May 29, 2021

Sherlock Holmes in Anime/Manga: 3 Recommendations

Semenjak Sherlock Holmes akhirnya jadi public domain di US (terlepas dari tarik ulur pihak-pihak berkepentingan dengan The Conan Doyle estate), akhirnya banyak lagi nih, adaptasi modern dari detektif fiktif yang memulai budaya "fandom" ini. When you thought 'Sherlock' series in BBC dan Sherlock Holmes movie are truly special snowflakes, tahu-tahu banyak aja adaptasi Sherlock Holmes bermunculan. Ada film populer netflix Enola Holmes, sampe yang terakhir adaptasi tentang the Baker Street's Irregulars.

Sebagai part of wibu (terlepas dari saya beneran diakui apa enggak lol), saya pengen bahas tiga anime/manga yang mengadaptasi Om Sherlock. Baik dari segi karakteristik maupun unsur, ketiga judul yang saya masukkan dalam list ini cukup terang-terangan mengadaptasi cerita Sherlock Holmes. 

Disclaimer: Buat Sherlockian mungkin jangan mengharapkan bahwa cerita Sherlock Holmes akan diadaptasi secara "kaffah" di dalam ketiga judul ini. Afterall, ketiga judul ini bukanlah Sherlock Holmes yang di-Jepang-kan, tetapi hanya pinjam unsur dari the legendary Sherlock Holmes karya Conan Doyle yang rilis dua abad lalu.


1. Kabukichou Sherlock (Case File nº221: Kabukicho (歌舞伎町シャーロック, Kabukichō Syarokku)



Berlatar tempat dunia modern Tokyo, Kabukichou Sherlock berkisah tentang seorang detektif di sisi Timur wilayah slump di Tokyo. Sherlock Holmes, tokoh utama kita, adalah salah satu dari enam detektif yang menjadi langganan Pipecat bar, sebuah bar merangkap rumah bordil detektif. Dari waktu ke waktu, Mrs. Hudson, transwoman pemilik rumah bordil, menerima permintaan dari klien yang datang dan meminta keenam detektif yang dimilikinya untuk berlomba memecahkan kasus yang dibawa sang klien dengan bayaran tertentu. Our central figure sendiri di sini diceritakan memiliki porsi ke"gila"an pada seni rakugo, yang selalu ditampilkan setiap ia menjabarkan pemecahan kasusnya.

Plotnya sendiri sebenarnya dikemas secara ringan, dengan kasus-kasus yang singkat dan relatif tidak terlalu mengajak penonton untuk berpikir. Bahkan menurut saya, kasus-kasus yang ditampilkan malah cenderung komikal. Berbeda dengan kisah aslinya, di serial ini lawan Sherlock Holmes kebanyakan justru adalah sesama detektif, sedangkan Moriarty sendiri justru terlihat dekat dengan Sherlock. Namun, sebagai pengikut Sherlock Holmes dari jaman Detective Conan dulu, saya malah jadi anxious sendiri melihat dinamika mereka berdua. Sudah banyak adaptasi Sherlock Holmes yang dibuat, dan ga satupun dari mereka membuat Sherlock berteman dengan Moriarty. 

I'm old enough to know that the creators ain't going to butcher the Sheriarty dynamics and twist them into friend "friend".



Dari segi artwork, sepertinya anime original ini memang bukan diarahkan untuk menggaet avid fangirl. Ga banyak tokoh-tokoh stan attractor di anime ini (jujur saya malah agak attracted sama karakter-karakter ceweknya). Jadi, kalau kalian mau ngikutin anime ini sebaiknya jangan diniatkan untuk cari cowok cakep. Pasarnya bukan buat itu, hehe. Tapi lumayan fresh sih, jarang-jarang kan anime yang bener-bener menunjukkan transpeople sebagai salah satu tokoh penting.


2. Ron Kamonohashi: Deranged Detective (鴨乃橋ロンの禁断推理 - Kamonohashi Ron no Kindan Suiri)



Keluaran teranyar dari judul-judul dalam list ini, manga ini masih kinyis-kinyis banget. Chapter pertamanya baru dirilis Oktober 2020 SECARA GRATIS di platform manga online official Shueisha, "Manga Plus". Chapter baru keluar setiap minggu, dan sampai tulisan ini dipost, chapternya baru jalan sebanyak 24.

Deranged Detective bercerita tentang Kamonohashi Ron, seorang detektif jenius yang dilarang praktek detektif. Meskipun terbukti berbakat dan selalu berhasil memecahkan kasus baik selama pelatihan akademi maupun selama menjadi penyidik, namun ia memiliki kelainan mental dimana setiap tersangka kriminal yang ditanganinya selalu berakhir bunuh diri. Ia akhirnya keluar dari persembunyiannya setelah Ishiki Totomaru, detektif sangat-biasa-biasa-saja meminta pertolongannya untuk menyelamatkan dirinya yang hampir disingkirkan dari kepolisian.

Kemiripan Deranged Detective di 12 chapter awal dengan Sherlock Holmes universe memang hanya seperti menempatkan dinamika Holmes-Watson ke dalam dua tokoh utama mereka, Ron dan Totomaru. Cara Ron dan Totomaru bekerja sama malah sekilas mirip-mirip dengan interaksi Conan-Kogoro dari serial Detective Conan. Namun, di chapter 13 akhirnya diungkapkan bahwa Ron adalah keturunan ke-sekian dari dua arch nemesis legendaris Britania Raya, Sherlock Holmes dan James Moriarty. Di sini baru terungkap, bahwa kelak Ron harus menghadapi keluarga Moriarty yang bersikukuh untuk membuat hidupnya sebagai half-Moriarty - half-Holmes, menderita.

Cover Deranged Detective chapter 22, menampilkan tokoh Winter Moriarty

Sheriarty dynamics become canon! :D

Setelah Katekyo Hitman Reborn dan Psycho Pass, tangan dingin Akira Amano - sensei lagi-lagi meluncurkan karakter-karakter yang aesthetically pleasing untuk dilihat. Meskipun belum bergerak, tetapi charm dari masing-masing karakter udah kerasa kenceng banget. Dari Kamonohashi Ron yang edan, Kawasemi Omito yang aneh, sampai the Moriarty family yang belum apa-apa sudah mengincar nyawa Ron dari ujung benua. 

Read the manga officially here: MangaPlus by Shueisha


3. Moriarty the Patriot (憂国のモリアーティ, Yuukoku no Moriaati)

Berbeda dengan dua judul yang saya sebutkan di atas, Moriarty the Patriot benar-benar membawa kita ke latar belakang Inggris Raya di abad 19, seperti latar belakang novel 'Sherlock Holmes' yang asli. Seperti judulnya, manga ini berfokus pada kehidupan Professor William James Moriarty, criminal mastermind musuh besar Sherlock Holmes. Sherlock Holmes yang muncul belakangan, akhirnya memang menjadi rival kriminal jenius ini.

First volume cover

Secara umum, Moriarty the Patriot sebenarnya merupakan mash-ups dari tiga cerita paling populer dengan latar belakang Inggris: Sherlock Holmes, James Bond, dan Jack the Ripper. Jadi, walaupun tokoh utamanya mengadaptasi dari tokoh-tokoh Sherlock Holmes, tetapi sebenarnya porsi cerita non-Sherlock Holmes nya malah lebih banyak.

Yang bikin beda adalah, di sini diceritakan bahwa William James Moriarty merancang kejahatan adalah untuk tujuan mulia mempersatukan bangsa. Ketimpangan yang parah antara kaum aristokrat dengan kaum pekerja akhirnya memaksa Moriarty bersaudara untuk menjadi the nation bad guy, musuh bersama satu negara. Cara story line author, Ryousuke Takeuchi merancang plot serta bagaimana Hikaru Miyoshi sang ilustrator menggambarkan emosi cerita, membuat kita somehow can appreciate their good deeds in conducting those crimes. Walaupun pada akhirnya, tujuan baik tetap tidak akan bisa menjustifikasi cara yang ga baik, sih.


Sorry bro, I just can't help posting this chapter cover bcs akjhnsmfka


Dan, somehow dinamika antara dua jenius Sherlock dan William akhirnya malah melahirkan the next hot OTP: Sherliam. Tension dalam rivalitas mereka, paralelitas di tengah dinamika yin-yang, sampai character development mereka sendiri justru malah membuat konflik di antara mereka terasa manis. Dari internal fandom MTP sendiri sebenernya mulai banyak yg komen "kok bisa sih pada ngeship Sherlock sama Moriarty". Tapi man, foe-to-friend-TP nyerempet-nyerempet BL kan seksi??? 

Anime cour 2 promotional image

Remember Sheriarty dynamics dari serial BBC, Sherlock?

Keunggulan Moriarty the Patriot yang paling kenceng, jelas adalah artworknya. Garis artwork Hikaru Miyoshi-sensei bener-bener ciamik dalam menggambarkan tokoh-tokoh klasik modern Inggris ini menjadi ikemen-ikemen yang memanjakan mata. Dari pria terhormat yang proper dan halus seperti William, urakan tapi kagetan seperti Sherlock, tipikal bapak-bapak pekerja keras seperti Lestrade, sampai cute, silent, namun cabe rawit seperti Fred Porlock. Selain itu, perkembangan plot ceritanya juga sangat cocok dengan selera thirsty fangirls penikmat BL. Sampai 58 chapter ini, walaupun so far belum ada konfirmasi BL, tetapi gestur tiap-tiap karakter cukup membuat fandom twitter menjerit dan berteriak "get a room already!"

Watch the anime officially here: 


May 26, 2021

Moriarty the Patriot: A Review

Kalau ada satu satu karakter manga yang saya lagi bucin banget-banget selama nyemplung di dunia peranimean ini, orang tersebut adalah Sherlock Holmes, karakter anti-antihero dari manga Moriarty the Patriot (Yuukoku no Moriarty).


Saya sebenernya mulai engage ke sini dari anime. Muse Asia kan nayangin full episode nya for free di youtube tuh, karena bosen akhirnya saya nontonlah anime yang saat itu masih ongoing. Walaupun saya ga mau mengklaim diri saya sebagai Sherlockian (penggemar Sherlock Holmes), tapi saya cukup paham bahwa Professor Moriarty adalah arch-nemesis dari Sherlock Holmes, detektif fiksi paling beken sejagat. Dengan judul yang sangat positif "patriot", yaudah saya kepoin deh tuh.


Belum selesai opening film, saya udah jerit-jerit lihat satu karakter berkaki panjang, dengan rahang super tajem dan rambut kuncir kuda awut-awutan ala samurai.





Alamak, ganteng kali parasmu Tuan. 

Saya waktu itu bahkan ga yakin mas-mas ini Sherlock Holmes apa bukan. Tapi saya sudah head over heel (hell) sama mas-mas yang entah baik, entah jahat, atau jangan-jangan malah alay ini. Untungnya, later saya find out bahwa mas-mas ini benar Sherlock Holmes :)

Karena fokus anime/manga Moriarty the Patriot memang bukan tentang Sherlock Holmes, jadinya ya Sherlock ini baru muncul di episode-episode belakang. Namun, selama saya ngikutin lima no-Sherlock episode pertama, saya suka banget dong sama anime ini? Ternyata anime ini memang bener-bener ngambil setting London akhir abad 19-an, persis seperti yang digambarkan Sir Arthur Conan Doyle di novel-novel Sherlock Holmes yang beliau tulis. 

Eksekusinya agak mengingatkan saya pada setting anime Black Butler/Kuroshitsuji. Ya technically memang settingnya sama sih, bahkan kasusnya juga ada yang mirip. After all, Kuroshitsuji anime season 1 kan memang banyak mengadaptasi kasus-kasus Sherlock Holmes. Mana Ciel Phantomhive juga kan sebenarnya jadi anjing penjaga Ratu dengan membasmi kejahatan lewat jalur "belakang", kan.

Seperti judulnya, di sini cerita difokuskan pada Professor Moriarty, seorang dosen matematika yang memiliki side job sebagai crime consultant. Namun, di sini diceritakan bahwa Moriarty menjadi criminal mastermind bukan semata-mata demi uang atau status, tetapi karena ia ingin menyingkirkan social gap antara kaum proletar dan aristokrat di Inggris Raya. Dari nonton beberapa episode aja, sudah jelas bahwa plot anime/manga ini mungkin akan berbeda dengan canon plot yang ditulis oleh Conan Doyle. Semacam baca fanfiction, tapi versi niat dan "resmi". Tapi meskipun ada twist seperti ini, saya tetep enjoy banget nontonnya. Apalagi ditambah dengan character design yang cakep banget,parah. 

Karena ketagihan dan ga sabar nunggu episode baru muncul tiap minggu, akhirnya saya beralih ke manga version.

Memang ya, magic-nya manga itu nyata kalau dibandingkan dengan anime. Selain ternyata ada beberapa cerita yang ga dianimasikan, ternyata dalam medium dua dimensi statis, momen-momen killer di anime yang sudah bikin jantung lemes pun, ternyata masih bisa di-elevate lagi menjadi ratusan kali lebih dahsyat. 


1. Plot

Secara teknis, Moriarty the Patriot (MTP) adalah mixed universe antara serial "Sherlock Holmes", "James Bond", dan kisah nyata Jack the Ripper. Jadi, walaupun tokoh utamanya minjem dari universe Sherlock Holmes, tetapi Ryousuke Takeuchi-sensei -- author MTP -- ga terlalu banyak mengadaptasi kasus yang ada di novel Sherlock Holmes. Statistically speaking, jumlah kasus original nya malah lebih banyak dari kasus adaptasi Sherlock Holmes. Plot development-nya kan memang harus di-tweak biar bisa memperkenalkan karakter-karakter pendukung cerita, makanya kisah 'filler'nya jadi banyak. Tapi I have no problem with it at all, karena cerita pendukungnya toh sebagus itu.

Lagipula, sebenernya belum semua cerita Sherlock Holmes dijadiin public domain kan. Mungkin tim produksi MTP mau menghindari perselisihan perkara copyright ini juga.

Secara umum, plot MTP terbagi menjadi beberapa arc besar dengan fokus ke masing-masing karakter baru. Saya ada buat tabel yang menunjukkan di arc mana certain characters pertama muncul (walaupun bukan exact chapternya, untuk detail kaya gitu lebih baik langsung ubek-ubek aja yuuori fandom wiki bagian "Characters".






Dalam mengembangkan plotnya, Ryousuke-sensei mengadaptasi beberapa cerita dari Sherlock Holmes canon universe. Karena adaptasi, plot di manga ini ya ga sama plek dengan plot karangan Sir ACD. Untuk mencocokkan dengan universe baru, beberapa detail cerita diganti dengan detail yang sama sekali baru, sehingga ceritanya tetap fresh walaupun nuansa "Sherlock Holmes"nya tetap sangat kental.

Beberapa cerita canon universe yang diadaptasi ke dalam manga "Moriarty the Patriot" antara lain:

  1. A Study in Scarlet (diadaptasi menjadi "A Study in S", Chapter 7-9)
  2. The Hound of the Baskervilles (diadaptasi menjadi "The Hunting of the Baskervilles", Chapter 10 & 11)
  3. A Scandal in Bohemia (diadaptasi menjadi "A Scandal in British Empire", Chapter 17-23)
  4. The Sign of Four dipadukan dengan 'The Adventure of Charles Augustus Milverton' (diadaptasi menjadi "The Sign of Mary", Chapter 40-43)
  5. The Final Problem (diadaptasi menjadi "The Final Problem", Chapter 48-56)
  6. The Adventure of the Empty House dipadukan dengan 'The Adventure of the Bruce-Partington Plans' (diadaptasi menjadi "The Adventure of the Empty Hearts", Chapter 57-ongoing) -- jadi belum bisa dipastikan beneran mengadaptasi atau engga

2. Artwork

Sebagai alumni Psycho Pass committee yang bertabur cogan, Hikaru Miyoshi - sensei sekali lagi menunjukkan taji-nya dalam membuat character design yang penuh pria tampan. Walaupun design nya mirip-mirip dengan karya beliau yang lain, tetapi tetap tidak mengurangi ke-mleyot-an saya memandangi tokoh-tokoh yang beliau ciptakan. Variasi design-nya cukup luas dan sangat match dengan karakter masing-masing tokoh, dari bangsawan elegan dan proper a la Albert Moriarty, detektif slengean dan tanpa tedeng aling-aling a la Sherlock, sampai tokoh bapak-bapak baik-baik dan pekerja keras seperti Inspector Lestrade.

Even the daddies are hot as fxxk.

William James Moriarty (left), Albert James Moriarty (right)
Charles Augustus Milverton
Adam Whiteley
George Lestrade (left) & Zach Patterson (right)

James Bond


3. Adaptasi Anime

Adaptasi Moriarty the Patriot to anime saat ini dipegang oleh Production I.G. Studio ini pernah menghandle banyak anime-anime besar, diantaranya ada: Haikyuu (all season), Kuroko's Basketball (all season), Psycho Pass (all season), dan Attack on Titan - Junior High. So far, anime produksi Production I.G. cukup memuaskan sih. 

Walaupun memang banyak sekali episode yang diskip, hehe. Saya bisa ngerti mungkin studio mau fokus ke chapter-chapter yang benar-benar inti, sehingga rata-rata episode filler memang diskip (nasib baik, setidaknya episode The Two Detective masih selamat). Serta untuk chapter-chapter yang karakter James Bond nya cukup dominan seperti episode Man of Golden Army, atau scene apapun yang berhubungan dengan MI6, mungkin ngurus perijinan-nya ke pemilik lisensi James Bond akan lebih ribet. 

Memang ga bisa dipungkiri bahwa magic-nya manga dan anime sangatlah berbeda. Saya sering lihat banyak akun yang membandingkan shot dari anime dengan actual referencenya di manga, dan betapa screenshot dari anime kok seringkali underperformed dibandingkan dengan manga. Kalau saya bilang sih, perbandingan seperti ini kok rasanya kurang fair ya.

Menurut saya, media audio visual ga seharusnya dinilai dan disandingkan dengan standar penilaian media statis. Magic nya anime itu kan sebenarnya bukan sekedar gambar manga yang dikasih warna. Di situ ada gestur bergerak dan background music, yang jelas akan hilang magic nya kalau disandingkan dengan manga yang diam. Belum lagi masalah teknis screencap-an yang kadang-kadang tidak ideal -- karena seringkali screencap yang diperoleh fans itu sebenarnya adalah bagian dari frame penyambung antara cut utama satu dengan cut point berikutnya, sehingga wajar bentuknya jadi awkward.





By the way, opening theme nya anti gagal. Baik cour 1 maupun cour 2 sama badai nya, enak-enak banget aslik!



Btw, kalian bisa nonton anime nya secara legal dan FREE di channel youtube berikut ini:


4. Fandom Life

Saya ga memungkiri, kehidupan fandom yuumori memang cukup kenyang bahan simp. Dari manga nya sendiri, fans sudah berasa "disuapin" dengan banyaknya panel-panel yang "menggiring" fans untuk mengasosiasikan dengan BL. Chapter-chapter filler seperti The Two Detectives dan The Adventure of One Student misalnya, penuh dengan interaksi golden antara William dengan Sherlock. Walaupun sebenarnya interaksi dua tokoh tersebut tergolong "safe", tetapi mata saya masih bisa nangkep bahwa tiga chapter tersebut adalah chapter fanservice merangkap chapter penghubung. 

Bahkan cover volume 14 pun, dibuat sangat "fanservicey", dimana Sher dan Liam berada dalam satu cover sambil secara "implisit" berpegangan tangan.

Bener-bener memancing imajinasi para fujoshi ya :)

So subtle, Hikaru-sensei.

Not complaining, though.

Selain itu, sang ilustrator sendiri cukup aktif mengepost konten-konten terkait Moriarty the Patriot. Beberapa postingan cukup menghebohkan jagat peryuumorian, sehingga lumayan efektif menciptakan buzz di jagat twitter. 

Selain fanartist yang juga ikut meramaikan konten, hal yang saya notice adalah akun RP Yuumori sangat aktif bikin konten. Saya gatahu aktivitas RP di fandom lain seperti apa, tapi di fandom yuumori RPnya sangat terorganisir. Ga cuma berinteraksi antar akun RP, mereka bikin cerita dan event sendiri, bahkan sampai bikin original character mereka sendiri. Ketika fandom yuumori lagi lumayan kering di awal tahun 2021, apalagi di tengah-tengah bulan ketika next chapter masih jauh dari pandangan, mereka berperan banget dalam menghapus dahaga para fans (saya). 

Dengan konten yang sebegini padat, saya belum pernah nyimak apakah Yuumori pernah trending atau engga. Yang jelas kalo di dalam echo chamber saya sendiri sih rame ya. At least sekarang akun autobase Yuumori (@moriartyfess) sudah menyentuh follower count di angka 11.200an. Masih jauh dari huge fanbase seperti Haikyuu atau Attack on Titan, but the progress is actually not bad at all? Ketika cour 1 selesai bulan Desember lalu, seingat saya follower count nya masih di angka 3000an. 

Walaupun nyebelinnya, jadi banyak banget pertanyaan yang sama berulang-ulang karena banyak follower baru. Well, itu harga yang harus dibayar sih, jadi ya telen aja lah. Ga baik juga ngatur-ngatur hobi orang, bukan.


Konklusinya,

Kalau kalian suka Sherlock Holmes, James Bond, dan Kuroshitsuji, kalian akan sangat mungkin suka dengan serial ini. Cuma memang harus di-note, bahwa karena Moriarty the Patriot ini adalah anime adaptasi, bukan anime dari Sherlock Holmes official, jadi kalian mungkin akan banyak nemu hal-hal yang melenceng dari canon universe nya.

Well, Moriarty dibuat "baik" pun sebenernya sudah melenceng sih. :D


Apr 30, 2021

Detective Conan Movie 24 - The Scarlet Bullet: A Review

Setelah tertunda satu tahun penuh, bahkan sampe bocoran Movie 25 keburu keluar dan bikin heboh, akhirnya film ke-24 Detective Conan resmi tayang juga. Jadwal naik siar The Scarlet Bullet di bioskop Indonesia memang mundur seminggu dari jadwal Jepang, but regardless, yay akhirnya nonton juga!

Mungkin karena filmnya ketunda setahun, tapi ekspektasi saya terhadap film ini memang lumayan tinggi. Wajar dong, secara tim produksi The Scarlet Bullet sampai bikin film pemanasan untuk mengantar fans menuju film yang berfokus ke salah satu klan terkuat di universe Detective Conan ini.

Poster The Scarlet Alibi, prologue film untuk The Scarlet Bullet

The Scarlet Bullet (名探偵コナン 緋色の弾丸 - Meitantei Conan: Hiiro No Dangan) bersetting di sekitar pelaksanaan event World Sport Game (WSG) Tokyo. Ga butuh ilmu deduksi selevel Sherlock Holmes buat menebak bahwa acara ini adalah pelesetan dari Olimpiade Tokyo yang juga tertunda satu tahun (dan entah jadi entah tidak)

Poster movie The Scarlet Bullet


Cerita bermula di pesta perayaan peluncuran kereta peluru (shinkansen) tercepat di dunia, yang akan diluncurkan tepat di hari pembukaan stadion World Sport Game. Di tengah acara, tiba-tiba salah satu sponsor WSG, Presiden Suzuki Shiro (Papa nya Sonoko) menghilang dari pesta. Presiden Suzuki pada akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat (cara nemuinnya agak lucu btw, haha), namun FBI sadar bahwa kasus penculikan ini sangat mirip dengan kasus penculikan serupa, yang terjadi sebelum World Sport Game Atlanta 15 tahun lalu. Dengan petunjuk dari Kogoro Mouri yang direkrut untuk mengamankan salah satu sponsor VIP, Conan akhirnya menyimpulkan bahwa penculikan berikutnya akan terjadi di tepat di hari peluncuran shinkansen.

Poin menegangkan pertama muncul ketika tiba-tiba rumah sakit tempat peserta test drive diserang. Ai langsung sadar bahwa kebocoran gas tersebut adalah peristiwa "quenching" , yaitu bocornya kandungan helium pengatur suhu peralatan MRI ke udara lepas, yang kemudian me-replace kandungan oksigen di udara (plis saya juga ga paham konsepnya, langsung klik hyperlink aja deh). Karena kehebohan tersebut, seluruh peserta dibuat pingsan (termasuk our tiny central figure), dua orang VIP menghilang, dan acara test drive pun dibatalkan. By the way, kali ini Conan agak hah hoh, ga tahu quenching itu apa. That's new, wkwk.

Conan yang ngotot mau jadi hero dan memecahkan kasus, akhirnya nekad kabur dari pengawasan Ran begitu ia sendiri sadar (SUDAH BIASA). Ia bekerja sama dengan Okiya Subaru mengejar penculik yang kabur ke arah kawasan pergudangan. Di saat bersamaan, mereka berdua diikuti oleh Mary dan Masumi Sera. Subaru yang tiba duluan, langsung dihajar dua perempuan ganas ini, sampai topengnya robek terkena tendangan. A blessing for us, karena dengan ini akhirnya kita bisa melihat Akai Shuuichi dalam muka aslinya. Yum!

Conan yang tiba-tiba muncul akhirnya menyelamatkan Subaru, walaupun Mary, yang notabene adalah sesama korban APTX 4689 yang tubuhnya mengecil, malah bersembunyi dan berkeras untuk tidak menemui the shrunken Kudou Shinichi. 

Well, dengan ini canon plot di manga tetep tidak terganggu ya gaes.

Anyway, kejar-kejaran antara #TeamConan dan #TeamCulprit tetep berlangsung, sampai akhirnya kedua kubu ended up berakhir di shinkansen yang kini kosong. Pokoknya, Conan dan Masumi akhirnya memecahkan kasus. Case ended!

Not that easy, Dovisiozo.

Ternyata terpecahkannya si kasus ini justru malah menjadi pemicu dari insiden dan adegan menegangkan. Kalian ngerti bagaimana galaknya macan kalau tersudut? Nah itu dia yang membuat situasi akhirnya escalated in lightning speed.

And Dee be like, yay. Akhirnya seru juga.

For real, entah karena timing saya nonton itu pas waktu buka banget jadi laper, tapi selama nonton saya ga nemu adanya wow factor yang bikin saya deg-degan atau apapun itu. Bahkan ketika Cone semaput, terjebak di tengah quenching pun, saya cuma "oh oh" aja. Sudah dua puluh tahun ngikutin Conan, saya udah sampe di tahap dimana kalo Conan celaka tuh udah biasa, karena main character pasti selamat dong (I do hate your plot armor, Aoyama sensei)

Apalagi trik yang dipake kok rasanya ndakik-ndakik banget. It does make sense untuk ukuran tahun 2021, tetapi terasa kaya nembus langit banget gitu loh. 

Tapi yang jelas, faktor yang paling bikin saya mendelep adalah karena saya sempat ketipu teaser. Saya kira kasusnya bener-bener terjadi di tengah event WSG. Coba, kebayang dong ada kasus berbahaya di saat aset penting negara-negara di dunia lagi berkumpul di satu tempat? Mungkin ini juga salah satu hal yang bikin film ini terasa agak ga sesuai ekspektasi, karena ternyata yang nyawanya terancam bukan atlet terbaik dunia, tetapi "cuma" sponsor event dan a handful of local lucky winners yang terpilih untuk test drive shinkansen dari Nagoya sampai Tokyo. 

(Sepertinya saya akan dibantai SJW kalau sampai mereka baca ini -- ALL LIFE MATTER!)




Tapi terlepas dari segala ke-datar-an conflict development di film ini, tapi saya mau kasih kredit dan standing applause buat tiga orang: Haibara Ai, Sera Masumi, dan Haneda Shuukichi. Mereka bertiga bener-bener dapet quality screen, like yang sekalinya muncul tuh yang cakep-cakep gitu loh part dan moment nya.

Oh, dan Mary Sera though.


TO SUM UP! 

Untuk film yang ditunggu-tunggu sampai dua tahun dan kru sampe went all out bikin prefilm,The Scarlet Bullet ini terasa agak membosankan buat saya karena:

1. Umur serial udah terlalu lama dan predictable, sehingga ketika nyawa main character terjebak dalam bahaya pun, efek menegangkan gagal muncul 

2. Trik yang digunakan kurang "membumi", sehingga kurang relate dan kurang engaging buat penonton.

3. Saya pribadi ketipu teaser

4. Saya nontonnya pas laper, jadi any slight discomfort got elevated way too exponentially. 


PS: Jangan beranjak keluar sebelum kalian nyelesein credit scene. Ada adegan yang lumayan bikin akerjgnrgafd


Apr 11, 2021

Attack on Titan: A Review by Anime-Only Follower

Saya pribadi pertama kali mendengar ada barang namanya Attack on Titan di fandom Chen. One of my list people kebetulan memang nyabang jadi anime account, jadi ya ga heran kalau dia sering bawa drama anitwt ke list saya. Sempat terlupakan, akhirnya si judul balik lagi ke perimeter pandangan saya ketika saya akhirnya benar-bentar pindah haluan jadi anime fan. Apparently Attack on Titan ini populer banget di Indonesia, saya lihat akun autobase nya termasuk top 3 paling aktif setelah Haikyuu dan JPFbase


Dasar pengen edgy, kalo banyak yang ngikutin gitu saya malah males mau ikutan nonton. Saya menghindar-menghindar dulu dari anime tersebut untuk eksplor judul lain. Tapi emang dasar jodoh, akhirnya nemu aja trigger yang bikin saya ended up ga tahan untuk kepo.

Like, saya udah join channel tele anime anyway (hidup bajakan, gua males daftar-daftar dan install-install aplikasi lagi). Jadi kalo mau ngikutin ya sebenernya just one click away toh.
 

First Impression:

...

Impression no. 00

Balik dulu deh. Sebelum saya resmi start ngikutin Attack on Titan (Shingeki no Kyojin) ini, saya sebenernya udah sempet terekspos sama ini Isayama punya gawe. Kan ceritanya pas akhir tahun Indihome lagi ngebuka semua channel tuh, gratis. Akhirnya saya bisa akses Animax kan, dipuas-puasin deh tuh, nonton anime yang biasanya gabisa saya akses. Pas banget, waktu itu Attack on Titan final season memang lagi tayang. Karena penasaran, akhirnya ya saya ikutin lah ini anime sambil nyetrika.

OP film: Nyah. Boring soundtrack

The episode: Lah katanya film tentang giant/titan, kok ini malah isinya bocah-bocah ikut pelatihan militer? Ini ngapain mereka kok malah nyamar jadi pelayan?

Art work: Gaada cogan nya nih?

Singkat cerita itu anime ga menarik, akhirnya saya abaikan itu episode dan fokus pada setrikaan saya yang setinggi dosa.

 

Sorry for treating you wrong, Gabi & Falco :")

Tapi kan emang dasarnya anime populer ya, jadi kontennya lewat-lewat terus tuh di timeline saya. Pokoknya akhirnya saya jadi nangkep satu catchphrase yang sering dipake wibu-wibu AOT: Sasageyo. Karena di saat yang bersamaan saya akhirnya balik lagi masang playlist anime soundtrack jadi default life-BGM, saya iseng lah cari kata kunci itu di youtube. Dapet lah: "Shinzou wo Sasageyo: Attack on Titan OP"

Anjing, enak banget lagunya.

Pun OP1-nya: Guren no Yumiya


Back to: First Impression

Berlanjut dari soundtracknya yang bertengger di my personal best anime soundtrack, my at time favorite Moriarty the Patriot udah selesai cour 1, dan ga sengaja keputer podcast yang bahas AOT -- akhirnya ya saya nyemplung lah. Sempet jiper lihat episode yang udah terlanjur banyak, tapi yaudah saya sabar-sabarin aja, walaupun banyak episodenya udah kaya penghuni neraka.

Ternyata

Asik banget dong? Like, it's just all-rounded, equally excellent in all aspects?  

Attack on Titan poster: Season 1
 

The original premise udah cukup menarik, dimana umat manusia harus berperang melawan raksasa-raksasa pemakan manusia. Saya belum pernah lihat premis perang-manusia-vs-makhluk-serba-superior dijadikan sebagai main-plot serial yang kontinyu. Ga cuma itu, di sini manusia ya tetep manusia aja, bisa mati, tetap kecil, dan ga punya power apa-apa. Mereka bener-bener cuma punya peralatan perang standar seperti meriam, pedang, dan peralatan manuver. Kebayang dong harus melawan titan pemakan manusia segede rumah?

Main Character & Plot Development

Saya sempet punya masalah sama main character-nya, Eren Jaeger (ato Yeager sih tulisannya gua bingung). Saya kan orangnya risk averse ya, jadi pengennya orang tuh diem-diem aja gitu loh gausah kebanyakan aneh-aneh. Nah, Eren ini (seperti layaknya semua main character anime sih sebenernya) ambis banget pengen ngalahin Titan. He did have past grudge sih, karena distrik kampung halamannya habis diserang, serta emaknya sendiri meninggal dimakan Titan (ternyata Titan yang makan emaknya ini nganu- pokoknya ngeselin deh), sehingga dia harus menjalani sisa masa kanak-kanak nya cuma bertiga-tiga doang bareng Mikasa Ackermann dan Armin Arlelt, temen mainnya.

Eren Jaeger, Season Final

Tapi walaupun MCnya menyebalkan, somehow saya masih bisa lanjut nonton karena memang secocok itu sama komposisinya. Plot dan character kan jelas udah ga menye-menye tuh ya. Ditambah lagi konfliknya selalu rame, entah main conflict di arc/season nya maupun berantem-berantem kecil yang terakumulasi jadi bumbu penyedap yang makin menambah warna di main plotnya. Plot "berat" di anime ini bukan cuma padat akan konflik dan plot development. Kita juga disajikan beberapa dialog retoris yang lumayan mind-blowing, yang membuat kita mempertanyakan kembali apakah ideals yang selama ini kita pegang bener-bener sesuai.

Anime ini juga ga pelit humor, sehingga sesekali kita penonton masih dikasih break di tengah-tengah plot yang berat. Artwork-nya sendiri menurut saya standar-standar aja, ga yang ganteng/cantik banget tapi hamdalah ga shonen yang menjurus "jelek" juga.

Levi Ackermann, character dengan simp paling banyak sefandom AOT

Angst

Satu lagi hal yang saya notice adalah, bagaimana creator AOT bener-bener ga sayang karakter. In the sense of, dia ga segan-segan untuk mematikan karakter-karakter yang populer. Jadi fit aja gitu kan, toh namanya tentara emang udah umum kalo mereka bekerja untuk mati. Seringkali yang baper justru fans nya, kenapa X mati kenapa Y mati (kebetulan comfort character saya di serial ini juga dapet giliran 'itu', hiks).

Erwin Smith, official hot dadda of thirsty fangirls

Watching Experience

Anyway, saya akhirnya selesai maraton semua serinya (4 season - 5 cour, 5 OVA) hampir bersamaan dengan selesainya Final Season cour pertama. Ga merasa tertekan ataupun capek sama sekali, karena walaupun banyak konflik, tetapi setidaknya ga banyak character yang dibuat super-aggravating. Saya inget betapa saya ngerasa "beban" banget pas nyelesein Code Geass, karena plot mereka yang berat itu dibarengi dengan karakter-karakter yang juga bikin emosi banget almost all along the story. (Note on the plural from of "karakter", yes memang jumlahnya banyak) Di AOT ini, bobot cerita bener-bener mostly fokus ke plot, sehingga karakter yang muncul sih jatohnya kebanyakan masih bearable. You can't really hate anyone, even the nastiest arc antagonist macam Rod Reiss atau Beast Titan. 


Kinda remind me of my experience when watching Full Metal Alchemist: Brotherhood sih. Cuma yg AOT ini less stressful aja moral dilemma nya.
 

Recommended? Hell yeah. Saya aware bahwa ada beberapa selentingan yang bilang "Attack on Titan ini propaganda normalisasi Nazi", karena karakternya dikasih nama berbau Jerman dan ceritanya di sini memang pihak yang powerful menindas pihak yang lemah. Tapi...masa sih kalian selugu itu dan ga bisa ngefilter nilai-nilai buruk yang muncul di anime?

Apr 5, 2021

Why My Exercises Failed to Cut Down My Body Weight

Ngomong-ngomong, semenjak saya jobless, saya jadi punya rutinitas baru. Selain the obvious ngerjain pekerjaan rumah tangga, saya jadi punya banyak waktu untuk olahraga.

Yes, you're right. Your lazy ass girl akhirnya olahraga.

Tadinya bermula dari feeling dejected over my ugly body -- like orang ga kerja kok makin jelek, miskin, gendut, mana hidup lagi. That's when I start my new target: to have my fat-ass lose 5 kgs by January 2021.

Spoiler: Saya gagal wkwk.

Tapi setidaknya saya jadi memulai kebiasaan baik baru, yaitu dengan menggerakkan badan saya secara intens setidaknya 30 menit setiap hari. Saya start bulan September, dan kebiasaan ini masih saya lakukan sampai sekarang. Sampai tadi pagi, at least.

Starting off to lose weight, saya coba maintain kebiasaan ini dengan mencari-cari alasan bahwa "saya butuh kehangatan". Tinggal di Megamendung, udaranya lumayan dingin apalagi musim-musim labil begini. Karena saya ga suka kedinginan, dan Kanjeng Ibu Suri pasti ga suka lihat saya selimutan siang-siang, akhirnya ya...ini lah caranya.

Awalnya bener-bener nyiksa. Saya start dari video-video workout Emi Wong yang pendek-pendek (durasi 15-30 menit), dan saya udah mau nyerah di 5 menit pertama. Saya baru tahu kalo SQUAT DOANG TUH CAPEK BANGET? But later the self-afflicted pressure take over dan akhirnya saya rutin olahraga tiap hari. With some resting days, of course.

Karena saya mager mau lari keluar, akhirnya saya fokus ke workout indoor. Banyak banget variasi yang bisa saya pilih, tutorialnya juga bertebaran di youtube, saya tinggal ngikutin aja di depan HP/TV sambil pake baju tidur. Ga repot-repot ganti baju olahraga, yang penting pake bra yang proper aja biar dada ga sakit ketika bergerak, hehe.

Saya ga bikin jadwal sama sekali. Mumpung lagi on my own, saya ga mau membatasi diri hanya mau olahraga A, B, atau C. Yang penting sehari setidaknya setengah jam bergerak, saya ga masalah mau hari ini olahraga yang mana. Saya lakukan sebentar-sebentar aja, bahkan kadang-kadang kalo lagi males saya merasa cukup dengan workout in bed. Soalnya kalo dipaksa dijadwal lalu ternyata besokannya ga mood, atau badan terlalu sakit buat ngikutin jadwal, kan jadi counterproductive. Saya sadar punya kelemahan, saya gampang jijik dan benci sama diri sendiri ketika saya ga patuh atau bikin salah. Makanya daripada niat sehat malah jadi racun, ya mending saya angkat aja restriction-nya. Toh ini bukan perkara hidup mati orang lain anyway.

Setidaknya sudah ada enam jenis workout yang lumayan rutin saya ikutin. Ada senam aerobic/zumba, dance, yoga, pilates, barre, dan circuit/interval workout. 

 

 

Ada dua alasan kenapa saya melakukan banyak jenis workout. Pertama, biar saya ga merasa terbebani dengan tuntutan apapun, walaupun hal tuntutannya datang dari diri saya sendiri. Kedua, karena dari yang saya baca, fokus exercise yang itu-itu aja akan membuat tubuh kita jadi masuk plateau mode, alias terlalu terbiasa dengan tekanan. Jadi efek olahraga yang kita lakukan akan semakin memudar kalau kebanyakan diimplementasikan(walaupun belakangan saya baru tahu bahwa level workout saya sebenernya ga cukup untuk membuat plateau, jadi kalaupun saya olahraganya itu-itu aja sebenernya ga akan plateau, paling bosen aja).

Lah kok masih gagal, berat ga turun?

Well, saya baru-baru ini tahu kalau ternyata porsi olahraga saya selama tujuh bulan ini intensitasnya bener-bener cuma di batas minimum yang dianjurkan. Untuk menurunkan berat badan kan setidaknya kita harus olahraga 60-90 menit per harinya. Sementara saya, olahraga 30 menit aja udah nepuk dada :D  

Selain itu, saya baru sadar kalau sebenarnya olahraga yang saya lakukan baru sebatas kardiovaskular alias aerobic, yang tujuannya untuk melancarkan peredaran darah, memastikan oksigen tersebar ke seluruh sel-sel di tubuh secara merata, serta meningkatkan stamina secara keseluruhan. Kalau mau menurunkan berat badan, saya harusnya nambah satu menu lagi yaitu weight-lifting sebanyak setidaknya dua kali seminggu.

Kenapa? Karena kalo memang tujuannya menurunkan berat badan, kita bukan cuma harus banyak bergerak, tetapi juga harus memastikan "pentium" badan kita memang berada di level yang bisa memproses kalori lebih banyak.

Jadi gini, ternyata energi yang kita spend dalam proses berolahraga itu sebenernya cuma ngasih dampak sekitar 10% dari total penggunaan kalori kita perhari. Ga banyak bedanya terhadap penggunaan energi, mau kita olahraga atau tidak (apalagi level olahraganya receh-receh kaya saya).

Lha terus tubuh kita mengeluarkan energi untuk apa?

Ya untuk hidup sebagai a functioning entity. 

Metabolic adaptation to weight loss: Implications for the athlete
 

Resting Energy Expenditure (REE), alias proses kita bernapas, jantung berdetak, otak bekerja setiap harinya itulah yang ternyata paling banyak menghabiskan kalori setiap hari. Jumlah kalori dari REE yang kita spend berbeda-beda setiap orang, tergantung massa tubuh dan level BMR (basal metabolic rate) tubuh yang dimiliki. Orang dengan massa tubuh dan BMR lebih besar akan menghabiskan lebih banyak kalori just simply by being alive.

Massa tubuh sendiri sangat banyak tergantung pada hal-hal yang ga bisa kita atur (panjang dan ukuran tulang, ukuran otot dll). Tetapi, kita masih bisa mengupgrade "performance mode" tubuh kita agar bisa menggunakan kalori lebih banyak. Kan kalau tujuan kita adalah menurunkan berat badan, kita butuh calorie deficit ya. Nah, dengan membentuk tubuh kita menjadi high-performing mode (BMR tinggi), maka kita akan menggunakan kalori lebih banyak di bagian yang bener-bener signifikan, aka REE ini. Nah, cara meningkatkan BMR ini adalah dengan meningkatkan proporsi berat otot (muscle mass) terhadap berat lemak (fat mass) yang ada di tubuh kita. 

Caranya? Ya weight lifting, or any kind of strength training.

Penjelasan kakak Justina Ercole ini mudah-mudahan membantu.

Damn, padahal udah nahan-nahan gamau beli barbel. Kayanya ujung-ujungnya tetep harus beli juga ini sih.