Aug 3, 2021

List of sport anime I've followed: Part 2

Masih di era per-wibuan (padahal wifi gratis rumah udah dimatiin idk how I still doing this), watched list anime saya makin banyak -- walaupun sebagian besar masih muter-muter kalo ga di sport, ya crime-action-mystery genre.

Kelanjutan dari postingan ini, tahu-tahu saya sudah mendarat lagi sekian banyak anime sport lain. Beberapa bagus, beberapa b aja, beberapa meh, ada juga yang pending –ga berani bilang drop karena physically itu filenya masih ada di handphone saya dan mana tahu saya gabut banget dan punya cukup mood untuk nonton ulang judul-judul tersebut kan :D

Ada 6 judul, yang akan saya urutkan dari yang paling whatever (so so) sampe yang paling bagus. Untuk yg masih pending, saya taruh di paling bawah aja karena I don't think their creator deserve that much voice out bahwa karya mereka 'jelek'.

Soalnya kan ini lebih ke masalah selera ya.

 

6. Backflip (Bakuten)



Saya pertama aware tentang anime ini ketika lihat daftar seiyuu nya. Agak shocking melihat isinya seiyuu main character dan karakter besar semua, edan.

FFFFFFUUUUUUUUUUUU LOOK AT THEM NAMES

Ekspektasi tinggi di awal memang merusak kenikmatan menonton. Makanya, faktor ini lah yang akhirnya membuat pengalaman nonton saya jadi agak, eh... kok gini doang?

Setting cerita: tim olahraga yang so-so.

Protagonist: skill biasa-biasa aja.

Deuteragonist: skill mandraguna.

Plot: Meraih mimpi untuk menang kompetisi.

Di tengah: ada konflik yang namanya cedera.

Intinya: typical dari ujung kepala sampai ujung kaki, alias klise.

Dan dengan jumlah episode cuma 12, saya juga ga bisa ambil banyak pelajaran mengenai rhytmic gymnastic itu seperti apa. Ilmu-ilmu teknikal, strategi buat menang, hal-hal baru yang biasanya saya dapet dari sport/game anime, semuanya bener-bener diomongin selewat doang, barely even there. Plotnya bener-bener fokus ke perjuangan anak-anak ini, dan bagaimana mereka pengen menang.

I feel like the script writer barely spend any effort to make their script at least look original? I had watched countless of plot precisely like that, I can correctly guess what will happen in the next minutes, and what their next struggle will be.

Kalau saya mau tarik sisi positifnya dari anime ini adalah: opening theme nya endeus banget. Tipe-tipe yang upbeat, tapi kalem dan effortless


Personal score: 2.5/5 

Stream this anime legally in: Youtube


5. Skate-leading stars



Saya mendarat di anime ini karena kesalah pahaman: saya kira anime ini adalah anime populer yang banyak banget simbol infinity(∞) nya seliweran di timeline. Sebuah kegoblokan yang hakiki memang.

Skate leading ternyata adalah olahraga ice skating fiktif –dalam arti kejuaraannya ga beneran ada. Selama ini kan yang ada figure skating solo dan pair, nah ini beregu. Satu tim melakukan gerakan-gerakan dan formasi, kemudian dinilai berdasarkan teknik, tingkat kerumitan, dan aspek-aspek lain layaknya penilaian figure skating biasanya.

I'd say the plot is leaning toward cliche-ish spectrum: tentang seorang mantan atlet yang pensiun karena 'mentok', terus balik lagi ke olahraga tersebut dan getting back his old resolution to win. No actual plot twist juga, overall klise dan bisa ditebak. Tapi yang saya suka, setidaknya plot yang standar itu eksekusinya jauh lebih kompleks, deep, dan engaging.

Hal pertama yang membuat saya lebih puas nonton ini daripada Bakuten adalah, main charactersnya ada satu yang menarik. I am a simp of smart and bold, loud character, dan saya dapet 'sunshine' itu dari karakter deuteragonist: Hayato Sasugai.


My love Hayato <3


Between the typical protagonist yang Naruto-ish (too fire-y) dan karakter rivalnya yang typical perfect genius (borderline boring character), Hayato ini nih yang akhirnya menyelamatkan ini anime. He’s a walking database, he’s analytical, he’s a genius strategist. He’s cheerful too, in a ‘wind’-ish way (bukan yang api, main serudak seruduk kaya our protagonist). Tipe kakdee bangettt T_T

This does matter, karena nonton anime kan memang lebih nyenengin kalo ada karakter yang bisa kita gemes-in wkwk

Semakin banyak episode yang diputar, ternyata sekaligus membuka juga lapisan-lapisan bawang dari para karakter, yang lumayan membuat plotnya jadi semakin 'berbumbu'. Selain kita jadi tahu cerita dibalik dua bersaudara jenius, kita juga dikasih lihat bagaimana karakter-karakter lain juga berjuang sama kerasnya untuk tumbuh. Jadi plot dan developmentnya ini ga cuma berpusat ke main character dan drama rivalitasnya yang dia alami aja. Despite those details, scriptnya sendiri ga terlalu mengulik dalam dan mengharu biru ke history karakternya ini, sehingga main plotnya ga terlalu dragging. Lumayan padat dan seimbang untuk anime yang selesai di 10 episode - satu season aja.

Afterall, racikan bumbu kan ga boleh overpower the main ingredients ya. Hal tersebut sangat berlaku di anime ini – plot yang biasa aja dikemas dengan rapih sehingga hasilnya berakhir cakep.

Personal score: 3.5 / 5

Stream this anime legally in: Youtube

 

4. Kakegurui


Note: Di anime ini banyak permainan berbahaya, sehingga anak-anak sebaiknya jangan nonton ini dulu.

Nemu anime ini di rekomendasi random anitwt yang lewat, saya kepincut dengan review yang menyebutkan bahwa 'strategi permainannya membingungkan tapi seru walaupun ga ngerti'. Sebagai orang yang ngakunya punya intelegensia tinggi dan able to strategize, tentu saya merasa tertantang dong nonton ini. Mind game when you can exploit the rule? YES I'M IN!

Hal pertama yang menarik mata saya adalah background cerita yang tidak biasa. Hyakkaou Private Academy yang menjadi latar cerita, diceritakan adalah sekolah khusus untuk kalangan elit. Namun, status sosial murid-murid di dalamnya ternyata tidak ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi oleh skill mereka dalam game dan judi. Siapapun yang paling jago, dialah yang menduduki kasta sosial paling atas. Dari setting kaya gini aja saya udah langsung excited, anjir ini anime berani banget >< Which actually make sense because afterall, real life politics also involves bajillions of mind game kan.

Protagonist kita Jabami Yumeko, diceritakan adalah murid perempuan pindahan yang berpenampilan manis dan naif. Namun, Yumeko mendadak menghebohkan seisi sekolah setelah mengalahkan Momobami Kirari, anggota komite sekolah. Attitude permainannya yang berfokus pada thrill (bukan berorientasi untuk menang), serta gaya bermain yang nekat dan berani mati akhirnya memberi warna di setiap perkembangan plot cerita.

Tiap-tiap episode rata-rata menceritakan tentang bagaimana Yumeko menantang orang-orang berbakat di Hyakkaou. In a way, plotnya sebenarnya relatif sederhana dan ga banyak twist. Namun, detail permainan di dalamnya itulah yang bikin sensasi nonton anime ini jadi seru dan menantang otak. Tidak hanya peraturannya yang terkadang rumit, bagaimana para pemain memanipulasi rule nya ini juga sering kali ngasih the biggest fuck you ke tingkat kecerdasan kita. In the sense of, KOK BISA PERMAINANNYA DIPELINTIR JADI BEGITU?

Hal menarik yang juga saya temukan dari anime ini adalah, animasi nya agak menyebalkan. Saya sering menemukan animasi yang borderline disturbing, hideous even, tapi somehow memang mendukung konteks cerita, karakter tokoh, dan suasana cerita. Lebay but in a necessary way gitu loh.


Kalo versi screencapnya aja sudah annoying, trust me versi bergeraknya jauh lebih aggravating


Satu hal yang agak bikin letdown adalah bagaimana season pertama diakhiri. Jujur, permainan di episode final ini diakhiri dengan agak lame, ga sebanding dengan thrill yang sudah ditampilkan di episode-episode sebelumnya. Tapi siapa tahu ending yang nanggung ini jadi bridge yang cakep untuk season II: Kakegurui XX?  

 


Personal score: 4.0/5


3. Free!

Pertama aware sama anime ini dari meme kembaran Kageyama yang banyak beredar di Twitter. Meme ini basically cuma sekumpulan karakter rambut gelap yg poninya bentuk huruf M (ada Kanbe Daisuke (The Millionaire Detective – Balance Unlimited), Kageyama Tobio (Haikyuu!), Uenoyama Ritsuka (Given), dan Nanase Haruka (Free!)), yang kayanya jadi template design karakter cool (yang borderline goblok). Ternyata ini anime udah lumayan lama, rilis pertama kali tahun 2013. Ini adalah serial anime original, sehingga agak ngerepotin untuk late follower kaya saya karena gaada manga nya (gabisa shortcut dengan baca versi lebih kuota-friendly wkwk).


Untungnya watching experience nya worth my time, kuota, and memori hape sih.

Dari yang paling gampang, character design dulu ya. Untuk anime sport renang, sudah bisa dipastikan penonton akan dapet banyak banget konten fanservice berupa cowok-cowok cakep bertelanjang dada dengan abs roti sobek yang terukir sempurna. Desain seperti ini tentu saja konsisten dari awal sampe installment terbaru (yang saya sempet tonton at least), dengan sedikit penyesuaian di installment ‘Starting Days’ (throwback ke setting ketika para karakter masih SD – tentu saja abs nya ga dibuat se’defined’ masa puber). Kalo lihat teaser nya, sepertinya di installment final juga karakternya digambarkan dengan desain wajah yang lebih dewasa sih. But still good looking, regardless.





Namanya juga tim renang ya Pak. kalo mau tertutup mah namanya kendo atau fencing :)


Characterization nya juga cakep, ga banyak karakter annoying yang bisa ‘dibenci’. Kalaupun ada yang agak-agak menyebalkan, begitu kita persevere long enough (for the sake of karakter lain, misalnya), ternyata dibuka juga alasan kenapa karakter tersebut menyebalkan. Ya mungkin ini kebantu karena ini kan anime panjang ya, jadi banyak ruang buat mengungkap layer-layer, background story seluruh karakter. Season anime yang panjang memang membantu banget sih, buat menyeimbangkan drama masa lalu karakter dan perkembangan current main plot. Hal ini sebenernya not unexpected untuk anime yang sudah berseason-season, karena ya buat apa episode panjang-panjang kalo ga untuk menggali sebanyak mungkin karakter secara mendetail kan. Jadi walaupun fokus cerita tetap berpusat pada protagonist Nanase Haruka, tetapi supporting character lainnya juga dapat spotlight lumayan banyak. In return, detail-detail seperti ini membantu kita untuk memahami karakter Haruka juga sih.   




Karakter 'antagonis' di setiap season biasanya beda-beda, sehingga konflik yang dimunculkan di tiap season selalu fresh. Misalnya season 1 fokus pada rivalitas Haruka dengan Matsuoka Rin, sedangkan season 3 lebih banyak membahas hubungan Haruka dengan Kirishima Ikuya. Untuk season final (movie), sepertinya akan meng-highlight persaingan Haruka dengan semua rivalnya dari season 1 sampai season terakhir. Lumayan cakep sih urutannya. Sayangnya ini movie ga akan rilis di Indonesia hiks T_T.



Btw ending clip nya yg season 3 gemes banget dong :D


Personal score: 4.2 / 5

 

Dua anime terakhir adalah sharing Top 1, saya gabisa nentuin mana yang lebih bagus karena suka banget sama dua-duanya >< 

1/2. Yuri on Ice



Tau anime ini udah lama banget, tapi somehow kepending-kepending terus sama anime lain. Glad to know that I’m no longer missing this decent piece out.

Yuri on Ice bercerita tentang Katsuki Yuuri, atlet figure skating nasional Jepang yang ‘mentok’ dan mendapatkan hasil jelek di kompetisi dunia. Setelah kabur dari idolanya Viktor Nikiforov, dan dibentak-bentak di toilet oleh Yuri Plisetsky - bocah juara kelas junior, ia akhirnya pulang ke Jepang. Ketika ia sedang mencoba menenangkan diri dengan skating-skating santai di ice rink tempat ia berlatih dulu, ia iseng meng-cover penampilan Viktor sang skater nomor 1 dunia – yang ternyata viral. Tertarik, Viktor akhirnya memutuskan untuk break dari kariernya yang sedang naik-naiknya, untuk menjadi coach Yuuri di Jepang.

Yea I just spoiled you guys the whole first episode. Sawry.

Yuri Plisetsky yang jengkel karena (calon) rivalnya di level senior tiba-tiba memutuskan untuk hiatus, akhirnya bertekad untuk menyeret sang champion senior pulang ke negerinya. Cerita yang tadinya saya kira akan menjadi drama antara Yuuri dan Viktor, tahu-tahu berbalik jadi Yuuri vs Yurio, nickname Yuri junior. Dinamika menggemaskan antara dua Yuri beda usia ini akhirnya mewarnai hampir seluruh episode Yuri on Ice, featuring Viktor yang haha hihi di background nontonin mereka saingan.

Berita baiknya, plot Yuri on Ice ga monolith dan fokus ke satu ‘ship’ ini aja. Sebagai atlet dunia, tentu banyak juga pesaing mereka dari seluruh dunia yang sama berbakatnya, berlatih sama kerasnya, dan bermimpi sama tingginya. Ketika musim kompetisi dimulai, akhirnya peta persaingan (dan interaksi) antara duo Yuri dengan atlet lain mulai muncul. Dengan semakin bertambahnya saingan, konflik cerita akhirnya semakin meluas dan kompleks. Bukan hanya konflik in term of the deepening drama plot, tapi juga bagaimana strategi Yuri dan Viktor (sebagai coach dadakan dan amatiran) meng-counter satu demi satu lawan yang mereka hadapi di setiap leg kompetisi secara aman dan sportif.

Yes, in one way, di tiap-tiap episode anime ini tuh sebenarnya kita nontonin permainan strategi. Walaupun lebih banyak Viktor yang mikir wkwk.

Selain nontonin subtle strategizing process dalam pertandingan figure skating, di episode-episode nya kita juga banyak dikasih info-info terkait olahraga dan kejuaraan figure skating itu sendiri. Bagaimana sistem kompetisinya, bagaimana sistem penilaiannya, dan bagaimana ‘trik‘nya untuk menang. Seru, jadi dapet ilmu baru tanpa harus mikir!

Poin plusnya lagi, semua ini dikemas dengan menyenangkan dalam script dan animasi yang tidak pelit komedi DAN FANSERVICE. Kalau kalian penggemar interaksi nyerempet-nyerempet homo, silakan bersabar mengikuti ceritanya, sampai kalian akhirnya panen banyak banget momen-momen bernuansa BL di episode-episode terakhir. Or not, silakan interpretasikan sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Plot dan endingnya sendiri sebenarnya predictable (apalagi kalo kalian ga skip opening theme nya wkwk), tapi dengan karakter yang wholesome, script yang berlimpah ilmu dan momen-momen komedi plus interaksi homo yang bertebaran dimana-mana, plot yang standar tersebut masih bisa saya maafkan.

Personal score: 4.5 / 5


1/2. SK8

‘Jenius’ mengalahkan pengalaman dan kerja keras. Orang baik-baik yang berdedikasi akan takluk di tangan shithead yang berbakat. Hasil akan selalu mengalahkan usaha, persetan dengan seberapa banyak darah dan air mata yang sudah dikucurkan. Premis ke’tai’an dalam hidup ini memang selalu manjur untuk jadi easy template plot cerita, sehingga plot yang beneran spesial dan original memang udah susah ditemukan dalam serial anime apapun. 

That’s why untuk sport atau game genre, faktor penentunya lebih sering jatoh ke bagaimana semua komponen disatukan dan dieksekusi. Dengan tema cerita yang mirip-mirip (let’s be real, sport anime memang mau dibikin sekompleks apa juga kan), pengalaman menonton sebuah judul memang lebih sering ke faktor-faktor kosmetik: seperti pengkarakteran, facial animation, comedic insert, pokoknya perintilan-perintilan subtle yang ga kerasa, tapi kalo ga ada bakalan kerasa datar dan boring nya.

And SK8 – The Infinity nailed each of them components. 

In term of plot complexity, I’d say eksekusi plotnya lumayan ga datar-datar banget. Selain drama antara si jenius vs si passionate, kita juga dikasih drama antara si kampret vs anak ‘bae-bae’, dan antara si jenius bangsadh vs si jenius anak baru. Soalnya skateboarding ini kan kompetisi individu yah, jadi konfliknya bisa lebih kompleks aja karena memang direct, satu lawan satu (bukan kaya pertandingan beregu yang konfliknya lebih sering cuma ke persaingan antara regu A dan regu B). Dan di saat masing-masing character itu lagi compete, dikasih tahu lah juga background story antar character

In term of balance between drama and plot, I’d say SK8 ini in par sama Skate-Leading Stars. Plot jalan, drama juga dalem. Tapi yang bikin pengalaman nonton anime ini jadi way beyond SLS adalah: characterization. Di anime ini, even the most bland, boring character masih terselamatkan dengan momen-momen konyol. Dynamics antar karakter juga kocak, banyak dialog ringan yang nyerempet-nyerempet homo kalo kalian squint hard enough.

PS: Saya mau rekomen kalian untuk nonton versi US dub nya. Please. Bagus dan kocak banget ga bohong.

Selain itu, animasinya penuh insert-insert komedi, sehingga sepanjang nonton tuh rasanya happy dan light aja, meskipun di titik tersebut in term of conflict sebenernya lagi berat-beratnya. Seperti khasnya animasi gaya studio Bones aja sih, kan mereka memang sering masukin ekspresi lawak. Bahkan untuk anime se’dark’ Bungo Stray Dogs, kita penonton bisa tetep haha hihi karena those random funny breaks.


Personal score: 4.5 / 5

 


--starting below is our unlucky yawn-fest--

2.43: Seiin High School Boys Volleyball Team

Saya ga tahu motif dibalik timing perilisan anime ini yang cuma beberapa bulan setelah Haikyuu S4 selesai tayang. Tapi dengan (unintended) benchmark yang sesukses itu, eksekusi cerita yang slow burn dan hangat-hangat kuku gini jadi terasa sekali lacking dan datarnya.

Not to mention the deuteragonist was designed like the cheap mashup of two decently popular Haikyuu characters.

Haijima Kimichika (doesn't he look familiar?)

Maybe it could be a decent piece of work. Sayangnya anime ini dirilis ketika hype to Haikyuu S4 masih panas-panasnya, sehingga materi yang di-deliver ga bisa mengimbangi momentum dan ekspektasi yang sudah dibentuk oleh judul sebelah. Sebenarnya sangat ga apple to apple ya membandingkan dua judul ini, karena Haikyuu kan anime serial panjang dan berseason-season. Anime panjang kan sangat punya space untuk pendalaman karakter dan meng-kompleks-kan cerita, beda dengan anime satu season kaya gini.

PS: Saya drop anime ini di episode 5, jadi saya ga tahu apakah cerita ke belakangnya akan semakin solid atau engga


Wave Surfing Yappe

I might have the grossest reason to drop this anime, tapi saya drop judul ini karena saya agak males sama salah satu karakter deuteragonist nya. For someone who looks similar to Prince Soma of Kuroshitsuji, karakternya sangat bland dan ga membawa bobot ke dalam cerita. Like, lo ngapain sih nongol dan gitaran di situ?

Tanaka Naru
Soma Asman Kadar, Kuroshitsuji (Black Butler)


Bukan salah character designer nya sih. Tapi timing antara saya nonton anime ini, dengan timing dimana saya baca bagian klimaks atas konflik yang dialami prince Soma di anime Kuroshitsuji sangat-sangat jelek. Kenapa "best part" nya Soma harus ketemu barengan banget sama "warmup part" nya Tanaka Naru? TAT

Cant go past 2 ep. Mungkin nanti kalau saya sudah get over Agni-Soma’s grief di anime sebelah, saya bisa nonton ini tanpa kebawa-bawa ngenesnya nasib pangeran India kesayangan kita semua :”)

May 29, 2021

Sherlock Holmes in Anime/Manga: 3 Recommendations

Semenjak Sherlock Holmes akhirnya jadi public domain di US (terlepas dari tarik ulur pihak-pihak berkepentingan dengan The Conan Doyle estate), akhirnya banyak lagi nih, adaptasi modern dari detektif fiktif yang memulai budaya "fandom" ini. When you thought 'Sherlock' series in BBC dan Sherlock Holmes movie are truly special snowflakes, tahu-tahu banyak aja adaptasi Sherlock Holmes bermunculan. Ada film populer netflix Enola Holmes, sampe yang terakhir adaptasi tentang the Baker Street's Irregulars.

Sebagai part of wibu (terlepas dari saya beneran diakui apa enggak lol), saya pengen bahas tiga anime/manga yang mengadaptasi Om Sherlock. Baik dari segi karakteristik maupun unsur, ketiga judul yang saya masukkan dalam list ini cukup terang-terangan mengadaptasi cerita Sherlock Holmes. 

Disclaimer: Buat Sherlockian mungkin jangan mengharapkan bahwa cerita Sherlock Holmes akan diadaptasi secara "kaffah" di dalam ketiga judul ini. Afterall, ketiga judul ini bukanlah Sherlock Holmes yang di-Jepang-kan, tetapi hanya pinjam unsur dari the legendary Sherlock Holmes karya Conan Doyle yang rilis dua abad lalu.


1. Kabukichou Sherlock (Case File nº221: Kabukicho (歌舞伎町シャーロック, Kabukichō Syarokku)



Berlatar tempat dunia modern Tokyo, Kabukichou Sherlock berkisah tentang seorang detektif di sisi Timur wilayah slump di Tokyo. Sherlock Holmes, tokoh utama kita, adalah salah satu dari enam detektif yang menjadi langganan Pipecat bar, sebuah bar merangkap rumah bordil detektif. Dari waktu ke waktu, Mrs. Hudson, transwoman pemilik rumah bordil, menerima permintaan dari klien yang datang dan meminta keenam detektif yang dimilikinya untuk berlomba memecahkan kasus yang dibawa sang klien dengan bayaran tertentu. Our central figure sendiri di sini diceritakan memiliki porsi ke"gila"an pada seni rakugo, yang selalu ditampilkan setiap ia menjabarkan pemecahan kasusnya.

Plotnya sendiri sebenarnya dikemas secara ringan, dengan kasus-kasus yang singkat dan relatif tidak terlalu mengajak penonton untuk berpikir. Bahkan menurut saya, kasus-kasus yang ditampilkan malah cenderung komikal. Berbeda dengan kisah aslinya, di serial ini lawan Sherlock Holmes kebanyakan justru adalah sesama detektif, sedangkan Moriarty sendiri justru terlihat dekat dengan Sherlock. Namun, sebagai pengikut Sherlock Holmes dari jaman Detective Conan dulu, saya malah jadi anxious sendiri melihat dinamika mereka berdua. Sudah banyak adaptasi Sherlock Holmes yang dibuat, dan ga satupun dari mereka membuat Sherlock berteman dengan Moriarty. 

I'm old enough to know that the creators ain't going to butcher the Sheriarty dynamics and twist them into friend "friend".



Dari segi artwork, sepertinya anime original ini memang bukan diarahkan untuk menggaet avid fangirl. Ga banyak tokoh-tokoh stan attractor di anime ini (jujur saya malah agak attracted sama karakter-karakter ceweknya). Jadi, kalau kalian mau ngikutin anime ini sebaiknya jangan diniatkan untuk cari cowok cakep. Pasarnya bukan buat itu, hehe. Tapi lumayan fresh sih, jarang-jarang kan anime yang bener-bener menunjukkan transpeople sebagai salah satu tokoh penting.


2. Ron Kamonohashi: Deranged Detective (鴨乃橋ロンの禁断推理 - Kamonohashi Ron no Kindan Suiri)



Keluaran teranyar dari judul-judul dalam list ini, manga ini masih kinyis-kinyis banget. Chapter pertamanya baru dirilis Oktober 2020 SECARA GRATIS di platform manga online official Shueisha, "Manga Plus". Chapter baru keluar setiap minggu, dan sampai tulisan ini dipost, chapternya baru jalan sebanyak 24.

Deranged Detective bercerita tentang Kamonohashi Ron, seorang detektif jenius yang dilarang praktek detektif. Meskipun terbukti berbakat dan selalu berhasil memecahkan kasus baik selama pelatihan akademi maupun selama menjadi penyidik, namun ia memiliki kelainan mental dimana setiap tersangka kriminal yang ditanganinya selalu berakhir bunuh diri. Ia akhirnya keluar dari persembunyiannya setelah Ishiki Totomaru, detektif sangat-biasa-biasa-saja meminta pertolongannya untuk menyelamatkan dirinya yang hampir disingkirkan dari kepolisian.

Kemiripan Deranged Detective di 12 chapter awal dengan Sherlock Holmes universe memang hanya seperti menempatkan dinamika Holmes-Watson ke dalam dua tokoh utama mereka, Ron dan Totomaru. Cara Ron dan Totomaru bekerja sama malah sekilas mirip-mirip dengan interaksi Conan-Kogoro dari serial Detective Conan. Namun, di chapter 13 akhirnya diungkapkan bahwa Ron adalah keturunan ke-sekian dari dua arch nemesis legendaris Britania Raya, Sherlock Holmes dan James Moriarty. Di sini baru terungkap, bahwa kelak Ron harus menghadapi keluarga Moriarty yang bersikukuh untuk membuat hidupnya sebagai half-Moriarty - half-Holmes, menderita.

Cover Deranged Detective chapter 22, menampilkan tokoh Winter Moriarty

Sheriarty dynamics become canon! :D

Setelah Katekyo Hitman Reborn dan Psycho Pass, tangan dingin Akira Amano - sensei lagi-lagi meluncurkan karakter-karakter yang aesthetically pleasing untuk dilihat. Meskipun belum bergerak, tetapi charm dari masing-masing karakter udah kerasa kenceng banget. Dari Kamonohashi Ron yang edan, Kawasemi Omito yang aneh, sampai the Moriarty family yang belum apa-apa sudah mengincar nyawa Ron dari ujung benua. 

Read the manga officially here: MangaPlus by Shueisha


3. Moriarty the Patriot (憂国のモリアーティ, Yuukoku no Moriaati)

Berbeda dengan dua judul yang saya sebutkan di atas, Moriarty the Patriot benar-benar membawa kita ke latar belakang Inggris Raya di abad 19, seperti latar belakang novel 'Sherlock Holmes' yang asli. Seperti judulnya, manga ini berfokus pada kehidupan Professor William James Moriarty, criminal mastermind musuh besar Sherlock Holmes. Sherlock Holmes yang muncul belakangan, akhirnya memang menjadi rival kriminal jenius ini.

First volume cover

Secara umum, Moriarty the Patriot sebenarnya merupakan mash-ups dari tiga cerita paling populer dengan latar belakang Inggris: Sherlock Holmes, James Bond, dan Jack the Ripper. Jadi, walaupun tokoh utamanya mengadaptasi dari tokoh-tokoh Sherlock Holmes, tetapi sebenarnya porsi cerita non-Sherlock Holmes nya malah lebih banyak.

Yang bikin beda adalah, di sini diceritakan bahwa William James Moriarty merancang kejahatan adalah untuk tujuan mulia mempersatukan bangsa. Ketimpangan yang parah antara kaum aristokrat dengan kaum pekerja akhirnya memaksa Moriarty bersaudara untuk menjadi the nation bad guy, musuh bersama satu negara. Cara story line author, Ryousuke Takeuchi merancang plot serta bagaimana Hikaru Miyoshi sang ilustrator menggambarkan emosi cerita, membuat kita somehow can appreciate their good deeds in conducting those crimes. Walaupun pada akhirnya, tujuan baik tetap tidak akan bisa menjustifikasi cara yang ga baik, sih.


Sorry bro, I just can't help posting this chapter cover bcs akjhnsmfka


Dan, somehow dinamika antara dua jenius Sherlock dan William akhirnya malah melahirkan the next hot OTP: Sherliam. Tension dalam rivalitas mereka, paralelitas di tengah dinamika yin-yang, sampai character development mereka sendiri justru malah membuat konflik di antara mereka terasa manis. Dari internal fandom MTP sendiri sebenernya mulai banyak yg komen "kok bisa sih pada ngeship Sherlock sama Moriarty". Tapi man, foe-to-friend-TP nyerempet-nyerempet BL kan seksi??? 

Anime cour 2 promotional image

Remember Sheriarty dynamics dari serial BBC, Sherlock?

Keunggulan Moriarty the Patriot yang paling kenceng, jelas adalah artworknya. Garis artwork Hikaru Miyoshi-sensei bener-bener ciamik dalam menggambarkan tokoh-tokoh klasik modern Inggris ini menjadi ikemen-ikemen yang memanjakan mata. Dari pria terhormat yang proper dan halus seperti William, urakan tapi kagetan seperti Sherlock, tipikal bapak-bapak pekerja keras seperti Lestrade, sampai cute, silent, namun cabe rawit seperti Fred Porlock. Selain itu, perkembangan plot ceritanya juga sangat cocok dengan selera thirsty fangirls penikmat BL. Sampai 58 chapter ini, walaupun so far belum ada konfirmasi BL, tetapi gestur tiap-tiap karakter cukup membuat fandom twitter menjerit dan berteriak "get a room already!"

Watch the anime officially here: 


May 26, 2021

Moriarty the Patriot: A Review

Kalau ada satu satu karakter manga yang saya lagi bucin banget-banget selama nyemplung di dunia peranimean ini, orang tersebut adalah Sherlock Holmes, karakter anti-antihero dari manga Moriarty the Patriot (Yuukoku no Moriarty).


Saya sebenernya mulai engage ke sini dari anime. Muse Asia kan nayangin full episode nya for free di youtube tuh, karena bosen akhirnya saya nontonlah anime yang saat itu masih ongoing. Walaupun saya ga mau mengklaim diri saya sebagai Sherlockian (penggemar Sherlock Holmes), tapi saya cukup paham bahwa Professor Moriarty adalah arch-nemesis dari Sherlock Holmes, detektif fiksi paling beken sejagat. Dengan judul yang sangat positif "patriot", yaudah saya kepoin deh tuh.


Belum selesai opening film, saya udah jerit-jerit lihat satu karakter berkaki panjang, dengan rahang super tajem dan rambut kuncir kuda awut-awutan ala samurai.





Alamak, ganteng kali parasmu Tuan. 

Saya waktu itu bahkan ga yakin mas-mas ini Sherlock Holmes apa bukan. Tapi saya sudah head over heel (hell) sama mas-mas yang entah baik, entah jahat, atau jangan-jangan malah alay ini. Untungnya, later saya find out bahwa mas-mas ini benar Sherlock Holmes :)

Karena fokus anime/manga Moriarty the Patriot memang bukan tentang Sherlock Holmes, jadinya ya Sherlock ini baru muncul di episode-episode belakang. Namun, selama saya ngikutin lima no-Sherlock episode pertama, saya suka banget dong sama anime ini? Ternyata anime ini memang bener-bener ngambil setting London akhir abad 19-an, persis seperti yang digambarkan Sir Arthur Conan Doyle di novel-novel Sherlock Holmes yang beliau tulis. 

Eksekusinya agak mengingatkan saya pada setting anime Black Butler/Kuroshitsuji. Ya technically memang settingnya sama sih, bahkan kasusnya juga ada yang mirip. After all, Kuroshitsuji anime season 1 kan memang banyak mengadaptasi kasus-kasus Sherlock Holmes. Mana Ciel Phantomhive juga kan sebenarnya jadi anjing penjaga Ratu dengan membasmi kejahatan lewat jalur "belakang", kan.

Seperti judulnya, di sini cerita difokuskan pada Professor Moriarty, seorang dosen matematika yang memiliki side job sebagai crime consultant. Namun, di sini diceritakan bahwa Moriarty menjadi criminal mastermind bukan semata-mata demi uang atau status, tetapi karena ia ingin menyingkirkan social gap antara kaum proletar dan aristokrat di Inggris Raya. Dari nonton beberapa episode aja, sudah jelas bahwa plot anime/manga ini mungkin akan berbeda dengan canon plot yang ditulis oleh Conan Doyle. Semacam baca fanfiction, tapi versi niat dan "resmi". Tapi meskipun ada twist seperti ini, saya tetep enjoy banget nontonnya. Apalagi ditambah dengan character design yang cakep banget,parah. 

Karena ketagihan dan ga sabar nunggu episode baru muncul tiap minggu, akhirnya saya beralih ke manga version.

Memang ya, magic-nya manga itu nyata kalau dibandingkan dengan anime. Selain ternyata ada beberapa cerita yang ga dianimasikan, ternyata dalam medium dua dimensi statis, momen-momen killer di anime yang sudah bikin jantung lemes pun, ternyata masih bisa di-elevate lagi menjadi ratusan kali lebih dahsyat. 


1. Plot

Secara teknis, Moriarty the Patriot (MTP) adalah mixed universe antara serial "Sherlock Holmes", "James Bond", dan kisah nyata Jack the Ripper. Jadi, walaupun tokoh utamanya minjem dari universe Sherlock Holmes, tetapi Ryousuke Takeuchi-sensei -- author MTP -- ga terlalu banyak mengadaptasi kasus yang ada di novel Sherlock Holmes. Statistically speaking, jumlah kasus original nya malah lebih banyak dari kasus adaptasi Sherlock Holmes. Plot development-nya kan memang harus di-tweak biar bisa memperkenalkan karakter-karakter pendukung cerita, makanya kisah 'filler'nya jadi banyak. Tapi I have no problem with it at all, karena cerita pendukungnya toh sebagus itu.

Lagipula, sebenernya belum semua cerita Sherlock Holmes dijadiin public domain kan. Mungkin tim produksi MTP mau menghindari perselisihan perkara copyright ini juga.

Secara umum, plot MTP terbagi menjadi beberapa arc besar dengan fokus ke masing-masing karakter baru. Saya ada buat tabel yang menunjukkan di arc mana certain characters pertama muncul (walaupun bukan exact chapternya, untuk detail kaya gitu lebih baik langsung ubek-ubek aja yuuori fandom wiki bagian "Characters".






Dalam mengembangkan plotnya, Ryousuke-sensei mengadaptasi beberapa cerita dari Sherlock Holmes canon universe. Karena adaptasi, plot di manga ini ya ga sama plek dengan plot karangan Sir ACD. Untuk mencocokkan dengan universe baru, beberapa detail cerita diganti dengan detail yang sama sekali baru, sehingga ceritanya tetap fresh walaupun nuansa "Sherlock Holmes"nya tetap sangat kental.

Beberapa cerita canon universe yang diadaptasi ke dalam manga "Moriarty the Patriot" antara lain:

  1. A Study in Scarlet (diadaptasi menjadi "A Study in S", Chapter 7-9)
  2. The Hound of the Baskervilles (diadaptasi menjadi "The Hunting of the Baskervilles", Chapter 10 & 11)
  3. A Scandal in Bohemia (diadaptasi menjadi "A Scandal in British Empire", Chapter 17-23)
  4. The Sign of Four dipadukan dengan 'The Adventure of Charles Augustus Milverton' (diadaptasi menjadi "The Sign of Mary", Chapter 40-43)
  5. The Final Problem (diadaptasi menjadi "The Final Problem", Chapter 48-56)
  6. The Adventure of the Empty House dipadukan dengan 'The Adventure of the Bruce-Partington Plans' (diadaptasi menjadi "The Adventure of the Empty Hearts", Chapter 57-ongoing) -- jadi belum bisa dipastikan beneran mengadaptasi atau engga

2. Artwork

Sebagai alumni Psycho Pass committee yang bertabur cogan, Hikaru Miyoshi - sensei sekali lagi menunjukkan taji-nya dalam membuat character design yang penuh pria tampan. Walaupun design nya mirip-mirip dengan karya beliau yang lain, tetapi tetap tidak mengurangi ke-mleyot-an saya memandangi tokoh-tokoh yang beliau ciptakan. Variasi design-nya cukup luas dan sangat match dengan karakter masing-masing tokoh, dari bangsawan elegan dan proper a la Albert Moriarty, detektif slengean dan tanpa tedeng aling-aling a la Sherlock, sampai tokoh bapak-bapak baik-baik dan pekerja keras seperti Inspector Lestrade.

Even the daddies are hot as fxxk.

William James Moriarty (left), Albert James Moriarty (right)
Charles Augustus Milverton
Adam Whiteley
George Lestrade (left) & Zach Patterson (right)

James Bond


3. Adaptasi Anime

Adaptasi Moriarty the Patriot to anime saat ini dipegang oleh Production I.G. Studio ini pernah menghandle banyak anime-anime besar, diantaranya ada: Haikyuu (all season), Kuroko's Basketball (all season), Psycho Pass (all season), dan Attack on Titan - Junior High. So far, anime produksi Production I.G. cukup memuaskan sih. 

Walaupun memang banyak sekali episode yang diskip, hehe. Saya bisa ngerti mungkin studio mau fokus ke chapter-chapter yang benar-benar inti, sehingga rata-rata episode filler memang diskip (nasib baik, setidaknya episode The Two Detective masih selamat). Serta untuk chapter-chapter yang karakter James Bond nya cukup dominan seperti episode Man of Golden Army, atau scene apapun yang berhubungan dengan MI6, mungkin ngurus perijinan-nya ke pemilik lisensi James Bond akan lebih ribet. 

Memang ga bisa dipungkiri bahwa magic-nya manga dan anime sangatlah berbeda. Saya sering lihat banyak akun yang membandingkan shot dari anime dengan actual referencenya di manga, dan betapa screenshot dari anime kok seringkali underperformed dibandingkan dengan manga. Kalau saya bilang sih, perbandingan seperti ini kok rasanya kurang fair ya.

Menurut saya, media audio visual ga seharusnya dinilai dan disandingkan dengan standar penilaian media statis. Magic nya anime itu kan sebenarnya bukan sekedar gambar manga yang dikasih warna. Di situ ada gestur bergerak dan background music, yang jelas akan hilang magic nya kalau disandingkan dengan manga yang diam. Belum lagi masalah teknis screencap-an yang kadang-kadang tidak ideal -- karena seringkali screencap yang diperoleh fans itu sebenarnya adalah bagian dari frame penyambung antara cut utama satu dengan cut point berikutnya, sehingga wajar bentuknya jadi awkward.





By the way, opening theme nya anti gagal. Baik cour 1 maupun cour 2 sama badai nya, enak-enak banget aslik!



Btw, kalian bisa nonton anime nya secara legal dan FREE di channel youtube berikut ini:


4. Fandom Life

Saya ga memungkiri, kehidupan fandom yuumori memang cukup kenyang bahan simp. Dari manga nya sendiri, fans sudah berasa "disuapin" dengan banyaknya panel-panel yang "menggiring" fans untuk mengasosiasikan dengan BL. Chapter-chapter filler seperti The Two Detectives dan The Adventure of One Student misalnya, penuh dengan interaksi golden antara William dengan Sherlock. Walaupun sebenarnya interaksi dua tokoh tersebut tergolong "safe", tetapi mata saya masih bisa nangkep bahwa tiga chapter tersebut adalah chapter fanservice merangkap chapter penghubung. 

Bahkan cover volume 14 pun, dibuat sangat "fanservicey", dimana Sher dan Liam berada dalam satu cover sambil secara "implisit" berpegangan tangan.

Bener-bener memancing imajinasi para fujoshi ya :)

So subtle, Hikaru-sensei.

Not complaining, though.

Selain itu, sang ilustrator sendiri cukup aktif mengepost konten-konten terkait Moriarty the Patriot. Beberapa postingan cukup menghebohkan jagat peryuumorian, sehingga lumayan efektif menciptakan buzz di jagat twitter. 

Selain fanartist yang juga ikut meramaikan konten, hal yang saya notice adalah akun RP Yuumori sangat aktif bikin konten. Saya gatahu aktivitas RP di fandom lain seperti apa, tapi di fandom yuumori RPnya sangat terorganisir. Ga cuma berinteraksi antar akun RP, mereka bikin cerita dan event sendiri, bahkan sampai bikin original character mereka sendiri. Ketika fandom yuumori lagi lumayan kering di awal tahun 2021, apalagi di tengah-tengah bulan ketika next chapter masih jauh dari pandangan, mereka berperan banget dalam menghapus dahaga para fans (saya). 

Dengan konten yang sebegini padat, saya belum pernah nyimak apakah Yuumori pernah trending atau engga. Yang jelas kalo di dalam echo chamber saya sendiri sih rame ya. At least sekarang akun autobase Yuumori (@moriartyfess) sudah menyentuh follower count di angka 11.200an. Masih jauh dari huge fanbase seperti Haikyuu atau Attack on Titan, but the progress is actually not bad at all? Ketika cour 1 selesai bulan Desember lalu, seingat saya follower count nya masih di angka 3000an. 

Walaupun nyebelinnya, jadi banyak banget pertanyaan yang sama berulang-ulang karena banyak follower baru. Well, itu harga yang harus dibayar sih, jadi ya telen aja lah. Ga baik juga ngatur-ngatur hobi orang, bukan.


Konklusinya,

Kalau kalian suka Sherlock Holmes, James Bond, dan Kuroshitsuji, kalian akan sangat mungkin suka dengan serial ini. Cuma memang harus di-note, bahwa karena Moriarty the Patriot ini adalah anime adaptasi, bukan anime dari Sherlock Holmes official, jadi kalian mungkin akan banyak nemu hal-hal yang melenceng dari canon universe nya.

Well, Moriarty dibuat "baik" pun sebenernya sudah melenceng sih. :D


Apr 30, 2021

Detective Conan Movie 24 - The Scarlet Bullet: A Review

Setelah tertunda satu tahun penuh, bahkan sampe bocoran Movie 25 keburu keluar dan bikin heboh, akhirnya film ke-24 Detective Conan resmi tayang juga. Jadwal naik siar The Scarlet Bullet di bioskop Indonesia memang mundur seminggu dari jadwal Jepang, but regardless, yay akhirnya nonton juga!

Mungkin karena filmnya ketunda setahun, tapi ekspektasi saya terhadap film ini memang lumayan tinggi. Wajar dong, secara tim produksi The Scarlet Bullet sampai bikin film pemanasan untuk mengantar fans menuju film yang berfokus ke salah satu klan terkuat di universe Detective Conan ini.

Poster The Scarlet Alibi, prologue film untuk The Scarlet Bullet

The Scarlet Bullet (名探偵コナン 緋色の弾丸 - Meitantei Conan: Hiiro No Dangan) bersetting di sekitar pelaksanaan event World Sport Game (WSG) Tokyo. Ga butuh ilmu deduksi selevel Sherlock Holmes buat menebak bahwa acara ini adalah pelesetan dari Olimpiade Tokyo yang juga tertunda satu tahun (dan entah jadi entah tidak)

Poster movie The Scarlet Bullet


Cerita bermula di pesta perayaan peluncuran kereta peluru (shinkansen) tercepat di dunia, yang akan diluncurkan tepat di hari pembukaan stadion World Sport Game. Di tengah acara, tiba-tiba salah satu sponsor WSG, Presiden Suzuki Shiro (Papa nya Sonoko) menghilang dari pesta. Presiden Suzuki pada akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat (cara nemuinnya agak lucu btw, haha), namun FBI sadar bahwa kasus penculikan ini sangat mirip dengan kasus penculikan serupa, yang terjadi sebelum World Sport Game Atlanta 15 tahun lalu. Dengan petunjuk dari Kogoro Mouri yang direkrut untuk mengamankan salah satu sponsor VIP, Conan akhirnya menyimpulkan bahwa penculikan berikutnya akan terjadi di tepat di hari peluncuran shinkansen.

Poin menegangkan pertama muncul ketika tiba-tiba rumah sakit tempat peserta test drive diserang. Ai langsung sadar bahwa kebocoran gas tersebut adalah peristiwa "quenching" , yaitu bocornya kandungan helium pengatur suhu peralatan MRI ke udara lepas, yang kemudian me-replace kandungan oksigen di udara (plis saya juga ga paham konsepnya, langsung klik hyperlink aja deh). Karena kehebohan tersebut, seluruh peserta dibuat pingsan (termasuk our tiny central figure), dua orang VIP menghilang, dan acara test drive pun dibatalkan. By the way, kali ini Conan agak hah hoh, ga tahu quenching itu apa. That's new, wkwk.

Conan yang ngotot mau jadi hero dan memecahkan kasus, akhirnya nekad kabur dari pengawasan Ran begitu ia sendiri sadar (SUDAH BIASA). Ia bekerja sama dengan Okiya Subaru mengejar penculik yang kabur ke arah kawasan pergudangan. Di saat bersamaan, mereka berdua diikuti oleh Mary dan Masumi Sera. Subaru yang tiba duluan, langsung dihajar dua perempuan ganas ini, sampai topengnya robek terkena tendangan. A blessing for us, karena dengan ini akhirnya kita bisa melihat Akai Shuuichi dalam muka aslinya. Yum!

Conan yang tiba-tiba muncul akhirnya menyelamatkan Subaru, walaupun Mary, yang notabene adalah sesama korban APTX 4689 yang tubuhnya mengecil, malah bersembunyi dan berkeras untuk tidak menemui the shrunken Kudou Shinichi. 

Well, dengan ini canon plot di manga tetep tidak terganggu ya gaes.

Anyway, kejar-kejaran antara #TeamConan dan #TeamCulprit tetep berlangsung, sampai akhirnya kedua kubu ended up berakhir di shinkansen yang kini kosong. Pokoknya, Conan dan Masumi akhirnya memecahkan kasus. Case ended!

Not that easy, Dovisiozo.

Ternyata terpecahkannya si kasus ini justru malah menjadi pemicu dari insiden dan adegan menegangkan. Kalian ngerti bagaimana galaknya macan kalau tersudut? Nah itu dia yang membuat situasi akhirnya escalated in lightning speed.

And Dee be like, yay. Akhirnya seru juga.

For real, entah karena timing saya nonton itu pas waktu buka banget jadi laper, tapi selama nonton saya ga nemu adanya wow factor yang bikin saya deg-degan atau apapun itu. Bahkan ketika Cone semaput, terjebak di tengah quenching pun, saya cuma "oh oh" aja. Sudah dua puluh tahun ngikutin Conan, saya udah sampe di tahap dimana kalo Conan celaka tuh udah biasa, karena main character pasti selamat dong (I do hate your plot armor, Aoyama sensei)

Apalagi trik yang dipake kok rasanya ndakik-ndakik banget. It does make sense untuk ukuran tahun 2021, tetapi terasa kaya nembus langit banget gitu loh. 

Tapi yang jelas, faktor yang paling bikin saya mendelep adalah karena saya sempat ketipu teaser. Saya kira kasusnya bener-bener terjadi di tengah event WSG. Coba, kebayang dong ada kasus berbahaya di saat aset penting negara-negara di dunia lagi berkumpul di satu tempat? Mungkin ini juga salah satu hal yang bikin film ini terasa agak ga sesuai ekspektasi, karena ternyata yang nyawanya terancam bukan atlet terbaik dunia, tetapi "cuma" sponsor event dan a handful of local lucky winners yang terpilih untuk test drive shinkansen dari Nagoya sampai Tokyo. 

(Sepertinya saya akan dibantai SJW kalau sampai mereka baca ini -- ALL LIFE MATTER!)




Tapi terlepas dari segala ke-datar-an conflict development di film ini, tapi saya mau kasih kredit dan standing applause buat tiga orang: Haibara Ai, Sera Masumi, dan Haneda Shuukichi. Mereka bertiga bener-bener dapet quality screen, like yang sekalinya muncul tuh yang cakep-cakep gitu loh part dan moment nya.

Oh, dan Mary Sera though.


TO SUM UP! 

Untuk film yang ditunggu-tunggu sampai dua tahun dan kru sampe went all out bikin prefilm,The Scarlet Bullet ini terasa agak membosankan buat saya karena:

1. Umur serial udah terlalu lama dan predictable, sehingga ketika nyawa main character terjebak dalam bahaya pun, efek menegangkan gagal muncul 

2. Trik yang digunakan kurang "membumi", sehingga kurang relate dan kurang engaging buat penonton.

3. Saya pribadi ketipu teaser

4. Saya nontonnya pas laper, jadi any slight discomfort got elevated way too exponentially. 


PS: Jangan beranjak keluar sebelum kalian nyelesein credit scene. Ada adegan yang lumayan bikin akerjgnrgafd