Jan 6, 2021

2020 reflection: Masak!

Kalau boleh memilih satu saja hal positif dari kegabutan saya selama tahun 2020, itu adalah saya jadi punya banyak sekali waktu luang buat belajar dan memulai kebiasaan-kebiasaan baru. Saya jadi rajin eksplor opsi olahraga, saya belajar photo manipulating, dan juga: memasak!

Saya tinggal di lingkungan yang alhamdulillah, bersih. Jauh dari tetangga, jauh dari keramaian, bahkan warung terdekat pun jaraknya sekitar 5 km dan harus melewati jalan naik turun yang lumayan bikin betis bengkak. Dalam situasi serba jauh dari mana-mana, saya yang mendadak jadi person in charge untuk memasak jadi harus pintar-pintar mengatur, mempadu-padankan bahan-bahan yang available di rumah, karena kalau ada bahan yang kurang tuh ga gampang belanjanya.

Termasuk bumbu! Padahal kita kan tahu ya, buat lidah orang Indonesia, bumbu dan rempah-rempah itu ga boleh kurang, harus lekoh dan nendang.

Karena sekarang yang in charge masak di rumah adalah saya, saya memutuskan untuk mulai mengurangi pemakaian MSG di dalam masakan. Entah dalam bentuk MSG murni (S*sa, Aji**moto) atau MSG bentuk kaldu (Mas**o, Ro**o). Saya tahu MSG sebenarnya tidak berbahaya selama pemakaiannya dalam batas wajar, tapi saya pengen ada tantangan tersendiri aja dalam memasak. Bisa ga sih, saya masak enak tanpa "cheating"?



Saya menemukan bahwa untuk masak enak, sebenarnya kita cuma perlu meng-combine rasa yang ada. Entah dari bumbu atau dari bahan makanan itu sendiri. Ga cuma asin saja atau manis saja, tapi harus ada sedikit rasa lain sebagai penyeimbang. Bahkan rasa pahit juga bisa bikin rasa masakan jadi sedap, lho! Nah, dari pengalaman saya, saya jadi tahu bahwa sebenarnya dalam kita meng-combine rasa tuh ada beberapa prinsip yang bisa kita pake biar rasa masakan kita lebih sedap, kompleks, dan ga ngebosenin!



1. Dish manis: Tambahkan sedikit asin


Masakan yang rasa dasar (dominan)-nya manis, akan lebih nikmat kalau ditambahkan sedikit rasa asin. Yes, including dessert seperti puding agar-agar atau kue bolu!

Rasa asin nya tidak harus dari garam, kok. Kita juga bisa mendapatkan rasa asin dari susu atau keju, misalnya.


2. Dish asin: Tambahkan rasa manis


Penambahan rasa manis ke makanan asin membuat rasa masakan jadi lebih kaya dan umami-sh. Sumber rasa manis ini bahkan lebih banyak lagi dari perasa asin, tidak melulu harus menambahkan gebokan gula ke dalam masakan.

Misalnya untuk sop sayuran, rasa manisnya bisa didapatkan dari bawang merah dan sayuran wortel. Rasa manis untuk tumisan daging sapi lada hitam bisa didapatkan dari bawang bombay. Lalu nasi goreng yang gurih, akan lebih sedap jika ditambahkan kecap manis.


3. Masakan amis dan berminyak: tambahkan rasa asam


Ada alasannya kenapa kita selalu dikasih bungkusan kecil acar ketika jajan martabak telur. Karena main dish nya berminyak dan cenderung amis, lidah kita akan butuh sesuatu yang segar agar tidak eneg walaupun makan dalam jumlah banyak. Nah, kita juga bisa aplikasikan konsep ini ke dalam masakan lain.

Misalnya sop buntut yang nikmat sekali kalau ditambahkan tomat, atau masakan ikan bersantan yang ditambahkan sedikit belimbing wuluh atau cuka. Atau satu porsi nasi padang yang ditutup dengan es jeruk nipis segar. Yummy!


4. Duh, pedes banget nih!


Terkadang kita kebablasan memasukkan cabai ke dalam masakan. Biasanya kita akan tambahkan air atau tambahkan bahan makanannya biar pedasnya ter-dilute. Tetapi kalau misalnya yang terlalu pedas adalah sambal goreng, tentu akan PR sekali kalau kita harus goreng lagi bawang merah dan bahan lainnya. Solusinya, kita bisa akali dengan menambahkan sedikit gula merah.


5. Dish dengan rasa yang "spesial": Pedas is your savior


Ibu saya pernah diminta mengolah anak tawon untuk dijadikan lauk makan. Yes, larva lebah madu yang putih2 seperti cacing dan kalau diolah lengket-lengket itu! Ibu saya ga kehabisan akal, akhirnya beliau olah bahan tersebut menjadi tumis kering anak tawon. Dimakan panas-panas, ternyata yummy! Nah, kalau bahan se"aneh" anak tawon saja bisa jadi lezat, kalau cuma se"intimidating" sayur pare tentu bisa dong, di-pedes-in aja! :)


Kalau mau cari tahu selengkapnya, kalian bisa googling dengan keyword "flavor pairing" ya! Di google lengkap banget informasinya kok!

Source: cookmarts.com


Jan 2, 2021

My Personal Detective Conan Movie Rank - Part 2

Sudah D-105 menuju perilisan (di Jepang) movie Detective Conan ke-24, The Scarlet Bullet! Di tengah-tengah masa penantian super berat ini, fans Detective Conan dikasih kue gurih spesial oleh Aoyama-sensei di chapter Detective Conan terbaru, chapter 1066. Akhirnya, identitas RUM di-reveal juga, yang ternyata adalah Wakita Kanenori. || Check the chapter online here: mangadex

Front page official website Conan Movie 24: The Scarlet Bullet

Yah, walaupun sekarang ditinggal hiatus lagi sih, sama sensei. Selama penantian ke chapter Detco selanjutnya (yang seperti biasa, setelah major revealance pasti ya bakal dikasih misteri-misteri "receh" yang ga terlalu ada sangkut pautnya sama the major plots - those related to Black Organization. 

Cover of the latest Case Closed/Detective Conan manga (scanlated by Beika Street Irregulars)

 

Anyway, saya mau drop lagi part kedua dari review ke-23 past Detective Conan movies. 

Sebelum mulai, mau disclaimer dulu (lagi) bahwa daftar ini adalah my personal rank, starting from the least favorite to my ultimate loml. Will be full of bias obviously, jadi selera saya mungkin beda dengan selera yang lain. Biar masing-masing bagian ga kepanjangan, review flashback ini dipecah menjadi 4 part. Tulisan ini akan membahas rangking 11 sampai 16 aja.

Previous post (rank 17-23): here



Note: List ini terbatas pada anime film only, dan ga termasuk: Special TV film, Detco crossover movies, maupun live action movies.
 

Well, review saya di postingan pertama saya akui memang niat-ga-niat. Memang sebanding sama kepuasan yang saya dapat sih. Jadi, semakin tinggi peringkat, semakin panjang juga bacotan saya nantinya haha


16. DCM 17 - Private Eyes in the Distant Sea (2013)

 

Conan squad mendapatkan tiket untuk menikmati kapal perang Aegis Destroyer. Saat latihan perang sedang berlangsung, tiba-tiba ada benda tak dikenal yang mengarah ke kapal. Walaupun awak kapal berhasil menyelamatkan diri, tetapi insting Conan mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Apalagi ketika ia melihat Yuuki, seorang anak 7 tahun yang tersesat sendirian dan terlihat tidak nyaman digandeng oleh ayahnya, serta Fujii Nanami, angkatan laut wanita yang berbohong akan identitasnya.

Saat Conan dan Ran tersesat mencari toilet, mereka masuk ke sebuah ruangan dan mengetahui bahwa lengan kiri seseorang baru saja ditemukan menyangkut di sistem perpompaan kapal. Saat Conan menyelinap dalam investigasi, ia mengetahui bahwa ada mata-mata asing yang menyelinap masuk ke dalam kapal. Ia juga meminta tolong Heiji di darat untuk mengecek apakah di pantai sekitar telah ditemukan mayat tanpa lengan kiri.

Case closed in the end though, yippie. Namun, seperti business-as-usual-nya Detco movie, pasti ada aja kegaduhan tambahan di luar kasus yang bikin penonton deg-degan. Kali ini, Ran yang diserang oleh si mata-mata (will not going to spoil yall for this one) tenggelam di laut sendirian, dan baru diketahui beberapa menit sebelum matahari tenggelam, kondisi gelap dan suhu air laut menurun drastis.

Ah, kalau saja kekuatan cinta bisa selalu semanjur teriakan Ran dan Conan ya :D



15. DCM 19 - Sunflowers of Inferno (2015)
 


Awalnya cukup menjanjikan, dimana Kaito Kid terlihat sedang membuntuti keluarga Suzuki (Jirokichi dan Sonoko) yang sedang menghadiri acara lelang lukisan Van Gogh yang lama hilang: Himawari. Setelah berhasil mendapatkannya dengan harga fantastis, mereka mengumumkan bahwa lukisan tersebut akan dipajang di pameran yang mereka adakan di gedung ekshibisi yang baru mereka bangun. Seolah mengibarkan bendera perang, ia muncul di lokasi lelang dan membuat keributan. Belum selesai urusan, ia kembali mengacau dengan menyamar sebagai Kudou Shinichi, meledakkan mesin pesawat ketika sedang mengudara, dan membawa kabur lukisan seharga 500 juta yen tersebut.

Seluruh kesalahan tentu akhirnya dilimpahkan kepada Kid. While kita mungkin paham kalau Sonoko membela Kid (bahwa Kid tidak akan pernah melakukan sesuatu yang membahayakan nyawa orang lain), penonton semakin dibuat berpikir ketika even Inspektur Nakamori dan Conan berpendapat sama. Kejahatan-kejahatan "Kid" semakin berbahaya, dari meminta uang tebusan 10 miliar yen, mematikan pasokan listrik gedung, dan membakar seluruh ruang ekshibisi. Kid ini sebenarnya kenapa, sih?

Spoiler alert: Kid aman. Namun, hal tersebut belum berarti kasus selesai, karena ia dan Conan masih harus menyelamatkan salah satu lukisan yang terancam terbakar, menyelamatkan diri dari gedung yang runtuh, serta membawa keluar Ran yang pingsan ketika menghirup asap api. Seperti biasa, bagaimana Conan (dan Kid) menyelamatkan diri dari situasi genting ini lah yang membuat penonton sport jantung.

 

14. DCM 9 - Strategy Above the Depth (2005)

 

Conan dkk diundang menggantikan keluarga Suzuki untuk berpesiar dengan kapal mewah Aphrodite. Ketika mereka sedang bermain petak umpet, tiba-tiba Sonoko diserang dan dimasukkan ke dalam peti mati. Di saat yang bersamaan, Pimpinan kapal Takae ditemukan terbunuh di kamarnya, sementara Presiden Grup Yashiro menghilang dengan hanya meninggalkan jejak berupa kipas yang tertinggal di dasar lambung kapal. Kogoro dan Conan tidak punya petunjuk lain selain kesaksian Kogoro yang melihat seseorang yang memakai jaket windbreaker keluar dari kamar korban.

Misteri ini ternyata berkaitan dengan kejadian 15 tahun lalu yang sempat ditunjukkan dalam flashback di awal film, ketika kapal pesiar Yashiro I tenggelam karena wakil kapten kapal sengaja terlambat memberitahukan keberadaan gunung es sehingga kapal terbakar dan tenggelam. Ketika Conan memecahkan kasus di atas kapal, di saat yang bersamaan Miwako dan Chiba juga memecahkan misteri kecelakaan yang menyebabkan suami Pimpinan Takae terbunuh. Namun, ketika Conan sedang memecahkan kasus, si pelaku tiba-tiba mengancam untuk meledakkan kapal...

Well, this is where the real shit finally begins. The ship was sinking, Detective Kids joining Conan chasing the culprit, dan Ran ONCE AGAIN fucked her life untuk mengambil medali hadiah dari Detective Kids and bikin susah semua orang 

(for God sake why does it always Ran...'-').

I do like Kogoro's bonus attempt in the end though. Dan Detective Kids actually saved people, this time. I'm so proud of my brats uwuwuwu.




13. DCM 1 - The Time-Bombed Skyscraper (1997)

 

Setelah memecahkan kasus di rumah seorang klien (via Kogoro), Conan disibukkan dengan limpahan surat-surat penggemar untuk ayahnya. Di antara tumpukan surat tersebut, terdapat satu surat permohonan untuk Kudou Shinichi dari arsitek terkenal, Moriya Teiji. Jelas tidak bisa hadir dalam wujud Shinichi, ia meminta tolong Ran dan Kogoro untuk menggantikannya. Namun, tiba-tiba Ran menodongnya lewat telepon agar ia menonton bioskop pada 3 Mei, jam 10 malam.

Dalam kondisi setengah panik karena ia tidak bisa membatalkan janjinya pada Ran, ia tiba-tiba mendapatkan telepon dari seseorang yang mengaku telah mencuri bahan peledak. Di lokasi tempat mereka janjian bertemu, ternyata seseorang sudah memasang bom plastik pada mainan yang ditemukan oleh Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko. Conan akhirnya pontang-panting mencegah bom selanjutnya meledak, sambil mencari siapa dalang dibalik kasus  pemboman. Masalahnya, bom terakhir ternyata berada di...

That's it. Not going to spoil the best part of the movie lol. Bear until the very end, karena best part-nya memang sangat di belakang banget. Trust me.

Kerasa sekali jadulnya movie yang ini. Selain gambarnya masih serba bulat, Ran juga lebih sering pinjam telepon daripada pakai handphone. Eh btw, tahun 1994 Shinichi udah bisa beliin handphone buat Ran, duitnya banyak juga ya berarti '-'...


12. DCM 3 - The Last Wizard of Century (1999)
 

Kali ini kepolisian Jepang dihebohkan dengan surat dari Kaito Kid yang mengatakan bahwa ia akan mencuri The Egg of Miracle, sebuah mahakarya kerajaan Rusia milik perusahaan Suzuki. Kepolisian dan Kogoro menyimpulkan bahwa ia akan beraksi di Osaka pada pukul 3 pagi. Namun, Conan dan Heiji sadar bahwa Kid akan beraksi pada jam 7.20 malam di tempat yang sama sekali lain. Terlambat, Kid sudah berada di lokasi dan berhasil kabur. Di tengah-tengah pelariannya, seseorang menembak Kaito Kid. Telur tersebut selamat, namun Kaito Kid menghilang.

Untuk melindungi telur tersebut dan telur pasangannya, Conan dkk akhirnya diajak untuk berkunjung ke Puri Yokosuka bersama dengan peneliti dan tiga orang peminat telur tersebut. Di perjalanan, kembali terjadi penembakan yang menyebabkan tewasnya salah satu peminat. Conan berusaha memecahkan kasus tersebut, serta mencoba menemukan telur pasangan yang lebih besar di suatu ruangan di puri, tanpa sadar bahwa Ran dan Inspektur Shiratori sedang mencurigai kecerdasannya yang tidak biasa, persis seperti apa yang disebutkan di ramalan yang diambilnya di Kuil Naniwa.

Setidaknya ada tiga main thrilling points di film ini. Yang pertama: Ran (dan Shiratori?) yang mulai sadar bahwa Conan adalah Shinichi. Kedua, pembunuh Kaito Kid dan korban pertama masih berkeliaran bersama mereka di puri. Ketiga, misteri dari telur dan puri itu sendiri, yang akhirnya mengungkap sebuah rahasia yang disimpan dari tahun 1900an. Dan ini belum termasuk climax plot bangsyadh di akhir-akhir ala Aoyama-sensei. Plotnya tidak terlalu banyak twist maupun ketegangan, tetapi alur cerita cukup padat sehingga waktu 1 jam 40 menit tidak terasa membosankan.

PS: ada satu part menarik yang sayang banget tidak muncul di canon. Not going to spoil it here, tapi tahanin aja nonton sampe belakang, ok? :D Clue: Ramalan.


11. DCM 23 - The Fist of Blue Sapphire (2019)
 


Walaupun Ai bersikeras menolak untuk memberinya antidote APTX 4869, somehow Conan masih bisa menginjakkan kaki di tanah Singapura. Kaito Kid yang (lagi-lagi) menyamar sebagai Shinichi ternyata turut membawa Conan serta di dalam koper khusus, sehingga ia tetap bisa berkeliaran di sekitar Ran walaupun dengan harus menyamar sebagai bocah asli Singapura. Mereka datang untuk mendukung Makoto di turnamen karate internasional. Hampir batal bergabung karena sponsor Makoto menjadi korban pembunuhan, ia akhirnya berhasil masuk dengan sponsorship dari Sonoko. Sementara itu, Kid hadir untuk mencuri permata bajak laut yang tertanam di sabuk kemenangan turnamen, permata yang dijuluki "The Fist of Blue Sapphire".

Lawan Kid kali ini ternyata bukan sembarangan orang. Leon Lowe, orang yang dihadapi Kid kali ini, adalah seseorang yang memiliki kecerdasan dan kepekaan yang tidak biasa, sehingga lumayan menyulitkan Kid untuk mengambil permatanya di kesempatan pertama. Situasi semakin memanas ketika Leon mulai mengancam Makoto, sekretarisnya ditemukan terbunuh tepat dimana Kid sedang berusaha mengambil permata, dan Sonoko ditemukan pingsan ditabrak mobil polisi. Dua kali kena fitnah dan dikejar-kejar kepolisian Singapura, bagaimana Kid menyelamatkan diri?

Sampai pertengahan film, cerita lebih banyak berfokus pada Kid. Namun, begitu semua petunjuk disatukan, akhirnya terungkap hal besar yang ternyata ada dibalik semua kekacauan di film ini. Plot twist nya lumayan banyak, bener-bener bikin penonton hah hoh berkali-kali. Semua cameo yang muncul di depan ternyata dapet perannya masing-masing, both in good and awful way. 

Ngomong-ngomong, seperti biasa, Kid dan Conan harus memutar otak menyelamatkan semua orang yang SOMEHOW fucked up their movement that almost cost their life. Again.

23 same damn plots and somehow I'm still following this dragged-ass series.

Bulol ya gini.

Dec 31, 2020

The Majesties: Both "Crazy Rich Asians" and "NOT Crazy Rich Asians"

Some random people on booktwt referred me this book, highlighting about South East Asian and Chinese-Indonesian representation.

Iseng cek goodreads, it got a bad rating. 3.33 out of 5.

Di awal-awal saya masih berprasangka baik dan tetep cari bukunya. Saya pikir, mungkin mereka ga dapet konteks budayanya. Kalau bicara Chinese-Indonesian past, pasti otak saya nangkepnya ke tragedi 1997-an, sehingga orang-orang bule mungkin ga dapet betapa mengerikannya kondisi saat itu. Bagi orang keturunan Tionghoa di Indonesia, khususnya.
 


 

I read my first page and I kinda understand why people rate it low.

Dua paragraf pertama sebenarnya menarik. Narrator sekaligus tokoh utama, Gwendolyn, menceritakan bahwa saudara perempuan (kembar?)nya, Estella baru saja membunuh 300 orang sekaligus, termasuk dirinya sebagai satu-satunya korban selamat. Dengan starting point seperti ini, saya langsung asumsikan bahwa buku ini adalah buku crime, thriller, atau setidaknya ada bagian serunya lah. Membunuh 300 orang sekaligus bukan perkara sepele, bukan? Bahkan William James Moriarty aja akhirnya suicidal sendiri. (This Moriarty, not this Moriarty)

Tapi ternyata memang butuh ketangguhan hati dan kesabaran ekstra untuk membaca lembar demi lembar buku ini. Apalagi untuk orang yang biasa dengan plot yang tek-tek-tek dan jelas arahnya. Kisah kehidupan Gwendolyn dan Estella sebagai salah satu keturunan klan taipan Indonesia keturunan Chinese, Sulinado, ternyata dituliskan secara detail. Agak terlalu detail, sehingga saya lumayan bingung apa hubungannya penjabaran Opa mereka yang menikah lagi, lalu pernikahan Estella dengan pewaris klan taipan Angsono yang kurang harmonis, dengan alasan kenapa Estella membantai seluruh orang-orang yang hadir di pesta. Lalu, kenapa Tante Sandra terus-terusan disebut dan dicari-cari sampai ke Amerika? Serta yang paling mendasar: apa hubungan semua penjabaran tersebut dan ilustrasi kupu-kupu yang sering muncul, dengan judul novel ini sendiri, The Majesties?
 


 
Untungnya, di akhir cerita, penulis menghubungkan semua cerita menjadi satu kesimpulan. Di dua bab terakhir ini, pembaca baru bisa mulai menyambungkan semua kejadian-kejadian yang muncul di sekian ratus halaman sebelumnya menjadi satu gagasan, pemahaman yang solid. "oalah..jadi gitu".

Latar dan detail cerita sebenarnya cukup akurat, sehingga menunjukkan bahwa penulis, Tiffany Tsao benar-benar memahami kehidupan konglomerat Chinese-Indonesian. Cara tokoh cerita memanggil keluarga -- "Om, Tante, Oma, Opa" membuat cerita sangat terasa lokal, bagi saya yang memang seumur hidup cuma mentok di Indonesia (not sure apakah detail ini matters buat pembaca internasional -- mengingat buku ini dipasarkan untuk mereka). 

Plot-plot kecil yang muncul sebenarnya cukup dramatis, apalagi jika pembaca memang pernah mengalami hal-hal tersebut sendiri (berumah tangga dengan keluarga patriarkis toxic, sementara keluarga sendiri malah tutup mata). Bahkan, secara keseluruhan pun sebenarnya ceritanya menarik kok. Kesimpulan akhir yang dituliskan oleh Tiffany Tsao cukup mengejutkan, apalagi ketika sampai di bab dimana Tante Sandra membuka rahasianya. 

Namun, permasalahan mendasar yang membuat saya harus setengah mati menyelesaikan buku ini adalah karena storytelling-nya sangat lemah. Pembaca benar-benar harus "disuapin" untuk bisa mencerna implikasi plot-plot yang terjadi terhadap para tokohnya -- "Oh, jadi Estella merasa begitu. Oh, jadi dampak kejadian ini ke Gwendolyn tuh kaya gitu". Padahal, bukankah story telling yang bagus adalah yang membuat pembaca bisa menyimpulkan, bahkan berempati sendiri terhadap tokoh-tokoh di buku yang mereka baca? Readers are best motivated when they come to the decision or realization themselves, afterall. 

Refer to this: 7 Essential Tips For Writers Who Hope To Engage Millions Of Readers

Setelah saya baca ulang lagi paragraf pertama buku ini, sebenarnya memang buku ini cuma berkisah tentang bagaimana Gwendolyn mencoba memahami tindakan saudarinya, sih. Jadi, ga bisa disalahkan juga kalau plot yang muncul bakalan terasa seperti the whole clusterfuck of random dramas. Cuma kalau format ceritanya agak dipercantik lagi, pasti pengalaman membacanya akan berbeda. 

Kalaupun mengubah story telling ga memungkinkan, sedikit tweak di bagian editing seperti pemberian diberi time stamp di awal bab, atau setidaknya judul bab yang menghighlight poin yang diceritakan di part tersebut, pasti akan sangat membantu.

Misalnya dibuat seperti ini, biar jelas part cerita tersebut lagi pas kapan

Atau outright di-highlight seperti ini di judul bab, biar pembaca bisa nangkep bagian ini lagi bahas apa

Oiya, untuk pendapat yang membandingkan buku ini dengan trilogi Crazy Rich Asians, saya bisa bilang bahwa perbandingan tersebut tidak fair -- cenderung misleading bahkan. Benang merah yang membuat kedua cerita ini mirip cuma tokoh-tokohnya yang sama-sama orang kaya keturunan China, tetapi selebihnya tidak bisa dibandingkan sama sekali. Kita ga bisa menyandingkan dan memilih mana yang terbaik antara Sherlock Holmes dengan Harry Potter, hanya karena kedua main characternya sama-sama orang London, kan?


Rating: 3.00 / 5.00


----
Get your own ebook here:
- Google Playbook

Dec 27, 2020

Malice: A Review of "Pure" Ill-Feeling

An ambitious reading challenge once again brought me to writing book review. Kali ini saya memilih karya penulis Jepang Higashino Keigo yang berjudul Malice. Hate, hostility, 悪意 (Akui). Tadinya saya memilih buku ini karena berdasarkan pengalaman sebelumnya, saya baca buku Akeyoshi Rikako cuma dalam waktu tiga jam, jadi seharusnya yang ini juga bisa lah kelar dalam sehari. 

(Oh, in case you want to check my short review on that book, bisa baca di sini ya)

The challenge is this:

 

A baseless assumption -- saya bahkan ga memilih pengarang yang sama -- tetapi saya berhasil menyelesaikan buku ini dalam satu hari. Setengah hari bahkan, karena saya baru mulai sekitar jam 2 siang dan selesai jam 9 malam. Sudah dipotong dengan nyetrika, masak makan malam dsb dsb.

Karena Malice ini memang keren.


 


Novel genre mystery-criminal ini bercerita tentang seorang novelis, Nonoguchi Osamu yang tiba-tiba menemukan rekannya sesama penulis, sekaligus temannya sejak SMP -- meninggal dunia di rumahnya. Hidaka Kunihiko ditemukan meninggal hanya dua jam setelah ia menelepon, dengan bekas jeratan kabel telepon di leher dan luka benturan di kepala. Kasus ini akhirnya ditangani oleh detektif Kaga Kyoichiro, yang dulu pernah menjadi rekan Nonoguchi ketika sama-sama menjadi guru SMP.

Sebagai penulis, Nonoguchi sangat kooperatif selama penyelidikan. Ia menuliskan kejadian ketika pembunuhan terjadi secara terperinci, yang ternyata sangat membantu proses penyelidikan. Namun, detektif Kaga menemukan beberapa hal yang ganjil dari kesaksian Nonoguchi, sehingga membuatnya kemudian bersikeras untuk memeriksa apartemen sang penulis. Bukti-bukti yang terkumpul menunjukkan bahwa Nonoguchi adalah tersangka utama, dan ia pun digelandang ke kantor kepolisian untuk diinterogasi. Di tengah proses penyelidikan, tiba-tiba penyakit kanker Nonoguchi kambuh dan dokter menyatakan bahwa kemungkinan Nonoguchi akan bertahan hanya lima puluh persen...

May contain spoiler -- maybe not.

Kasus pembunuhannya sendiri sebenarnya terpecahkan dengan cepat -- selesai di bab kelima dari sembilan bagian. Alur yang lumayan cepat ini cukup membuat pengalaman membaca saya jadi menyenangkan, karena saya ga dipusingkan oleh detail-detail cerita yang ga penting. Bagaimana detektif Kaga menyibak kebenaran dari kesaksian palsu tersangka membuat penyelesaian kasus menjadi penuh kejutan dan anti mainstream. Case closed!

...

....だよねー?*

Namun, dengan masih adanya sepertiga bagian buku yang masih menanti untuk dibuka, saya jadi penasaran, apa lagi sih yang akan diungkap? Dilihat dari judulnya, saya sempat suuzon, mengira bahwa isinya cuma flashback-flashback ga penting seperti bab 4 di novel Amba (check this review out for reference). Tetapi saya tetep hajar aja, karena toh penulisannya menyenangkan dan ga bertele-tele. Pengungkapan masa lalu orang-orang yang terlibat dalam kasus dituliskan dengan pas, full of strong details tapi tidak overwhelming. Somehow, pencarian ini malah memunculkan banyak tanda tanya baru. 

I'd say that this is such a smart way to constantly engage us readers. It does feel like Higashino-sensei is trying to say: "You think you're done? Nope b!tch you ain't dropping this book until the very end."

Dan, pencarian kebenaran dari masa lalu dalam empat bab ternyata tidak sia-sia. Tepat di bab akhir, kebenaran final akhirnya diungkap. Dengan plot twist yang menurut saya... spektakuler. Not in a sense that it fvcked your mind up, but punching at just the right area. Just like a nice layer of soft cheese on top of a chiffon cheesecake.

Novel ini sukses membuka mata saya akan pesona novel misteri karangan penulis Jepang. Memang saya baru baca dua bijik, tetapi kesan yang saya dapet sudah sangat positif. Tulisan mereka seolah ga mengijinkan pembaca untuk bosan. Adaa aja kejutan yang muncul selama membaca. Apalagi saya yang memang semacam alergi sama novel-novel character-driven, gaya tulisan dua penulis Jepang ini memang "gue-banget". Ga menye-menye, ga perlu emosi-emosi yang ga perlu (saya memang orangnya cenderung robot dan stoic sih wkwk).

I really feel like reading a particularly difficult Detective Conan case. In a really good way.

 

Rating: 4 / 5


*) dayo ne, terjemahan: ....kan? Ekspresi keragu-raguan/mengkonfirmasi ulang

 

--

Get your ebook here:

- Google Playbook  

- Amazon book (Kindle)

Girls in the Dark: Dee's Personal Introduction to the Mindblowing Rashomon Style

Buku-buku karya penulis Jepang Akiyoshi Rikako sudah bolak-balik di-hype di literarybase. Jadi seharusnya saya bisa put the tiniest bit of expectation to her writing. Afterall, this piece is turned out to be a good book anyone can enjoy.

Mungkin karena saya baca buku terjemahan Indonesia, tetapi saya berhasil baca buku ini hanya dalam waktu kurang dari tiga jam.

Dan dua jam saya ternyata tidak terbuang percuma, yay!

 


Cerita dalam Girls in the Dark (judul asli: Ankoku Joshi) dibuka dengan narasi dari ketua baru klub sastra yang membuka sesi pembacaan cerita mereka. 

Tema pertemuan kali ini adalah ingatan para anggota mengenai mendiang ketua klub sebelumnya yang bernama Shiraishi Itsumi, yang ditemukan meninggal setelah terjatuh dari atap sekolah. Cerita langsung bergulir ke pembaca pertama, dimana ia mengakui bahwa salah seorang dari anggota klub tersebut pernah terlibat masalah besar dengan Itsumi, yang membuat Itsumi ketakutan.  Baru saja kita dihebohkan dengan tuduhan serius tersebut, di bab selanjutnya kita disuguhkan "kebenaran" versi pembaca kedua, yang tidak hanya menyangkal hampir seluruh tuduhan pembaca pertama, tetapi mengklaim bahwa anggota lainnya lah yang membunuh sang mantan ketua. 

Mungkin karena memang ini adalah kali pertama saya membaca buku dengan gaya story telling rashomon, jadi semuanya serba positif. Rasanya menyenangkan aja membaca cara bercerita yang beda dari novel-novel misteri yang sudah saya baca sebelumnya. Setiap bab nya penuh kejutan, "hah kok bisa testimoni dari dia beda banget gitu". Saya kagetan di dua bab pertama, karena begitu saya udah ngerti polanya, saya tinggal menikmati "kegilaan" yang muncul aja. Apanya sih yang bakal beda, bagaimana pembaca berikutnya menuliskan tuduhan yang pasti akan...menarik. Semacam itulah. 

But apparently this kind of writing udah lumayan umum di dunia sastra, sehingga saya mungkin akan lebih objektif lagi menilai ketika saya membaca karya seperti ini dengan topik atau dari penulis yang lain. Yang jelas, pengalaman saya membaca this very book sangat menyenangkan. Page-turner, full of surprise, predictable tetapi tidak membosankan. Saya sempat baca ulasan di goodreads bahwa buku ini ga sebagus buku Akiyoshi-sensei yang lain. Apparently not even the best rashomon novel. Which is... good? Berarti saya bisa expect buku-buku lain yang lebih menyenangkan dari penulis atau genre ini, hehe.
 

Spoiler garis keras

Setelah dua tiga bab, saya kurang lebih sudah bisa menangkap pola dari tuduhan-tuduhan yang akan dilontarkan (hanya tinggal menunggu tuduhan macam apa yang akan muncul). Sepanjang membaca kelima testimoni, saya menyadari bahwa kelima anggota sama sekali tidak pernah mengarahkan tuduhan kepada sang ketua baru. Saya langsung punya firasat, jangan-jangan ketua barunya ini yang sebenernya jadi pelakunya...

Spoiler garis keras pake garis bawah: I was right. Tapi TIDAK dengan cara selugu yang saya kira.

Tebakan saya bener, tapi saya ga ngerasa puas, karena ajhgjyfajemirjxehnra I was not exactly correct? T_T 

Double twist begini memang khasnya rashomon kah? Atau memang novel misteri Jepang khasnya seperti ini?