih dibacain itu semua biar faedah. Dan seiring dengan saya follow autobase pecinta buku (@literarybase), list saya makin panjang aja karena adaa aja buku yang menarik dan belum saya baca.

Per 22 Juni 2020, berikut list buku yang udah saya selesaikan (saya screencap di tabel excel aja karena ini sebenernya detail ga penting cuma somehow satisfying jadi saya bela-belain tulis lol)

This is the result of being organized but lazy at the same time. Jadinya setengah-setengah kan wkwk


Anyway, rencananya sih saya pengen nulis review ala-ala gitu lah. Entah bakalan nggenah apa enggak, karena enam bulan ini saya baca ngebut, semacam dikejar target pencapaian self-bragging right gitu lah bisa baca sekian buku (regardless dari mana saya dapetnya, sadly). I can't even remember the stories, karena saya fokus ke finish nya, bukan enjoy the reading moment nya. Apalagi kalo lagi baca series, rasanya pengen cepet-cepet beres aja. (And you see most of my finished book are SERIES lmao)

Yg standalone aja masih ada sangkut pautnya sama series.

Anyway next,

2. The Usual recent issues commentary

Walaupun jujur, karena saya balik lagi ke bookworm mode, saya jadi ga terlalu banyak scrolling twitter ngikutin update orang-orang. Jujur, selain ncovid yang progress penanganannya masih au ah elap, ga banyak yang bisa dibahas di timeline saya. Satu, karena saya mulai ga berminat ngikutin kpop (Chenpop rules, go Chen or go home) - sedangkan mutual saya mostly lungsuran kpop jadi well, it's kinda boring. Dua, dengan ngeboseninnya timeline asli, saya akhirnya bikin timeline-timeline baru dalam bentuk list, sehingga peminatan saya makin ga fokus dan ga karu-karuan lmao.

namanya agak-agak nganu tapi well, intinya "timeline" saya sebanyak ini memang



3. Translation

Maybe, entah ini boleh apa enggak sih haha. Jujur untuk translation lagu, saya ngerasa belum punya feelnya. Sedangkan untuk translation in progress yang lagi saya bikin (sumpah ini saking gabutnya), ya itu entah boleh dipost di blog ginian ato enggak. Pun hasilnya juga bakal ngebosenin banget sih. Paling saya post satu dua scanlation Detective Conan/Zero's Tea Time/Wild Police Story aja, kalo emang ada text translationnya di luar sana (SAYA BELUM SANGGUP TRANSLATE DARI JEPANG KE INDONESIA LANGSUNG PLS LOL)


4. Ngasah ilmu data science

Please do not trust my subtitle lmao. Intinya kalo saya lagi pengen nulis sesuatu dan pake ilustrasi data yang agak sedikit diatas sekedar tabel excel (misalnya pake interactive plot), ya jelas saya ga akan nulis di sini. Mungkin akan saya post di rpubs. Ga dashboard juga sih, jujur saya lupa caranya pake shinyapps. And I have no idea what did I make for my python project.

Did I just hear EMPAT PULUH JUTA TERBUANG PERCUMA MWAHAHAHAHAHAHA