Read Agatha Christie Entry #2: Mystery with a touch of Love
...Or should it be. Saya lagi agak kurang semangat untuk bikin versi instagram dari postingan ini.
Perkenalan saya dengan The Big Four (Empat Besar) dimulai dalam suasana emosi yang masih anget-anget MTP-Kamonohashi-ish, jadi mohon maaf nih kalo review saya bakalan lagi-lagi balik ke reference Sherlock Holmes, hahahah. Hercule Poirot is wonderful too, I swear. But his British counterpart was just really way over-exposed and over-adapted. Not that I complained, by the way.
(Yes, I somehow picked the Hercule Poirot story again this month)
The Big Four dibuka dengan Capt. Hastings yang menemukan Poirot di rumahnya, sedang terburu-buru hendak berangkat ke Amerika Latin. Out of nowhere, Poirot bertanya perihal "Empat Besar", dan langsung menceritakan bahwa mereka adalah organisasi kriminal yang dipentol-i oleh empat orang. Dan ujug-ujug, seseorang masuk ke rumah Poirot dalam kondisi sekarat, menuliskan angka empat berkali-kali, lalu "lewat". Ketika Poirot akhirnya bersikeras untuk melanjutkan perjalanan, tiba-tiba Poirot mengajak Hastings untuk lompat dari kereta dan melarikan diri, kembali ke rumahnya. Ternyata nyawa Poirot sedang diincar!
Ketika mereka kembali ke rumah Poirot, mereka bertemu dengan seseorang dari Rumah Sakit Jiwa yang hendak mencari pasiennya yang kabur dari rumah sakit jiwa. Poirot akhirnya sadar bahwa pria dari Rumah Sakit Jiwa itu adalah si "Nomor Empat", sang algojo Empat Besar. Cerita kemudian bergulir ke pencarian tentang siapa saja "Empat Besar" ini.
Pengungkapan poin-poin di cerita ini rasanya seperti "disuapin", serba ujug-ujug. Out of nowhere, pembaca dikasih tahu kalau ada organisasi kriminal yang dikuasai oleh "Empat Besar", dimana pada poin tersebut bahkan belum ada kasus yang muncul. Satu-satunya orang mati yang muncul cuma seorang "pasien RSJ" di awal cerita, yang ternyata adalah agen rahasia Inggris untuk Rusia. Poirot bahkan ga berusaha memecahkan kasus(?) tersebut dan langsung menyimpulkan bahwa orang ini diancam dan dibunuh oleh Empat Besar.
Bagimana keempat pentolan organisasi kriminal diungkapkan, juga terkesan grasa-grusu. Pokoknya tahu-tahu A, B, C adalah si nomor 2,3, dan 4. Saya sampai harus baca ulang untuk memastikan bahwa saya tidak ketinggalan pemecahan "who"nya (mengingat di sini ga exactly ada kasus yang harus dipecahkan, cuma kejar-kejaran antara Poirot dan Empat Besar aja), dan indeed, memang sangat disuapin. Satu-satunya anggota Empat Besar yang berhasil saya tebak cuma sang wanita Nomor Tiga, tetapi itu pun sebenarnya bukan karena saya memahami ceritanya. Saya berhasil menebak karena memang pengungkapannya klise aja, standar plot-plot novel kebanyakan.
Man, I don't even know how I'd post this in my instagram. Sebenarnya ceritanya bagus. Saya bahkan ga ngantuk ketika baca ini, ga seperti biasanya ketika saya baca karangan Agatha Christie yang lain (saya ga tahu penyebab saya ngantuk, apakah karena ada masalah di terjemahan atau memang ceritanya droning). Tapi untuk ukuran cerita detektif, rasanya ga nendang aja kalo pembaca ga diberi kesempatan mikir dan menerka-nerka dahulu siapa pelakunya. Rasanya cuma seperti membaca plot cerita biasa, bukan plot cerita detektif.
Saya ga tahu seoriginal apa konsep arch-nemesis detektif vs criminal mastermind a la Sherlock Holmes vs James Moriarty yang ditulis Arthur Conan Doyle di akhir tahun 1800an itu. Tapi melihat Agatha Christie menulis cerita dengan dinamika yang mirip, saya jadi ga bisa mengesampingkan pemikiran suudzon, bahwa beliau memang berniat untuk membuat the Sherlock Holmes knock-off dengan karakter Hercule Poirot dan Arthur Hastings ini.
But then again, mungkin saya jadi agak meh karena cerita Sherlock Holmes sendiri sudah sangat over-exposed. Di dua tahun terakhir ini saja, saya nemu dua manga Jepang bertemakan Sherlock Holmes. ( First manga: Moriarty the Patriot | Second manga: Ron Kamonohashi: Deranged Detective). Dan selama dua tahun berturut-turut, Netflix bikin karya adaptasi Sherlock Holmes juga. (First adaptation Enola Holmes - 2020 | Second adaptation: The Irregulars - 2021) Jadi, baca buku ini di saat saya lagi kebanjiran konten Holmes, ya saya jadi agak sensitif melihat Poirot-Hastings vs The Big Four dan susah banget untuk ga membanding-bandingkan dengan dinamika Holmes-Watson vs Professor Moriarty.
Rate: 4 / 5
PS: Nikmati aja bukunya apa adanya, jangan dibanding-bandingkan sama cerita detektif punya tetangga sebelah
Tahu-tahu udah D-56 aja dong dari perilisan movie 24: The Scarlet Bullet. Jujur saya udah mulai sering menggelinjang sendiri, fidgeting kesana kemari geregetan kenapa bulan April ga bisa datang lebih cepat. Walaupun gatau bakalan nonton apa engga (lbr saya masih paranoid untuk datang ke bioskop dan berdekatan sama orang ga dikenal di ruangan tanpa ventilasi), tapi begitu tahu movie terbaru akhirnya rilis, DAN PRE-RELEASENYA BAKALAN TAYANG JUGA DI INDONESIA, itu aja udah kepuasan tersendiri.
Yup, dua minggu lalu ODEX Anime baru aja mengumumkan kalo film omnibus
(tayangan pembuka, prerelease dari The Scarlet
Bullet), The Scarlet Alibi akan tayang di Indonesia mulai tanggal 10 Maret 2021,
seperti biasa hanya di jaringan CGV (me be dragging my ass to Depok cuma buat ini -- tapi di hari yang sama sebenernya ada RUPS BTN sih jadi bisa sekalian?). Kalau movie prolognya aja tayang, harusnya main movie nya juga tayang dong? :D
Mention about Detective Conan: The Scarlet Alibi di detik 4:01
The Scarlet Alibi sendiri sudah tayang di Jepang dari tanggal 13 Februari kemarin, dan rekor penjualan terakhir per 17 Februari, revenue yang dihasilkan sudah mencapai 300 juta yen. Rekor penjualan untuk movie prolog dipegang oleh movie Puella Magi Madoka Magica yang mencatat rekor 600 juta yen. Let's see apakah keluarga Akai bisa mengalahkan rekor ini?
Anyway, IT'S AKAI'S TIME, MOTHERFOCKER!
Sekalian mau ngelanjutin ranking movie Detective Conan yang sempet mandeg, hehe. Sebelumnya disclaimer dulu, bahwa this is my personal rank, starting dari least favorite to my ultimate loml. Will be full of bias obviously, jadi selera saya mungkin beda dengan selera yang lain.
23 movie yang udah tayang ini saya bagi reviewnya menjadi 4 part. Postingan sebelumnya bisa diakses di sini: rank 17-23 dan rank 11-16
Ekspektasi nol di awal film langsung sirna begitu klien Kogoro menahan Conan dan memintanya bergabung dengan Kogoro untuk memecahkan sebuah kasus misterius, yang bahkan tidak diberitahu detailnya oleh sang klien. Untuk menjamin pemecahan kasus oleh Kogoro dan Conan, Ran dan Detective Kids dijadikan sandera di sebuah taman bermain. Dan entah bagaimana, sang klien mengetahui bahwa Conan adalah Shinichi Kudou.
Di tengah upaya pemecahan kasus, Conan bertemu dengan Heiji dan Hakuba Saguru, yang juga sedang berusaha melepaskan orang "tersayang" mereka yang disandera.
Oh, spoiler: Ternyata movie ini bukan bercerita tentang Black Organization. But it was still thrilling I guess, having the name "Kudou Shinichi" casually thrown around like nothing.
Oh, btw kita juga dapat complete line-up Four Genius Gosho Boys lengkap. So, yay?
Though if I'm being blunt here, kasusnya sebenernya biasa aja. Cuma karena nyawa Ran, Kazuha, "ceweknya Hakuba", dan the Detective Boys dalam bahaya, dan kita dapet paket komplit the Gosho Boys, makanya jadilah movie ini terasa fun buat ditonton.
9. DCM 15 - The Quarter of Silence (2011)
Movie 15 dibuka dengan kasus pemboman yang mengincar Gubernur Tokyo, Asakura. Penonton sudah disuguhkan dengan bagaimana Conan berjuang menyelamatkan seluruh penumpang kereta Touto Line yang baru diresmikan, bahkan sebelum opening film. Namun, ketika ditonton terus ternyata kasus di film ini tidak terlalu spesial, cuma pembunuhan biasa yang dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam dua kecelakaan besar 8 tahun sebelumnya, sebelum Desa Kitanosawa ditenggelamkan ke dasar bendungan.
Saya appreciate beberapa detail-detail kecil sih, seperti character development Mitsuhiko dan Genta setelah mereka bertengkar, kecerobohan Conan yang lupa menyembunyikan bukti bahwa ia adalah Kudou Shinichi (the almighty Kudou Shinichi does make mistake too!), sampai anekdot kecil yang menyebutkan bahwa bocah 15 tahun yang amnesia selama 8 tahun adalah kebalikan total dari Ai dan Conan, dua orang dewasa yang terjebak dalam tubuh anak-anak.
Hal yang juga menarik bagi saya adalah, akhirnya Conan tidak sepenuhnya berperan sebagai protagonis yang rempong sendiri mengatur strategi menyelamatkan orang lain, karena dia malah terjebak di bawah longsoran salju di scene klimaks. Tapi justru karena main characternya hampir mati itu sih, yang membuat ketegangan (dan pengen ikut nangis)-nya selama nonton movie ini jadi berlipat-lipat.
Yah walaupun kalo kita udah paham story tellingnya Aoyama-sensei yang predictable abis, harusnya kita gausah deg-degan juga tahu sih kalo Cone ga mungkin mati :D
8. DCM 7 - Crossroads in the Ancient Capital (2003)
Movie 7 dibuka dengan bocah perempuan berkimono yang bernyanyi di bawah guguran kelopak bunga sakura. Tanpa ia sadari, Heiji kecil sedang menatapnya dari balik teralis sebuah kuil, dengan tatapan penuh cinta (duileh).
Kembali ke masa sekarang, Heiji sedang bergerak untuk menyelidiki kasus pembunuhan beruntun yang terjadi di Osaka, Tokyo, dan Kyoto. Kepolisian menyebutnya "Kasus Pembunuhan Yoshitsune", karena semua korban adalah anggota sebuah perkumpulan dimana anggota-anggotanya dipanggil dengan julukan yang mengambil dari nama pembantu Yoshitsune. Ia juga berniat untuk menemukan cinta pertamanya yang ia lihat di bawah guguran kelopak sakura 8 tahun lalu, sekaligus mengembalikan bola kristal yang ia temukan tepat dimana sang gadis berdiri.
Kasus yang harus mereka berdua pecahkan ternyata cukup kompleks, karena kasus belum juga terpecahkan sampai di akhir-akhir sekali. Di tengah penyelidikan, Heiji berkali-kali hampir mati diserang oleh pria bertopeng, dari anak panah sampai pisau pendek. Penyerangan terakhir akhirnya memaksa Heiji untuk dirawat di rumah sakit, walaupun hal tersebut tetap tidak menyurutkan niatnya untuk tetap melanjutkan penyelidikan. Dalam kondisi yang lemah dan sempoyongan, Heiji mendapat kabar bahwa Kazuha diculik oleh pelaku, dan ia harus datang sendiri ke tempat yang sudah ditentukan dalam waktu satu jam.
Selain kasus utama, penonton juga dibuat bertanya-tanya siapakah cinta pertama yang dilihat Heiji ketika ia berumur sembilan dulu. Heiji sempat mengira bahwa maiko (penari di rumah minum teh) bernama Suzu Chika adalah orang yang dicarinya, karena ia menyanyikan lagu yang sama persis dengan apa yang didengarnya waktu kecil. Apakah benar dirinyalah gadis yang dicari-cari Heiji, mendingan kalian nonton sendiri aja movie ini sampai selesai.
Anyway, saya harus memberi applause kepada tim produser yang cukup kreatif dalam mencari penyelesaian dari situasi buruk yang dialami Heiji-Conan(?)-Kazuha.
Final note: Ending theme movie ini bagus banget, menurut saya salah satu yang terbaik dari 23 movie Conan yang sudah mengudara sampai tahun 2019.
7. DCM 12 - Full Score of Fear (2008)
Movie 12 dibuka dengan aransemen musik klasik yang dimainkan pada sebuah sesi latihan resital di Akademi Musik Doumoto. Latihan tersebut ternyata berakhir bencana, karena gedung tiba-tiba meledak. Tidak terlalu lama setelah salam pembuka, kita disuguhkan kembali dengan aransemen klasik Ave Maria, hasil gubahan Charles Francois Gounod.
Kasus penyerangan ternyata belum berakhir. Conan menyadari bahwa si pelaku ternyata mengincar musisi-musisi yang akan tampil dalam konser, termasuk soprano Akiba Reiko. Entah mujur entah sial, Genta malah meminum teh berisi racun yang sebenarnya ditujukan untuk Reiko, sehingga Reiko selamat. Gladi resik konser masih berjalan dengan normal, namun Conan dan Reiko menyadari bahwa nada yang dikeluarkan instrumen organ ada yang tidak beres. Di tengah penyelidikan, Conan dan Reiko tiba-tiba diserang dan dihanyutkan ke tengah danau.
Perjuangan Conan dan Reiko untuk kembali ke hall konser lumayan penuh drama, tapi justru di sini lah poin seru nya. Tanpa handphone, mereka harus memutar otak untuk bisa memanggil polisi dan membawa mereka segera kembali ke acara konser. Di sini saya jadi tahu, bahwa Conan (Shinichi) sebenarnya punya naluri titik nada mutlak (come on, can't Kudou Shinichi have any flaw?). Selain itu, mereka berdua juga harus memutar otak untuk menyelamatkan gedung pertunjukan yang terancam hancur di akhir konser.
Saya mungkin bias, tetapi poin dari film ini yang membuat saya meletakkan film ini di peringkat setinggi ini adalah karena penampilan musik klasiknya sukses bikin saya mbrambang. Saya bahkan bukan penikmat musik Eropa, tetapi saya nangis mendengarkan beberapa aransemen klasik yang ditampilkan, seperti Ave Maria dan Amazing Grace. Emang sebagus itu gaes.
Selain itu, saya juga suka banget sama kecerdikan tim produser dalam membuat scene heroik di detik-detik terakhir. Dengan caranya sendiri-sendiri, mereka menyelamatkan ratusan orang yang sedang terhanyut dalam alunan musik klasik, tanpa mengetahui bahwa gedung yang mereka tempati sedang di ambang kehancuran, like literally.
6. DCM 5 - Countdown to Heaven (2001)
Receh-receh kemping Detective Boys agak terusik ketika penonton diperlihatkan Ai alias Sherry, yang terlihat menelepon diam-diam tengah malam dan memberitahukan tempat singgah anak-anak tersebut ketika pulang kemping. Kecurigaan meningkat ketika di frame selanjutnya terlihat Gin dan Vodka yang menyebutkan lokasi yang sama dan berniat membunuh seseorang. Benar saja, beberapa hari setelah mereka mengunjungi gedung yang baru akan diresmikan tersebut, seorang anggota dewan dan seorang programmer yang membantu pembuatan gedung tersebut ditemukan mati terbunuh, dan di dekat mayat mereka ditemukan cangkir sake yang terbelah. Yang lebih mencekam lagi, Gin dan Vodka ternyata telah mengetahui apartemen pribadi milik kakak Haibara dan mengetahui bahwa Ai juga akan pergi ke pesta peresmian gedung tersebut...
To be frank, kasus yang harus dipecahkan Conan sebenarnya biasa aja. Tapi yang bikin atmosfer film jadi menegangkan dan seru adalah karena kita tahu, Black Organization kembali mengejar Ai. Sepanjang pemecahan kasus pembunuhan berantai, Conan juga harus berusaha untuk meng-outwit Gin dan Vodka, untuk melindungi Ai.
Namun, tentu saja Black Organization akan memilih waktu-waktu yang paling fucked-up, yang paling strategis dan mematikan untuk bertindak. Dalam prosesnya kali ini, mereka menjebak seluruh undangan pesta di lantai 75, serta nyaris menembak kepala Sonoko yang khusus hari itu sedang berganti gaya rambut. Conan dan Detective Kids terjebak, sementara Ai yang sudah menyerah melarikan diri dari Black Organization hampir saja memilih mati di gedung yang nyaris hancur itu.
Ketertarikan saya pada buku karya John Grisham muncul ketika seseorang di litbase merekomendasikan (kepada orang lain), untuk membaca buku beliau, katanya lebih seru dari Dan Brown. Pun, menfess nanya novel tentang lawyer juga berkali-kali muncul sampe saya bosen bacanya, jujur aja. Someone need to reupload that damn thread about searching the question first before sending message because it's BOSENIN BANGSAT dan netijen lagi-lagi kompak menyodorkan satu nama: John Grisham.
Why "The Firm"? Ya random aja. I'm way too lazy to search around, and I don't think it's wise to start with something I know is the best. Kalau tahu buku yang saya pilih bukan yang terbaik, saya akan malas-malasan mulainya. Kalau tahu buku yang saya pilih sudah yang terbaik, kalau ternyata zonk saya akan kecewa berat karena terlanjur numpuk buku si penulis yang bersangkutan. So yeah, I start blindly and let myself explore the unknown. (Lalu someone teriak: YA JANGAN NUMPUK BUKU DULU LAH, JAENAB)
The Firm bercerita tentang seorang lulusan Harvard law school, Mitchell Y. McDeere, yang sedang mencari pekerjaan. Sebagai lulusan top 3 di angkatannya, ia sudah mengantongi banyak penawaran pekerjaan, namun masih window shopping sebelum memutuskan dimana ia akan bekerja. Ketika akhirnya ia diwawancara oleh hiring partner sebuah law firm kecil nyaris tanpa nama, yang berbasis di Memphis (Memphis ini kalo di Indonesia mungkin kaya Jambi atau Sulbar -- bukan kota besar yang menarik hati lulusan terbaik ambis lah pokoknya), ia akhirnya tergoda untuk beralih dari firma hukum di Wall Street untuk bekerja di tempat tersebut.
Bagaimana tidak? Gaji menjanjikan (berkali-kali lipat lebih besar dari tawaran Wall Street law firms manapun), absolute zero turnover (firma besar rata-rata memiliki 28%, yang berarti mereka akan kehilangan 3 dari 10 karyawan mereka setiap tahunnya), dan kesempatan menjadi Partner dalam kurun waktu 5 tahun. Belum lagi fasilitas cicilan KPR berbunga super rendah, bonus mobil BMW baru yang di-leasing-kan oleh perusahaan, dan jaminan biaya sekolah untuk anaknya kelak.
Though I smell that something is definitely fishy. If something is too good to be true, then it's definitely either not true, or hiding something that is not right. Saya memegang prinsip ini sejak pertama kali saya membaca penawaran waw yang disampaikan.
And...it is.
Alur cerita tergolong cepat. Dari awal, pembaca sudah disuguhkan tindakan-tindakan mencurigakan yang diambil oleh petinggi-petinggi Bendini, Lambert & Locke (BLL). Nuansa ini memunculkan empati pembaca terhadap Mitch, the poor clueless new guy yang tanpa sadar masuk ke kandang naga. Mitch hanya tahu bahwa law firm tersebut menjunjung tinggi kerahasiaan dan cenderung terobsesi dengan "being secretive". Karena adanya situasi berbahaya yang mengancam main character seperti ini, pembaca ga merasa bosan membacanya walaupun the real conflict belum muncul sampe pertengahan buku. Lha wong main character-nya ga sadar kok kalo lagi masuk perangkap.
Shits are elevated even higher, ketika Mitch akhirnya curiga bahwa ada hal yang tidak beres dengan BLL. Ia akhirnya menyadari bahwa klaim "zero turnover" yang disampaikan di awal -- itu karena memang siapapun yang berniat keluar firma akan langsung dihabisi nyawanya. Hal itulah yang ternyata terjadi pada dua attorney yang pemakamannya ia hadiri di hari pertamanya bekerja -- dan dua mantan staf lainnya, termasuk satu-satunya attorney wanita yang pernah dipekerjakan BLL. Mitch akhirnya semakin yakin bahwa hidupnya dan istrinya, Abby dalam bahaya -- ketika detektif swasta yang disewanya ditemukan tewas dengan luka tembak yang mencurigakan. Setelah berkali-kali ditemui oleh agen FBI, ia akhirnya bertekad untuk melakukan hal yang sama sekali belum pernah dilakukan oleh attorney BLL selama dua puluh tahun -- kabur dari firma dalam keadaan hidup.
Tingkah polah dan intrik Mitch dalam menjalani kehidupannya sebagai double agent dengan triple role, ternyata cukup untuk memaksa saya membuka halaman demi halaman novel ini, almost non stop. Walapun awalnya Mitch terlihat membosankan (just your common workaholic newcomers), tetapi kecerdasannya lama-lama terlihat -- dan membuatnya jadi super attractive. Bagaimana ia menyeimbangkan demand dari dua kubu yang saling berlawanan -- mafia konspirasi BLL dan direktur FBI - dan memainkan dua peran -- pawn sekaligus mastermind -- hanya untuk keluar dari firma, benar-benar menjadi premis yang menegangkan.
Setiap perkembangan plot benar-benar berarti, tanpa diselingi filler-filler membosankan. Pembaca sama sekali tidak bisa menebak bagaimana cerita akan berakhir, karena sampai 95% pun ternyata ketegangannya ga habis-habis spoiler: ternyata endingnya standar. Walaupun tidak banyak humor di buku ini, tetapi somehow tetep asik-asik aja dibacanya. Walaupun bahasa yang dipakai not exactly learner-friendly, tetapi juga tidak terlalu berat sampai harus mengecek kamus setiap menit (PS: saya level intermediate B1 ya, jadi untuk mencerna vocabs dari konteks sudah lumayan bisa).
Balik ke review random stranger di awal, tentang bahwa buku-buku beliau lebih baik dari Dan Brown? Well, my subjective taste says no (not that they are even comparable tbh -- nilai jual Dan Brown kan di detail-detail sejarahnya juga ga cuma sekadar crime action). But I also testified that this book gave me a pretty solid reading experience. Predictable yes, but who am I complaining when it still gave me this much fun?
I will definitely read Grisham's another books, soon! Di goodreads ada banyak buku beliau yang lain yang ratingnya lebih tinggi so I'm excited!!
Read Agatha Christie Entry #1: Mystery at Mansions
Review ini ditulis sebagai tulisan tambahan dari resensi buku yang diunggah di instagram dan (a super duper short) reaction thread di twitter. Karena platform instagram kurang cocok dengan tulisan panjang, makanya saya membuat versi ini sebagai versi lebih "gue banget" (aka bacot, ngalor ngidul).
So this month theme would be those unraveling in a mansion! I read the Crookes House already (it's such a good piece btw, the plot twist), so I guess I'll put my hand on 'The Mysterious Affair at Styles' pic.twitter.com/AmGdAVRYJf
Saya mengawali buku ini dengan good feeling, dimana penokohan dan dialognya mengingatkan saya pada the universe of Sherlock Holmes. Teman main character (Capt. Arthur Hastings) yang bernama John memiliki istri bernama Mary lumayan mengingatkan saya pada canon Sherlock Holmes mulai dari buku The Sign of Four. Hastings sendiri juga diceritakan adalah mantan perwira militer yang terpaksa pensiun karena luka perang - mirip karakter John Watson. Ga cuma itu, nama Sherlock Holmes sendiri disebutkan sebagai referensi detektif kenamaan, sehingga ego saya sebagai penggemar (dari penggemarnya) beliau jadi agak melambung.
Sedikit.
Namun, story telling khas Agatha Christie mulai bergulir dan mengingatkan saya kembali pada alasan kenapa saya ga banyak baca buku beliau, sekalipun saya tergila-gila dengan cerita fiksi kriminal.
Walaupun setting cerita menegangkan, membingungkan, dan membuat kecenderungan Thinking saya berputar, tetapi saya tetep ga dapet hook dari cerita ini. Mood cerita dari awal sampai akhir terasa sangat datar, walaupun dialog dan plot jelas-jelas sedang menuju klimaks.
Mungkin otak saya aja yang ga sanggup dijejali banyak detail, ya. Soalnya bahkan ketika saya baca pemecahan kasusnya, saya sering kali menemukan momen "Oh, tadi Hastings nemu seperti ini ya?", "Oh, si A tadi begini ya?" Saya harus baca bagian penting ini setidaknya dua kali, untuk benar-benar memahami kasusnya. Itu pun harus dalam kondisi segar dan tidak ketiduran.
Like, having to remember the exact details of seven, eight suspects with barely any supporting illutration is too much for my old brain. And not to mention that the whole affair is just...messy. The whole ordeal really, is not as simple as one people kills someone and the detective needs to find out the culprit and their motives.
Spoiler
Jadi satu orang berkonspirasi dengan orang lain untuk merencanakan pembunuhan, tapi rencananya gagal.
Di tengah-tengah, ada orang lain lagi yang punya kepentingan, dan merencanakan sesuatu terhadap si korban.
Begitu rencana si pelaku asli akhirnya berhasil, tiba-tiba muncul orang lain lagi yang mengacaukan TKP dan alibi karena mengira bahwa pujaannya adalah pelaku pembunuhan.
On top of this mess, penyebab, asal muasal kenapa A melakukan B dan C melakukan D juga dijabarkan, berikut bukti-buktinya.
And to think bahwa trik pembunuhannya sebenarnya sederhana, tetapi situasi TKP dan alibinya kacau banget kaya benang kusut.
Oh, my poor brain. Kek mana mau memahami layer-layer misteri begini dalam satu kali baca. Saya sampe harus nulis penjelasannya, biar otak saya bisa nangkep ujung pangkalnya.
T_T
Tapi somehow saya ngerti, kenapa Agatha Christie jadi famous banget. Selain karena emang sudah menulis hampir seratus judul buku (misteri semua), cerita yang beliau tulis tuh memang sangat detail, semua dijabarkan. There's no room for any error, loophole, and unsolved question (maybe there is, but I do not have brain capacity to detect 'em). Kebayang aja kan kualitas otak beliau, kalau melihat debut worknya aja sudah sebegini kompleks.
Though, I do not remember any of her other book being this multi-layered. Kalau sekedar kompleks sudah pasti, karena memang beliau sangat detail membuka trik dan motif (+ pushing factor) kejadian misteri yang ditulis. Tapi misterinya. Baru ini kayanya, pengungkapan kasusnya itu sendiri sampe bikin saya separo gumoh :D
Kayanya misteri yang dipecahkan Sherlock Holmes aja gaada yang segini ancur-ancurannya deh T__T
Novel Girls in the Dark yang mindblowing (my review here) cukup menjadi pemicu saya buat baca novel Rikako-sensei yang lain. Pilihan saya jatuh ke Absolute Justice, karena somehow cover belakangnya menarik. "Seharusnya monster itu sudah mati..." mau tidak mau mengingatkan saya pada twist pertama novel Girls in the Dark (sebelum akhirnya dipatahkan lagi oleh twist kedua, tapi kita ga akan bahas itu di sini).
Punch di awal bab pertama memang lumayan "berisi", terlepas dari detail jalan pikiran tokoh yang bagi saya penting-ga-penting. Kazuki Imamura, seorang penulis lepas suatu hari mendapatkan amplop berisi undangan pernikahan berwarna ungu. Hatinya mencelos, ketika ia menemukan bahwa undangan pernikahan tersebut ternyata berasal dari Noriko Takaki, teman SMAnya yang sudah meninggal. Ia yakin betul, karena ia sendiri lah yang membunuhnya.
Cerita kemudian berlanjut ke flashback masa SMA Kazuki, betapa Noriko adalah siswi SMA yang baik. Sangat baik, sangat jujur, dan sangat menjunjung tinggi kebenaran. Seharusnya ga ada masalah, dong? Bukannya kebenaran, hukum, memang harus ditegakkan?
Tentu saja, selama kita tidak menjadi "pelaku" yang dipermalukan. Seperti guru yang akhirnya dipecat karena membela tiga siswa yang merokok di sekolah, siswi yang surat-menyuratnya dibacakan di depan seisi kelas, atau siswi yang harus membayar ekstra 30 ribu yen karena harus mengganti seragam baru yang jadi kependekan karena perubahan bentuk tubuh yang di luar kendalinya.
Atau penulis yang kariernya sedang dipertaruhkan, karena mengumpulkan data secara "manipulatif".
Sebagian besar bab pertama sebenernya isinya cuma flashback kerese-an Noriko selama hidupnya aja, yang menyebabkan Kazuki akhirnya ga tahan dan ended up membunuh perempuan itu. Seharusnya formula ini tidak terlalu repetitif, seandainya saja alur ini tidak di copy-paste empat kali untuk empat tokoh lainnya. Well, surprise surprise, empat sahabat Kazuki yang lain ternyata sama empet-nya kepada Noriko, dan akhirnya mereka semua bersekongkol membunuhnya.
Yup, saya akhirnya nemu lagi buku yang premisnya menarik, tapi eksekusinya borderline membosankan.
Bahkan resolution di akhir cerita juga tidak membantu mengangkat keseluruhan cerita menjadi menarik. Okay, I'll dump the spoiler here, for I'd care. Ternyata yang mengirimkan undangan tersebut adalah putri dari Noriko. Dan surprise surprise, sebagai anak perempuan yang hidup 24 jam bersamanya, kebenciannya pada Noriko tentu berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan kekesalan keempat sahabatnya.
Masalahnya, karakter baru yang memegang peranan penting ini dimunculkan begitu cerita sudah hampir selesai. Dan hal tersebut justru membuat punch klimaks cerita jadi berkali-kali lipat lebih lemah, karena pembaca sama sekali tidak memiliki informasi dan engagement tentang si tokoh baru ini. Bagian resolusi misteri yang seharusnya membuat lega, kesannya malah jadi seperti copy-paste kasus untuk yang kelima kalinya. Kayak yang, "ini apaan sih nambah-nambah cerita yang repetitive dari yang udah di depan-depan"
Saya ngerti, penambahan karakter Ritsuko ini sebenarnya untuk men-setting ending yang "caper-ish", seperti biasa dilakukan pada cerita misteri. Tapi bukannya akan lebih cakep kalau pelakunya diambil dari salah satu keempat sahabat yang berkhianat, atau suaminya? Atau kalau mau tetap pakai tokoh Ritsuko, kenapa ia tidak dimunculkan lebih awal agar setidaknya pembaca aware bahwa Noriko punya anak perempuan yang nantinya akan penting bagi penyelesaian cerita? Biar kesannya ga author script-immunity banget, kindof "gue yang nulis, suka-suka gue mau bikin ending kaya apa".
I mean, even the worst decoy protagonist plot armor kan bisa dibikin cantik? T___T
Well, karena memang kenyataannya begitu, saya juga bisa bilang: "this book ends like shit"
By the way, tapi saya mau point out beberapa pelajaran yang cukup makjleb, yang saya ambil dari novel ini.
Saya disadarkan, bahwa "kebenaran" ga selalu berbanding lurus, dan berjalan beriringan dengan kebijaksanaan. Manusia bukan robot, bukan cyborg yang bisa disetel kapan ia bertindak 1 dan kapan 0. Nature manusia memang abu-abu, sehingga kita ga akan bisa memaksa orang lain untuk bertindak precisely di sisi hitam atau di sisi putih. Menjunjung kebenaran dan hukum secara kaku, setinggi-tingginya justru malah bisa memicu konflik dan kehancuran, sehingga malah kontradiktif dengan tujuan mengapa peraturan itu sendiri dibuat.
Nah, jadi mana yang kita pilih? Hidup dengan benar, atau hidup dengan harmonis? Atau hidup dengan menyeimbangkan keduanya, kadang bener kadang slengean? :D