Mar 27, 2021

My Personal Detective Conan Movie Rank - Part FINAL

Less than 1 month to the newest movie, akhirnya kita sampai di my Top 5! 

Cepet banget waktu berjalan, tahu-tahu film pembuka untuk Movie 24, The Scarlet Bullet udah tayang aja di Indonesia. The Scarlet Alibi di Jepang sendiri break record sebagai film pembuka dengan pendapatan tertinggi, di angka 1.5 miliar yen (how insanely popular Detco was is mindblowing ya, padahal ini film udah ongoing lama banget).

(Review The Scarlet Alibi di bawah)

Anyway, bacotan akan makin banyak, ketikan akan makin ga jelas, yang berarti saya sangat-sangat puas dengan apa yang tim produksi berikan. Sebagai penggemar Conan ala-ala yang ngikutin dari 20 tahun lalu tapi baru aktif lagi sekarang, saya adalah salah satu fans yang paling ga sabar dengan jumlah chapter Detective Conan yang naujubilah banyaknya (saya udah sortir, dari sekian banyak kasus yang muncul di manga, sekitar 70% nya adalah kasus-kasus yang ga berhubungan dengan Black Organization). Makanya begitu ada Black Organization, antusiasme saya akan langsung meroket.

Di konteks perangkingan movie ini, movie dengan kemunculan Black Organization (selain "Countdown to Heaven" yang kepeleset di peringkat 6) by default akan langsung dapet poin tinggi. So yeah, surprise? Not surprise? :D

Previous posts:
- rank 17-23
- rank 11-16
- rank 6-10


5. DCM 8 - The Magician of the Silver Sky (2004)


Film dibuka dengan memperlihatkan Conan sedang kejar-kejaran dengan Kaito Kid di atap sebuah gedung. Ternyata Kogoro sedang dimintai tolong oleh seorang aktris musikal untuk melindungi cincin bermata batu safir yang hendak dicuri oleh Kid. Walaupun Conan memang berhasil menggagalkan usaha Kid mencuri pertama di hari tersebut, ternyata kasus kembali berlanjut di penerbangan after-party musikal Napoleon Bonaparte, dimana aktris utama ditemukan meninggal diracun, dan kedua pilot dan co-pilot ditemukan tak sadarkan diri karena efek racun yang sama. Conan, dan dibantu oleh salah seorang aktor musikal, akhirnya harus terjun langsung menyelamatkan penerbangan tersebut.

Hanya saja, plot Detective Conan movie tidak pernah semulus dan sepolos itu.

But I would say, film ini adalah yang paling balance di antara rilisan tahunan Detective Conan Movie selama 23 tahun. Action, drama, dan comedy semua membaur dengan seimbang.

Kita menyaksikan adegan menggelikan dimana Kid muncul dengan meminjam tubuh Shinichi (tepat di hadapan Shinichi yang mengecil, sehingga orang yang asli tidak bisa berbuat apa-apa).
Kita menyaksikan adegan lucu-tapi-romantis, pertikaian-pertikaian kecil antara Kogoro dan Eri.
Kasus pembunuhan yang dipecahkan Conan juga triknya cukup menarik. Siapa yang menyangka bahwa benda seperti itu bisa menjadi senjata pembunuh?

Di sisi lain, kita juga mendapatkan adegan gila dimana Ran dan Sonoko, dua orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kokpit pesawat, tiba-tiba harus mendarat-daruratkan pesawat komersial secara manual. Agak ndakik-ndakik, tapi the whole Detco universe IS indeed like that.

Belum lagi plot twist dimana Kaito Kid kabur dari pesawat di saat-saat genting, yang ternyata memiliki tujuan tersendiri.

Aoyama-sensei memang gila.

 

4. DCM 6 - The Phantom of Baker Street



Film dimulai dengan menampilkan adegan yang agak disturbing, dimana seorang anak bernama Sawada Hiroki bunuh diri dengan terjun dari balkon kamarnya setelah menyelesaikan sebuah otak buatan yang diberi nama Noah's Ark. Beberapa saat setelah ia jatuh, komputer yang sebelumnya ia gunakan memperlihatkan pesan selamat tinggal dan "Noah Ark is sailing...".

Di Jepang, Conan dkk diundang ke sebuah pesta peluncuran game virtual reality. Di tengah acara, kepala pengembangan game, Tadaaki Kashimura ditemukan terbunuh di ruang kerjanya. Conan menyadari bahwa pesan kematian yang ditinggalkan korban, JTR, berhubungan dengan salah satu stage di permainan virtual reality yang diluncurkan, Old Time London. Untuk memecahkan kasus tersebut, ia akhirnya bergabung dengan anak-anak yang diundang untuk menguji coba permainan tersebut. Detective Kids yang lainnya pun ikut masuk ke dalam permainan, setelah menukar kartu Kamen Yaiba limited edition dengan pass untuk masuk ke virtual game. Mengetahui Conan dkk masuk ke permainan, Ran akhirnya menggunakan pass milik Sonoko dan ikut bergabung.

Ketika permainan hendak dimulai tiba-tiba Noah's Ark memberontak dan menyandera anak-anak yang bergabung. Dengan alasan untuk menghentikan calon pemimpin Jepang yang tidak berintegritas dari keluarga yang korup, Noah's Ark mengubah kendali permainan, dimana anak-anak yang terjebak terancam nyawanya jika mereka tidak bisa menyelesaikan permainan. Sementara itu, Kudou Yusaku yang sedang memecahkan kasus, menyimak analisis yang dilakukan Shinichi (Conan) dalam permainan untuk memperoleh bukti tambahan atas pembunuhan Kashimura.

Conan dan 7 anak lainnya memilih permainan bersetting London abad pertengahan, yang memadukan antara real case Jack the Ripper dan universe Sherlock Holmes. Untuk menemukan dan memecahkan identitas Jack The Ripper, mereka melakukan perjalanan untuk menemui Sherlock Holmes, Colonel Sebastian Moran, membuat kesepakatan dengan Profesor Moriarty, sambil terus berusaha agar tetap hidup.

Karena kita lagi bahas Detco, kalo mau bahas full action sih harusnya udah auto-checked ya. Tapi yang bikin spesial adalah, settingnya! Menyenangkan aja gitu, melihat reference-reference Sherlock Holmes dengan tampilan seperti tokoh-tokoh Detco. Selain itu, adanya ancaman bahwa Conan bakalan beneran mati kalo ga menang game lumayan menambah tense pemirsa selama menonton.

That twist in the ending though. :"")

3. DCM 22 - Zero the Enforcer (2018)



Maybe I'm being obnoxiously biased by putting this Amuro Tooru / Zero / Furuya Rei / Bourbon- focused movie this high in the rank. But there's a reason why I put "personal" in my title, right? (putting Oikawa Tooru's gloating and blepping face here)


Conan yang bosan melihat penemuan Profesor Agasa yang aneh-aneh (kali ini: drone yang mampu terbang setinggi 10.000 meter selama 30 menit) lebih memilih untuk menonton TV. Baru saja televisi menyiarkan berita mengenai satelit yang kembali ke Bumi, tiba-tiba lokasi konferensi Tokyo diberitakan meledak. Di tengah siaran penuh api dan ledakan, Ai melihat Furuya Rei (kali ini sebagai Zero) yang berada di tengah-tengah ledakan yang terjadi di gedung konferensi.

Di tengah penyelidikan oleh kepolisian metropolitan Tokyo, Kazami Yuuya, bawahan Zero di PSB tiba-tiba muncul di ruang rapat dan menyodorkan bukti bahwa yang meledakkan gedung konferensi tidak lain adalah Mouri Kogoro. Karena Kogoro adalah mantan anggota kepolisian, akhirnya kasus ini ditangani oleh PSB, yang tanpa ragu langsung mengambil berkas-berkas di kantor detektif dan menyeret Kogoro ke ruang interogasi. Sementara itu, Rei yang kembali bekerja di Poirot hanya membisu ketika Conan menanyainya. Finally arrived at his breaking point, Conan shouted at Ai who's already helping him enough, tanpa menyadari bahwa ponselnya sendiri sudah disadap.

Eri yang kebingungan karena rekan pengacaranya tidak ada yang berani mendampingi Kogoro akhirnya mendapatkan bantuan dari seorang pengacara lepas yang bernama Tachibana Kyouko. Masalahnya, jaksa penuntut yang akan melawan mereka adalah jaksa penuntut keamanan publik tak terkalahkan, Kusakabe Makoto.

The thrill level of this movie just rocketing high, simply because
kasus ini melibatkan keselamatan Mouri Kogoro. Zero dan Yuuya yang tetap kukuh tidak mau memberikan informasi apapun, semakin menguatkan dugaan bahwa kali ini Zero benar-benar akan mengkhianati Conan (spoiler: not). Belum lagi, cekcok antara jaksa Kusakabe dengan atasannya, motivasi Kyouko yang sama sekali tidak terlihat berniat menang, serta cerita Yuuya yang menyebutkan bahwa Zero pernah membuat saksi dalam interogasi bunuh diri, semakin membuat siapa berada di kubu siapa semakin membingungkan. And to think the movie would end with the case? LOL. NA-DA. Film ini padat, se padat-padat-nya.

Entah saya dapet subtitle yang bapuk, atau saya yang agak pe'a soal law enforcement structure di Jepang. Yang jelas, selama nonton saya sempet hah hoh berkali-kali, karena banyak banget instansi baru yang saya harus ikutin hubungannya. Untung Amuro-san nya ganteng.

For real though, the amount of the-handsomest-Amuro-san being obnoxiously indecent (for my heart sanity) in this movie was OVERWHELMING. Even the way he called his subordinate, kHazami? ERGH!

2. DCM 13 - The Raven Chaser (2009)


Movie 13 dimulai dengan cukup powerful dimana Gin & Vodka terlihat memergoki Conan di kantor Detektif Mouri. Walaupun ternyata adegan tersebut cuma mimpi, tetapi cukup mampu menyetel thrill cerita, bahkan sebelum salam pembuka diputar.

Kogoro dimintai tolong untuk memecahkan kasus pembunuhan berantai yang korbannya tersebar di berbagai lokasi di Jepang. Di tengah break rapat, Inspektur Yamamura mendengar seseorang mengirimkan email ke alamat yang mirip dengan not lagu anak-anak "Nanatsu no Ko", yang telah diketahui adalah alamat bos besar Black Organization. Saat itu juga, Conan langsung menyadari bahwa ada anggota organisasi yang menyusup masuk ke kepolisian. Di tengah upaya penyergapan, Conan bertemu Vermouth yang kemudian memberi tahu bahwa Black Organization memang sedang mengincar data NOC yang tak sengaja terbawa oleh pelaku pembunuhan. Kemudian, Conan juga menyadari bahwa si anggota organisasi yang menyamar telah mengetahui identitasnya sebagai Detektif SMA terkenal, Kudou Shinichi.

What make this movie interesting (selain Black Organization, that is pretty much my token reason of liking a part of Detco universe) adalah betapa deg-degannya mengetahui identitas Conan akhirnya benar-benar ketahuan. Selama penyelidikan, kita bisa lihat beberapa kali Conan bersikap seolah-olah dia memang sudah akan mati. Imagine someone as reckless as him having that glum and surrending face? Pengen peluk rasanya :_)

And Ran being able to avoid gun shot? She is terrifying.

1. DCM 20 - The Darkest Nightmare (2016)
 

Movie 20 dibuka dengan kejar-kejaran antara Furuya Rei, Akai Shuichi, dan seseorang yang terlihat menyusup ke dalam ruangan server kepolisian. Kemunculan Vermouth yang mencari-cari orang tersebut memberitahu kita bahwa sang penyusup ternyata adalah anggota Black Organization yang hendak mengambil data NOC dari kepolisian Jepang. Begitu Ai menyadari kehadiran Vermouth, ia langsung teringat deskripsi RUM, orang kedua di organisasi yang salah satu matanya sintetis (checked), terlihat seperti orang tua (rambut putih, checked), dan terlihat seperti wanita (checked). The fact that someone that level actually stood this close to Conan did give us a deep chill down our spine. Finally RUM, seseorang yang bahkan Sherry ga pernah lihat wajahnya, actually went head to head with Conan?

Anyway, diungkapkan ternyata perempuan tersebut bukan RUM, tetapi Curaqao, spesialis pengumpul informasi Black Organization. Identitas RUM udah ketahuan anyway so yeah, at this point sih memang jelas ya doi bukan RUM tapi mind you, pas itu identitas RUM kan belum direveal :D. 

Regardless, bagaimana Conan merencanakan untuk menangkap Curaqao, kejar-kejaran dengan kepolisian PSB, berpacu dengan waktu untuk menghentikan Black Organization dan menyelamatkan semua orang, sekaligus mengembalikan ingatan Curaqao yang hilang, semua dikemas dalam drama penuh action, ketegangan, dan rasa haru. Banyak pula bumbu-bumbu ketegangan yang ditambahkan, dari Bourbon dan Kir yang hampir mati karena ketahuan bertindak sebagai double agent, sampai  the legendary fight between Rei and Shuichi on top of a ferris wheel. Yum.

The ending though, I've cried a bucket from it.
Ngaduk-ngaduk emosi ini lah yang bikin movie ini jadi jawara di hati Dee :""")

Spoiler: Seperti yang sudah terjadi di movie 13, non-canon Black Organization member juga diceritakan mati di akhir film. Sehingga secara teknis, penambahan anggota BO ini tidak terlalu mengganggu plot utama di manga.


SPECIAL ADDITION: The Scarlet Alibi


Sebagai film pertama yang saya tonton ke bioskop setelah berbulan-bulan "terkurung" karena pandemi (dan jobless), perasaan saya ke The Scarlet Alibi ini agak mixed feeling. Memang sebelumnya saya sempet baca keterangan bahwa film ini cuma sarana promosi main movie nya, tapi saya ga nyangka kalo produksinya bener-bener "seadanya" :D

The Scarlet Alibi, is, literally, adalah cut-cutan anime yang merangkum hubungan The Akai Family, yang diangkat ke layar lebar. Buat saya yang udah ngikutin 20 tahun, udah apal alur, hubungan karakter dan pelaku-pelakunya tiap kasus, jujur pas nonton ga terlalu excited lagi. However, kalo untuk orang awam, atau fans Conan yang ga hardcore banget kaya saya, The Scarlet Alibi ini berguna banget buat refreshing, ngasih konteks ke hubungan antara keluarga yang "disfunctional but somehow works" ini. Apalagi movie 24 ini akan berfokus pada keluarga Akai kan, kalo ga paham apa yang terjadi di keluarga ini kan ntar pas nonton kemungkinan akan banyak reference yang penonton missed. Maybe.

Tapi terlepas dari konten, sebenernya yang bikin pengalaman nontonnya agak betein adalah karena kualitas gambarnya ga disesuaikan dengan kebutuhan layar bioskop. Kebayang kan video tahun 2000an awal? Nah, untuk yang cut-cutan episode lama tuh jatohnya jadi burem gitu. Untuk produksi sekelas Conan, saya ekspektasikan ya paling engga aspect ratio atau ketajamannya disesuaikan gitu sih, biar dari awal sampai akhir gambarnya bisa konsisten. Ga harus diremastering, tapi ya setidaknya dipoles dikit gitu (bisa ga deh?)

Btw si abang pertama ganteng banget pas di belakang movie ya Allah mana kualitasnya udah 4K lagi kan. Jadi ga sabar nunggu The Scarlet Bullet tayang.


This was such a long post, for real. I wonder where will the newest movie rank within its 23 successors.

Feb 27, 2021

Review on Agatha Christie: The Big Four

Read Agatha Christie Entry #2: Mystery with a touch of Love
 

...Or should it be. Saya lagi agak kurang semangat untuk bikin versi instagram dari postingan ini.  


Perkenalan saya dengan The Big Four (Empat Besar) dimulai dalam suasana emosi yang masih anget-anget MTP-Kamonohashi-ish, jadi mohon maaf nih kalo review saya bakalan lagi-lagi balik ke reference Sherlock Holmes, hahahah. Hercule Poirot is wonderful too, I swear. But his British counterpart was just really way over-exposed and over-adapted. Not that I complained, by the way.

(Yes, I somehow picked the Hercule Poirot story again this month)

The Big Four dibuka dengan Capt. Hastings yang menemukan Poirot di rumahnya, sedang terburu-buru hendak berangkat ke Amerika Latin. Out of nowhere, Poirot bertanya perihal "Empat Besar", dan langsung menceritakan bahwa mereka adalah organisasi kriminal yang dipentol-i oleh empat orang. Dan ujug-ujug, seseorang masuk ke rumah Poirot dalam kondisi sekarat, menuliskan angka empat berkali-kali, lalu "lewat". Ketika Poirot akhirnya bersikeras untuk melanjutkan perjalanan, tiba-tiba Poirot mengajak Hastings untuk lompat dari kereta dan melarikan diri, kembali ke rumahnya. Ternyata nyawa Poirot sedang diincar!

Ketika mereka kembali ke rumah Poirot, mereka bertemu dengan seseorang dari Rumah Sakit Jiwa yang hendak mencari pasiennya yang kabur dari rumah sakit jiwa. Poirot akhirnya sadar bahwa pria dari Rumah Sakit Jiwa itu adalah si "Nomor Empat", sang algojo Empat Besar. Cerita kemudian bergulir ke pencarian tentang siapa saja "Empat Besar" ini.

Pengungkapan poin-poin di cerita ini rasanya seperti "disuapin", serba ujug-ujug. Out of nowhere, pembaca dikasih tahu kalau ada organisasi kriminal yang dikuasai oleh "Empat Besar", dimana pada poin tersebut bahkan belum ada kasus yang muncul. Satu-satunya orang mati yang muncul cuma seorang "pasien RSJ" di awal cerita, yang ternyata adalah agen rahasia Inggris untuk Rusia. Poirot bahkan ga berusaha memecahkan kasus(?) tersebut dan langsung menyimpulkan bahwa orang ini diancam dan dibunuh oleh Empat Besar.

Bagimana keempat pentolan organisasi kriminal diungkapkan, juga terkesan grasa-grusu. Pokoknya tahu-tahu A, B, C adalah si nomor 2,3, dan 4. Saya sampai harus baca ulang untuk memastikan bahwa saya tidak ketinggalan pemecahan "who"nya (mengingat di sini ga exactly ada kasus yang harus dipecahkan, cuma kejar-kejaran antara Poirot dan Empat Besar aja), dan indeed, memang sangat disuapin. Satu-satunya anggota Empat Besar yang berhasil saya tebak cuma sang wanita Nomor Tiga, tetapi itu pun sebenarnya bukan karena saya memahami ceritanya. Saya berhasil menebak karena memang pengungkapannya klise aja, standar plot-plot novel kebanyakan.

Man, I don't even know how I'd post this in my instagram. Sebenarnya ceritanya bagus. Saya bahkan ga ngantuk ketika baca ini, ga seperti biasanya ketika saya baca karangan Agatha Christie yang lain (saya ga tahu penyebab saya ngantuk, apakah karena ada masalah di terjemahan atau memang ceritanya droning). Tapi untuk ukuran cerita detektif, rasanya ga nendang aja kalo pembaca ga diberi kesempatan mikir dan menerka-nerka dahulu siapa pelakunya. Rasanya cuma seperti membaca plot cerita biasa, bukan plot cerita detektif.

Saya ga tahu seoriginal apa konsep arch-nemesis detektif vs criminal mastermind a la Sherlock Holmes vs James Moriarty yang ditulis Arthur Conan Doyle di akhir tahun 1800an itu. Tapi melihat Agatha Christie menulis cerita dengan dinamika yang mirip, saya jadi ga bisa mengesampingkan pemikiran suudzon, bahwa beliau memang berniat untuk membuat the Sherlock Holmes knock-off dengan karakter Hercule Poirot dan Arthur Hastings ini.

But then again, mungkin saya jadi agak meh karena cerita Sherlock Holmes sendiri sudah sangat over-exposed. Di dua tahun terakhir ini saja, saya nemu dua manga Jepang bertemakan Sherlock Holmes. ( First manga: Moriarty the Patriot | Second manga: Ron Kamonohashi: Deranged Detective). Dan selama dua tahun berturut-turut, Netflix bikin karya adaptasi Sherlock Holmes juga. (First adaptation Enola Holmes - 2020 | Second adaptation: The Irregulars - 2021) Jadi, baca buku ini di saat saya lagi kebanjiran konten Holmes, ya saya jadi agak sensitif melihat Poirot-Hastings vs The Big Four dan susah banget untuk ga membanding-bandingkan dengan dinamika Holmes-Watson vs Professor Moriarty.

Rate: 4 / 5 

PS: Nikmati aja bukunya apa adanya, jangan dibanding-bandingkan sama cerita detektif punya tetangga sebelah

 

Feb 19, 2021

My personal Detective Conan movie rank - Part 3

Tahu-tahu udah D-56 aja dong dari perilisan movie 24: The Scarlet Bullet. Jujur saya udah mulai sering menggelinjang sendiri, fidgeting kesana kemari geregetan kenapa bulan April ga bisa datang lebih cepat. Walaupun gatau bakalan nonton apa engga (lbr saya masih paranoid untuk datang ke bioskop dan berdekatan sama orang ga dikenal di ruangan tanpa ventilasi), tapi begitu tahu movie terbaru akhirnya rilis, DAN PRE-RELEASENYA BAKALAN TAYANG JUGA DI INDONESIA, itu aja udah kepuasan tersendiri.

Yup, dua minggu lalu ODEX Anime baru aja mengumumkan kalo film omnibus (tayangan pembuka, prerelease dari The Scarlet Bullet), The Scarlet Alibi akan tayang di Indonesia mulai tanggal 10 Maret 2021, seperti biasa hanya di jaringan CGV (me be dragging my ass to Depok cuma buat ini -- tapi di hari yang sama sebenernya ada RUPS BTN sih jadi bisa sekalian?). Kalau movie prolognya aja tayang, harusnya main movie nya juga tayang dong? :D

Mention about Detective Conan: The Scarlet Alibi di detik 4:01

The Scarlet Alibi sendiri sudah tayang di Jepang dari tanggal 13 Februari kemarin, dan rekor penjualan terakhir per 17 Februari, revenue yang dihasilkan sudah mencapai 300 juta yen. Rekor penjualan untuk movie prolog dipegang oleh movie Puella Magi Madoka Magica yang mencatat rekor 600 juta yen. Let's see apakah keluarga Akai bisa mengalahkan rekor ini?

Anyway, IT'S AKAI'S TIME, MOTHERFOCKER!

Sekalian mau ngelanjutin ranking movie Detective Conan yang sempet mandeg, hehe. Sebelumnya disclaimer dulu, bahwa this is my personal rank, starting dari least favorite to my ultimate loml. Will be full of bias obviously, jadi selera saya mungkin beda dengan selera yang lain.

23 movie yang udah tayang ini saya bagi reviewnya menjadi 4 part. Postingan sebelumnya bisa diakses di sini: rank 17-23 dan rank 11-16

Note: List ini terbatas pada anime film only, dan ga termasuk: Special TV film, Detco crossover movies, maupun live action movies.
 


10. DCM 10 - The Private Eyes Requiem (2006)

Ekspektasi nol di awal film langsung sirna begitu klien Kogoro menahan Conan dan memintanya bergabung dengan Kogoro untuk memecahkan sebuah kasus misterius, yang bahkan tidak diberitahu detailnya oleh sang klien. Untuk menjamin pemecahan kasus oleh Kogoro dan Conan, Ran dan Detective Kids dijadikan sandera di sebuah taman bermain. Dan entah bagaimana, sang klien mengetahui bahwa Conan adalah Shinichi Kudou.

Di tengah upaya pemecahan kasus, Conan bertemu dengan Heiji dan Hakuba Saguru, yang juga sedang berusaha melepaskan orang "tersayang" mereka yang disandera.

Oh, spoiler: Ternyata movie ini bukan bercerita tentang Black Organization. But it was still thrilling I guess, having the name "Kudou Shinichi" casually thrown around like nothing.  

Oh, btw kita juga dapat complete line-up Four Genius Gosho Boys lengkap. So, yay? 



Though if I'm being blunt here, kasusnya sebenernya biasa aja. Cuma karena nyawa Ran, Kazuha, "ceweknya Hakuba", dan the Detective Boys dalam bahaya, dan kita dapet paket komplit the Gosho Boys, makanya jadilah movie ini terasa fun buat ditonton.

 

9. DCM 15 - The Quarter of Silence (2011) 


Movie 15 dibuka dengan kasus pemboman yang mengincar Gubernur Tokyo, Asakura. Penonton sudah disuguhkan dengan bagaimana Conan berjuang menyelamatkan seluruh penumpang kereta Touto Line yang baru diresmikan, bahkan sebelum opening film. Namun, ketika ditonton terus ternyata kasus di film ini tidak terlalu spesial, cuma pembunuhan biasa yang dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam dua kecelakaan besar 8 tahun sebelumnya, sebelum Desa Kitanosawa ditenggelamkan ke dasar bendungan.

Saya appreciate beberapa detail-detail kecil sih, seperti character development Mitsuhiko dan Genta setelah mereka bertengkar, kecerobohan Conan yang lupa menyembunyikan bukti bahwa ia adalah Kudou Shinichi (the almighty Kudou Shinichi does make mistake too!), sampai anekdot kecil yang menyebutkan bahwa bocah 15 tahun yang amnesia selama 8 tahun adalah kebalikan total dari Ai dan Conan, dua orang dewasa yang terjebak dalam tubuh anak-anak.

Hal yang juga menarik bagi saya adalah, akhirnya Conan tidak sepenuhnya berperan sebagai protagonis yang rempong sendiri mengatur strategi menyelamatkan orang lain, karena dia malah terjebak di bawah longsoran salju di scene klimaks. Tapi justru karena main characternya hampir mati itu sih, yang membuat ketegangan (dan pengen ikut nangis)-nya selama nonton movie ini jadi berlipat-lipat.

Yah walaupun kalo kita udah paham story tellingnya Aoyama-sensei yang predictable abis, harusnya kita gausah deg-degan juga tahu sih kalo Cone ga mungkin mati :D



8. DCM 7 - Crossroads in the Ancient Capital (2003)

Movie 7 dibuka dengan bocah perempuan berkimono yang bernyanyi di bawah guguran kelopak bunga sakura. Tanpa ia sadari, Heiji kecil sedang menatapnya dari balik teralis sebuah kuil, dengan tatapan penuh cinta (duileh).

Kembali ke masa sekarang, Heiji sedang bergerak untuk menyelidiki kasus pembunuhan beruntun yang terjadi di Osaka, Tokyo, dan Kyoto. Kepolisian menyebutnya "Kasus Pembunuhan Yoshitsune", karena semua korban adalah anggota sebuah perkumpulan dimana anggota-anggotanya dipanggil dengan julukan yang mengambil dari nama pembantu Yoshitsune. Ia juga berniat untuk menemukan cinta pertamanya yang ia lihat di bawah guguran kelopak sakura 8 tahun lalu, sekaligus mengembalikan bola kristal yang ia temukan tepat dimana sang gadis berdiri.

Kasus yang harus mereka berdua pecahkan ternyata cukup kompleks, karena kasus belum juga terpecahkan sampai di akhir-akhir sekali. Di tengah penyelidikan, Heiji berkali-kali hampir mati diserang oleh pria bertopeng, dari anak panah sampai pisau pendek. Penyerangan terakhir akhirnya memaksa Heiji untuk dirawat di rumah sakit, walaupun hal tersebut tetap tidak menyurutkan niatnya untuk tetap melanjutkan penyelidikan. Dalam kondisi yang lemah dan sempoyongan, Heiji mendapat kabar bahwa Kazuha diculik oleh pelaku, dan ia harus datang sendiri ke tempat yang sudah ditentukan dalam waktu satu jam.

Selain kasus utama, penonton juga dibuat bertanya-tanya siapakah cinta pertama yang dilihat Heiji ketika ia berumur sembilan dulu. Heiji sempat mengira bahwa maiko (penari di rumah minum teh) bernama Suzu Chika adalah orang yang dicarinya, karena ia menyanyikan lagu yang sama persis dengan apa yang didengarnya waktu kecil. Apakah benar dirinyalah gadis yang dicari-cari Heiji, mendingan kalian nonton sendiri aja movie ini sampai selesai.

Anyway, saya harus memberi applause kepada tim produser yang cukup kreatif dalam mencari penyelesaian dari situasi buruk yang dialami Heiji-Conan(?)-Kazuha.

Final note: Ending theme movie ini bagus banget, menurut saya salah satu yang terbaik dari 23 movie Conan yang sudah mengudara sampai tahun 2019.




7. DCM 12 - Full Score of Fear (2008)



Movie 12 dibuka dengan aransemen musik klasik yang dimainkan pada sebuah sesi latihan resital di Akademi Musik Doumoto. Latihan tersebut ternyata berakhir bencana, karena gedung tiba-tiba meledak. Tidak terlalu lama setelah salam pembuka, kita disuguhkan kembali dengan aransemen klasik Ave Maria, hasil gubahan Charles Francois Gounod.

Kasus penyerangan ternyata belum berakhir. Conan menyadari bahwa si pelaku ternyata mengincar musisi-musisi yang akan tampil dalam konser, termasuk soprano Akiba Reiko. Entah mujur entah sial, Genta malah meminum teh berisi racun yang sebenarnya ditujukan untuk Reiko, sehingga Reiko selamat. Gladi resik konser masih berjalan dengan normal, namun Conan dan Reiko menyadari bahwa nada yang dikeluarkan instrumen organ ada yang tidak beres. Di tengah penyelidikan, Conan dan Reiko tiba-tiba diserang dan dihanyutkan ke tengah danau.

Perjuangan Conan dan Reiko untuk kembali ke hall konser lumayan penuh drama, tapi justru di sini lah poin seru nya. Tanpa handphone, mereka harus memutar otak untuk bisa memanggil polisi dan membawa mereka segera kembali ke acara konser. Di sini saya jadi tahu, bahwa Conan (Shinichi) sebenarnya punya naluri titik nada mutlak (come on, can't Kudou Shinichi have any flaw?). Selain itu, mereka berdua juga harus memutar otak untuk menyelamatkan gedung pertunjukan yang terancam hancur di akhir konser.

Saya mungkin bias, tetapi poin dari film ini yang membuat saya meletakkan film ini di peringkat setinggi ini adalah karena penampilan musik klasiknya sukses bikin saya mbrambang. Saya bahkan bukan penikmat musik Eropa, tetapi saya nangis mendengarkan beberapa aransemen klasik yang ditampilkan, seperti Ave Maria dan Amazing Grace. Emang sebagus itu gaes.

Selain itu, saya juga suka banget sama kecerdikan tim produser dalam membuat scene heroik di detik-detik terakhir. Dengan caranya sendiri-sendiri, mereka menyelamatkan ratusan orang yang sedang terhanyut dalam alunan musik klasik, tanpa mengetahui bahwa gedung yang mereka tempati sedang di ambang kehancuran, like literally.


6. DCM 5 - Countdown to Heaven (2001)

Receh-receh kemping Detective Boys agak terusik ketika penonton diperlihatkan Ai alias Sherry, yang terlihat menelepon diam-diam tengah malam dan memberitahukan tempat singgah anak-anak tersebut ketika pulang kemping. Kecurigaan meningkat ketika di frame selanjutnya terlihat Gin dan Vodka yang menyebutkan lokasi yang sama dan berniat membunuh seseorang. Benar saja, beberapa hari setelah mereka mengunjungi gedung yang baru akan diresmikan tersebut, seorang anggota dewan dan seorang programmer yang membantu pembuatan gedung tersebut ditemukan mati terbunuh, dan di dekat mayat mereka ditemukan cangkir sake yang terbelah. Yang lebih mencekam lagi, Gin dan Vodka ternyata telah mengetahui apartemen pribadi milik kakak Haibara dan mengetahui bahwa Ai juga akan pergi ke pesta peresmian gedung tersebut...

To be frank, kasus yang harus dipecahkan Conan sebenarnya biasa aja. Tapi yang bikin atmosfer film jadi menegangkan dan seru adalah karena kita tahu, Black Organization kembali mengejar Ai. Sepanjang pemecahan kasus pembunuhan berantai, Conan juga harus berusaha untuk meng-outwit Gin dan Vodka, untuk melindungi Ai.

Namun, tentu saja Black Organization akan memilih waktu-waktu yang paling fucked-up, yang paling strategis dan mematikan untuk bertindak. Dalam prosesnya kali ini, mereka menjebak seluruh undangan pesta di lantai 75, serta nyaris menembak kepala Sonoko yang khusus hari itu sedang berganti gaya rambut. Conan dan Detective Kids terjebak, sementara Ai yang sudah menyerah melarikan diri dari Black Organization hampir saja memilih mati di gedung yang nyaris hancur itu.

Subdued Ai minta dipeluk banget huhuhu T___T


Jan 17, 2021

Review on John Grisham: The Firm

Ketertarikan saya pada buku karya John Grisham muncul ketika seseorang di litbase merekomendasikan (kepada orang lain), untuk membaca buku beliau, katanya lebih seru dari Dan Brown. Pun, menfess nanya novel tentang lawyer juga berkali-kali muncul sampe saya bosen bacanya, jujur aja. Someone need to reupload that damn thread about searching the question first before sending message because it's BOSENIN BANGSAT dan netijen lagi-lagi kompak menyodorkan satu nama: John Grisham.

Why "The Firm"? Ya random aja. I'm way too lazy to search around, and I don't think it's wise to start with something I know is the best. Kalau tahu buku yang saya pilih bukan yang terbaik, saya akan malas-malasan mulainya. Kalau tahu buku yang saya pilih sudah yang terbaik, kalau ternyata zonk saya akan kecewa berat karena terlanjur numpuk buku si penulis yang bersangkutan. So yeah, I start blindly and let myself explore the unknown.
(Lalu someone teriak: YA JANGAN NUMPUK BUKU DULU LAH, JAENAB)


 

The Firm bercerita tentang seorang lulusan Harvard law school, Mitchell Y. McDeere, yang sedang mencari pekerjaan. Sebagai lulusan top 3 di angkatannya, ia sudah mengantongi banyak penawaran pekerjaan, namun masih window shopping sebelum memutuskan dimana ia akan bekerja. Ketika akhirnya ia diwawancara oleh hiring partner sebuah law firm kecil nyaris tanpa nama, yang berbasis di Memphis (Memphis ini kalo di Indonesia mungkin kaya Jambi atau Sulbar -- bukan kota besar yang menarik hati lulusan terbaik ambis lah pokoknya), ia akhirnya tergoda untuk beralih dari firma hukum di Wall Street untuk bekerja di tempat tersebut.

Bagaimana tidak? Gaji menjanjikan (berkali-kali lipat lebih besar dari tawaran Wall Street law firms manapun), absolute zero turnover (firma besar rata-rata memiliki 28%, yang berarti mereka akan kehilangan 3 dari 10 karyawan mereka setiap tahunnya), dan kesempatan menjadi Partner dalam kurun waktu 5 tahun. Belum lagi fasilitas cicilan KPR berbunga super rendah, bonus mobil BMW baru yang di-leasing-kan oleh perusahaan, dan jaminan biaya sekolah untuk anaknya kelak. 

Though I smell that something is definitely fishy. If something is too good to be true, then it's definitely either not true, or hiding something that is not right. Saya memegang prinsip ini sejak pertama kali saya membaca penawaran waw yang disampaikan.

And...it is.

Alur cerita tergolong cepat. Dari awal, pembaca sudah disuguhkan tindakan-tindakan mencurigakan yang diambil oleh petinggi-petinggi Bendini, Lambert & Locke (BLL). Nuansa ini memunculkan empati pembaca terhadap Mitch, the poor clueless new guy yang tanpa sadar masuk ke kandang naga. Mitch hanya tahu bahwa law firm tersebut menjunjung tinggi kerahasiaan dan cenderung terobsesi dengan "being secretive". Karena adanya situasi berbahaya yang mengancam main character seperti ini, pembaca ga merasa bosan membacanya walaupun the real conflict belum muncul sampe pertengahan buku. Lha wong main character-nya ga sadar kok kalo lagi masuk perangkap.

Shits are elevated even higher, ketika Mitch akhirnya curiga bahwa ada hal yang tidak beres dengan BLL. Ia akhirnya menyadari bahwa klaim "zero turnover" yang disampaikan di awal -- itu karena memang siapapun yang berniat keluar firma akan langsung dihabisi nyawanya. Hal itulah yang ternyata terjadi pada dua attorney yang pemakamannya ia hadiri di hari pertamanya bekerja -- dan dua mantan staf lainnya, termasuk satu-satunya attorney wanita yang pernah dipekerjakan BLL. Mitch akhirnya semakin yakin bahwa hidupnya dan istrinya, Abby dalam bahaya -- ketika detektif swasta yang disewanya ditemukan tewas dengan luka tembak yang mencurigakan. Setelah berkali-kali ditemui oleh agen FBI, ia akhirnya bertekad untuk melakukan hal yang sama sekali belum pernah dilakukan oleh attorney BLL selama dua puluh tahun -- kabur dari firma dalam keadaan hidup.

Tingkah polah dan intrik Mitch dalam menjalani kehidupannya sebagai double agent dengan triple role, ternyata cukup untuk memaksa saya membuka halaman demi halaman novel ini, almost non stop.  Walapun awalnya Mitch terlihat membosankan (just your common workaholic newcomers), tetapi kecerdasannya lama-lama terlihat -- dan membuatnya jadi super attractive. Bagaimana ia menyeimbangkan demand dari dua kubu yang saling berlawanan -- mafia konspirasi BLL dan direktur FBI - dan memainkan dua peran -- pawn sekaligus mastermind -- hanya untuk keluar dari firma, benar-benar menjadi premis yang menegangkan.

Setiap perkembangan plot benar-benar berarti, tanpa diselingi filler-filler membosankan. Pembaca sama sekali tidak bisa menebak bagaimana cerita akan berakhir, karena sampai 95% pun ternyata ketegangannya ga habis-habis spoiler: ternyata endingnya standar. Walaupun tidak banyak humor di buku ini, tetapi somehow tetep asik-asik aja dibacanya. Walaupun bahasa yang dipakai not exactly learner-friendly, tetapi juga tidak terlalu berat sampai harus mengecek kamus setiap menit (PS: saya level intermediate B1 ya, jadi untuk mencerna vocabs dari konteks sudah lumayan bisa).

Balik ke review random stranger di awal, tentang bahwa buku-buku beliau lebih baik dari Dan Brown? Well, my subjective taste says no (not that they are even comparable tbh -- nilai jual Dan Brown kan di detail-detail sejarahnya juga ga cuma sekadar crime action). But I also testified that this book gave me a pretty solid reading experience. Predictable yes, but who am I complaining when it still gave me this much fun?

I will definitely read Grisham's another books, soon! Di goodreads ada banyak buku beliau yang lain yang ratingnya lebih tinggi so I'm excited!!
 

Rating: 4.5 / 5

===
 

Get your ebook here:

 - Amazonbook (kindle)

- Google Playbook (US)

Jan 15, 2021

Review on Agatha Christie: The Mysterious Affairs at Styles

Read Agatha Christie Entry #1: Mystery at Mansions


Review ini ditulis sebagai tulisan tambahan dari resensi buku yang diunggah di instagram dan (a super duper short) reaction thread di twitter. Karena platform instagram kurang cocok dengan tulisan panjang, makanya saya membuat versi ini sebagai versi lebih "gue banget" (aka bacot, ngalor ngidul).



 

Sekalian buat nambah konten blog juga

Saya mengawali buku ini dengan good feeling, dimana penokohan dan dialognya mengingatkan saya pada the universe of Sherlock Holmes. Teman main character (Capt. Arthur Hastings) yang bernama John memiliki istri bernama Mary lumayan mengingatkan saya pada canon Sherlock Holmes mulai dari buku The Sign of Four. Hastings sendiri juga diceritakan adalah mantan perwira militer yang terpaksa pensiun karena luka perang - mirip karakter John Watson. Ga cuma itu, nama Sherlock Holmes sendiri disebutkan sebagai referensi detektif kenamaan, sehingga ego saya sebagai penggemar (dari penggemarnya) beliau jadi agak melambung. 

Sedikit.


 

Namun, story telling khas Agatha Christie mulai bergulir dan mengingatkan saya kembali pada alasan kenapa saya ga banyak baca buku beliau, sekalipun saya tergila-gila dengan cerita fiksi kriminal. 

Walaupun setting cerita menegangkan, membingungkan, dan membuat kecenderungan Thinking saya berputar, tetapi saya tetep ga dapet hook dari cerita ini. Mood cerita dari awal sampai akhir terasa sangat datar, walaupun dialog dan plot jelas-jelas sedang menuju klimaks.

Mungkin otak saya aja yang ga sanggup dijejali banyak detail, ya. Soalnya bahkan ketika saya baca pemecahan kasusnya, saya sering kali menemukan momen "Oh, tadi Hastings nemu seperti ini ya?", "Oh, si A tadi begini ya?" Saya harus baca bagian penting ini setidaknya dua kali, untuk benar-benar memahami kasusnya. Itu pun harus dalam kondisi segar dan tidak ketiduran.

Like, having to remember the exact details of seven, eight suspects with barely any supporting illutration is too much for my old brain. And not to mention that the whole affair is just...messy. The whole ordeal really, is not as simple as one people kills someone and the detective needs to find out the culprit and their motives.
 

Spoiler

Jadi satu orang berkonspirasi dengan orang lain untuk merencanakan pembunuhan, tapi rencananya gagal.

Di tengah-tengah, ada orang lain lagi yang punya kepentingan, dan merencanakan sesuatu terhadap si korban.

Begitu rencana si pelaku asli akhirnya berhasil, tiba-tiba muncul orang lain lagi yang mengacaukan TKP dan alibi karena mengira bahwa pujaannya adalah pelaku pembunuhan.

On top of this mess, penyebab, asal muasal kenapa A melakukan B dan C melakukan D juga dijabarkan, berikut bukti-buktinya.

And to think bahwa trik pembunuhannya sebenarnya sederhana, tetapi situasi TKP dan alibinya kacau banget kaya benang kusut.

Oh, my poor brain. Kek mana mau memahami layer-layer misteri begini dalam satu kali baca. Saya sampe harus nulis penjelasannya, biar otak saya bisa nangkep ujung pangkalnya.

T_T

Tapi somehow saya ngerti, kenapa Agatha Christie jadi famous banget. Selain karena emang sudah menulis hampir seratus judul buku (misteri semua), cerita yang beliau tulis tuh memang sangat detail, semua dijabarkan. There's no room for any error, loophole, and unsolved question (maybe there is, but I do not have brain capacity to detect 'em). Kebayang aja kan kualitas otak beliau, kalau melihat debut worknya aja sudah sebegini kompleks.  

Though, I do not remember any of her other book being this multi-layered. Kalau sekedar kompleks sudah pasti, karena memang beliau sangat detail membuka trik dan motif (+ pushing factor) kejadian misteri yang ditulis. Tapi misterinya. Baru ini kayanya, pengungkapan kasusnya itu sendiri sampe bikin saya separo gumoh :D
 

Kayanya misteri yang dipecahkan Sherlock Holmes aja gaada yang segini ancur-ancurannya deh T__T


Rating: 4/5

Get your ebook here:

- Gramedia digital (Indonesia)