Oct 11, 2020

The Tower of Nero: A Wholesome Farewell to the Half-Gods Chronicles

Saya biasanya bisa gercep nulis review tentang suatu buku. Tapi ketika saya menyelesaikan buku Rick Riordan, otak saya rasanya buntu. Terutama saat ini, ketika buku terakhir Trials of Apollo sudah saya selesaikan, dan saya sudah resmi benar-benar berpisah dengan Camp Half-Blood Chronicles. Mengetahui petualangan saya bersama dewa-dewi menyebalkan akhirnya berakhir, hati ini rasanya kosong.

Anyway, setelah melewati berpuluh-puluh kali siklus bengong, mengetik, dan menghapus, akhirnya review ini jadi juga.

Mulai dari kesan saya terhadap keseluruhan serial aja, kali ya.

The Trials of Apollo


The Trials of Apollo - all covers

The Trials of Apollo bercerita tentang Apollo (dewa matahari, pemanah, musik, sastra, dan medis) yang dihukum Zeus karena salah seorang keturunannya, Octavian, berada di pihak yang salah ketika perang akhir dengan balatentara Gaia. Ia diturunkan sebagai Lester Papadopoulos, manusia 16 tahun dengan gelambir perut, jerawat hormonal, bau badan, dan (tentu saja) tanpa kekuatan dewa. Di tengah-tengah rasa frustrasinya bahwa ia berakhir menjadi pesuruh dari Meg, gadis aneh dua belas tahun, Lester menemukan bahwa kehidupan para pembaca, pemicu, dan penentu masa depan (Oracle) sedang di ambang krisis. Namun, sebelum ia bisa menyelamatkan Oracle paling berpengaruh yang disandera Python, mereka harus lebih dahulu mengalahkan tiga kaisar terbengis Romawi kuno yang berencana untuk mengambil alih dunia dari kekuasaan the Olympians.

Hal yang menurut saya menarik dari serial ini adalah, bagaimana Apollo sebagai the epitome of deities smug-ness dipaksa untuk merefleksikan dan merenungkan kembali bagaimana menyusahkannya ia selama menjadi dewa. Dengan segala keterbatasan sebagai mortal, ia tidak punya pilihan lain selain benar-benar berusaha menyelesaikan sendiri masalah di hadapannya. Ia belajar bagaimana caranya hidup saling menguatkan, bagaimana berbagi, dan bagaimana bertindak semata-mata karena hal tersebut berharga dan worth fighting (dying) for. Melalui lima buku The Trials of Apollo (TOA), Uncle Rick mengubah sifat Apollo yang sangat self-centered menjadi lebih "manusia".


"When you're a god again, remember. Remember what it's like to be human"

- Jason Grace, Trials of Apollo #3 - The Burning Maze-



TOA masih dirangkai oleh storytelling khas Om Rick yang ringan dan menyenangkan. Di buku ini tidak ada karakter sekuat dan se-sarkastis Percy, tetapi keberadaan Meg yang ceplas-ceplos dan bossy (in a cute twelvish-years old way) cukup mampu mengangkat mood cerita dan menyeimbangkan karakter Lester (Apollo) yang gloomy, depressed, and full of complaints. Heroes kesayangan fans dari dua seri Camp Half-Blood sebelumnya (the Argo II crews) juga dimunculkan lagi di serial ini sebagai cameo, sehingga lumayan membangkitkan nostalgia dan rasa sayang kepada tokoh-tokoh yang sudah mendampingi fans selama 5 (10) buku. Sepanjang serial ini, Uncle Rick juga masih menggunakan pakem lamanya dalam merangkai plot: to make his characters as miserable as possible.


The Tower of Nero


 

The Tower of Nero dibuka dengan perjalanan kereta Lester dan Meg ke New York, tempat dimana kastil milik kaisar Romawi terkuat, sekaligus orang tua angkat Meg, Nero, berada. Dengan bantuan Luguselwa, wali (guardian) Meg, mereka berencana memperdaya Nero dengan berpura-pura menyerahkan diri, untuk mengalihkan perhatian sang kaisar bengis dari rencananya meluluhlantakkan seisi kota New York dengan Greek fire. Di buku ini, Apollo dan Meg dibantu oleh Nico di Angelo, Will Solace dan penghuni kabin Apollo, serta Rachel Elizabeth Dare sang priestess of Delphi.

Seperti karya Rick Riordan lainnya, buku ini menumpahkan isinya dengan formula yang sama: you have a problem, here is the physical and emotional impact, you go solve it, congratulations, enjoy this next disaster! At this rate, I don't know if this constant is good or bad, considering the bar is soaring up high already from the very beginning. Saya udah terlanjur ngefans, sehingga saya malah kesulitan untuk menilai buku ini secara objektif.

Nevertheless, saya akan coba membahas buku ini dalam posisinya sebagai buku pamungkas dari serial yang sudah berjalan selama 15 tahun. 

Dalam 10 buku sebelumnya, fans sudah cukup banyak diperlihatkan betapa self-centerednya The Olympians. Di saat balatentara Titan Kronos berhasil dikalahkan melalui serial pertama, Gaia dikalahkan di serial kedua, somehow The Olympians masih tidak tersentuh. Padahal, sifat Kronos, Gaia, dan The Olympians sebenarnya tidak jauh berbeda. Hanya karena mereka berada di sisi main characters, bukan berarti mereka lebih mulia, bukan? Uncle Rick berusaha untuk membenarkan ke"tidak adil"an ini melalui empat buku TOA. Setelah melihat banyak pengorbanan dan kematian di empat buku sebelumnya, bagaimana Apollo menghadapi kaisar terbesar dan his final nemesis di buku ini?

Sebagai buku penutup, sebenarnya saya berharap bahwa this book, this WHOLE book, akan menjadi klimaks dari 15 tahun petualangan bersama Camp Half-Blood. Ekspektasi saya sangat tinggi karena 14 buku sebelumnya memang sebagus itu. The thing is, Uncle Rick menulis buku ini just like how he did in his previous 4 TOA Books. Not that it's bad. Sebenarnya buku ini bagus, dengan plot yang action-packed dan full of emotional scene. Tiap-tiap karakter juga mendapatkan peran yang kurang lebih seimbang, ga ada yang filler-filler banget (walaupun kalau yang ini sih mungkin karena hampir semua karakter udah saya kenal, sehingga kalaupun ternyata peran mereka minim, saya gak ngeh karena terkubur oleh nostalgia, haha). Cuma karena ini adalah buku pamungkas, I might have put an unnecessarily high expectation on this book.

Dee still have a ridiculous expectation toward her books -_-

 

But I guess it did well as a final 15-years running series? 

Apollo did keep his promise to the late Jason Grace. Apollo belajar bagaimana menjalani sisi terhormat manusia: menyelesaikan masalahnya sendiri, tidak menyerah sampai akhir, dan berani berkorban untuk orang-orang yang berharga. Ia belajar untuk percaya pada orang lain -in noble context of course. Character development yang benar-benar drastis oleh Apollo ini telah menutup perlakuan "injustice" menguntungkan yang diterima oleh The Olympians -- bahwa ternyata mereka juga tidak dibiarkan lepas begitu saja atas kesewenang-wenangan mereka kepada mortal. Setidaknya Apollo, sebagai representasi kehura-huraan Dewa-Dewi, pada akhirnya membayar semua perbuatannya dan berubah menjadi dewa yang -- setidaknya belajar.

Kronos? Checked
Gaia? Checked
The Olympians? Also checked


Pada akhirnya, Camp Half-Blood chronicles mengajarkan pada anak-anak untuk meniru sifat-sifat baik dari manusia:

Sally Blofis (nee Jackson): kasih sayang yang tidak membeda-bedakan

Percy Jackson: There's never a too much loyalties

Annabeth Chase: Kekuatan super sehebat apapun pada akhirnya akan bisa dikalahkan oleh kepala dingin dan strategi jitu

Leo Valdez: Happiness will find you in the end, if you stay alive. Just stay alive.

Piper McLean: kalian tetap bisa berpegang teguh pada apa yang kalian yakini, sekalipun kalian ga tahu apakah kalian berpegang pada kebenaran

Jason Grace: Live gracefully

Hazel Levesque: Sejatoh apapun kalian fucked up dan being fucked up in the past, kalian akan bisa bangkit kalau kalian menemukan orang yang tepat untuk berbagi cerita

Frank Zhang: Life to your fullest, meskipun hidupmu pendek


Reyna Avila Ramirez-Arellano: Life to the fullest, dan berani memilih jalan hidup yang baru

Nico di Angelo: (tau ah aku sayang banget sama nico mmmmwa)

Apollo: Sebangsat apapun kalian selama hidup, kalian selalu akan menemukan momen untuk belajar dan berubah


Rating: 4.5 / 5

Thank you for the awesome 15 years, Uncle Rick!!!!!

---

Get your ebook here:

- Google Playbook

- Amazon (Kindle)


Oct 7, 2020

Shine Bright like an Ice Princess!

Saya gatau apakah karena memang a big portion of follower litbase adalah Kpop fans, tetapi di minggu-minggu terakhir bulan September, hampir tiap hari ada yang nanyain "Ada yang PO Shine nya Jessica? Ada yang udah baca Shine nya Jessica? Drop review dong yang udah baca Shine nya Jessica". 

 


 
Let's start with who Jessica Jung is.

Jessica Jung adalah warga negara Amerika Serikat yang pernah menjadi member dari girl group Kpop terbesar di masanya, Girls Generation. Atau juga sering dikenal dengan brand Koreanya, SNSD (So-Nyeo-Shi-Dae, or es-en-es-di). Orang yang awam Kpop mungkin sekarang tahunya artis Kpop ya kalo engga BLACKPINK ya BTS (yang kedua ini boygroup, btw. And I ain't going to add EXO here because hiatus group technically aren't relevant. Here I said. Persetan dengan alasan SM abandoned them whatsoever). Tapi kalau yang sempat pernah nyemplung atau menikmati Kpop di tahun 2010-2012-an, pasti tahu Girls Generation. MV Gee mereka sempet meledak waktu itu. Saya mengalami sendiri bagaimana teman-teman saya di kampus mendadak menggilai sembilan orang perempuan cantik yang berjoget in colorful skinny jeans.

 



Singkat cerita, Jessica Jung ini keluar dari SNSD secara mendadak di tahun 2014. Berita keluarnya waktu itu bener-bener mendadak, karena 1) SNSD masih at the top waktu itu, dan 2) Berita keluarnya dirinya pertama kali diumumkan oleh yang bersangkutan sendiri di akun instagramnya (bukan oleh manajemennya), tepat sebelum SNSD melakukan fanmeeting ke China. Simpang siur dan teori-teori gila bermunculan selama berminggu-minggu, mencoba menganalisis kenapa Jessica mendadak meninggalkan grup sebesar SNSD. Anyway, pokoknya berita itu sempat membuat heboh satu Kpop industry.

SNSD sendiri (secara teknis) masih aktif sampai sekarang, walaupun rezim Kpop (girlgroup) sudah berpindah tahta ke Twice dan Blackpink. Walaupun sudah lewat peak-nya sebagai group, tetapi mereka masih punya cukup banyak fans, dan nama mereka masih sering diseret-seret oleh sesepuh edgy Kpop yang insist bahwa idol Kpop sekarang tidak sekeren idol Kpop jaman dulu. Pun, nama Jessica Jung masih cukup lekat di kepala banyak fans Kpop, walaupun ia sudah keluar dari grup yang membesarkan namanya enam tahun lalu.

Mungkin hal ini yang menyebabkan fans Kpop-sekaligus-bookish bolak-balik nanyain novel yang ditulis Jessica, padahal rilis saja belum.

Mungkin mereka penasaran, kira-kira bakal ada "teh" soal keluarnya dia dari SNSD ga ya?

Karena surprise, Jessica memang menulis novel tentang Kpop.

Anyway, mari kita bicara tentang novelnya itu sendiri.



Shine bercerita tentang pengalaman Rachel Kim, seorang Korean-American yang pindah ke Korea untuk menjadi trainee Kpop di sebuah manajemen Kpop ternama. Novel ini bercerita tentang bagaimana kerasnya kehidupan trainee di Korea Selatan, bagaimana setiap trainee harus bermandikan darah, keringat, dan air mata setiap hari selama bertahun-tahun untuk bisa dilirik oleh company executive sehingga layak untuk didebutkan menjadi artis. No slacking off, no mistakes, no scandal allowed, ever. Namun, di saat trainee yang lain berhenti sekolah untuk berlatih siang dan malam, Rachel somehow masih mampu melanjutkan sekolahnya dan hanya berlatih di DB Company pada akhir pekan. Perbedaan ini akhirnya memicu ketegangan di antara trainee, sehingga Rachel mendapatkan julukan sebagai "Ice Princess", dalam konotasi yang buruk.

That's pretty much what was there in this book. No tea whatsoever.

Tentu mengecewakan bagi fans yang sudah preorder dan mengharapkan ada pengakuan mengenai skandal keluarnya Jessica dari SNSD. Tapi mari kita lanjutkan pembahasan seolah-olah kita tidak peduli soal kenapa Jessica ditendang keluar.

Ada tiga tokoh penting di novel ini: Choo Mina -- seorang trainee anak pengusaha berpengaruh di Korea Selatan, Jason Lee -- member boygroup terkenal debutan DB Entertainment, dan Rachel sendiri. Plot novel sepanjang 242 halaman ini sebenarnya hanya berputar-putar di cerita Rachel, Rachel dan Jason, dan Choo Mina sebagai extra capsaicin yang sepertinya bersikukuh untuk membuat hidup Rachel menderita. Dengan gaya penulisan yang straightforward, saya merasa novel ini mirip dengan tipikal teenlit yang dulu sering saya baca di tahun 2004-an.

Plotnya cukup dangkal, terkesan hanya sekedar ber-progress dari satu adegan ke adegan lain. Selama saya membaca, saya cukup sering mengharapkan suatu plot akan ber-progress ke arah yang lebih intens, tetapi ternyata cerita berhenti begitu saja dan langsung lompat ke milestone selanjutnya. Jessica terlihat belum cukup baik dalam menggambarkan emosi yang tokohnya rasakan. Padahal, roller coaster mental yang dialami tokohnya sebenarnya sangat berpotensi untuk menguras emosi.

Dijebak rivalnya tepat di malam sebelum ia ujian?

Diultimatum Ibunya sendiri untuk keluar dari training jika ia tidak bisa debut sebelum tour manajemen?

Choo Mina, yang sepertinya masih belum menyerah untuk menjadikan Rachel sebagai kecoa yang harus segera dienyahkan?

Belum lagi ada Jason Lee, yang sempat-sempatnya menggodanya di saat ia tahu betul bahwa haram hukumnya bagi idol untuk berpacaran?


Bagi trainee Kpop, empat hal di atas tentu mimpi buruk. A huge enough disaster. Tetapi saya ga bisa merasakan kengerian itu dari kalimat-kalimat yang dituliskan Jessica di buku ini.

Kalau saya jadi Jessica, sepertinya saya akan fokuskan cerita saya pada persaingan Rachel dan Mina. 

Misalnya: Bagaimana Rachel harus memaksakan dirinya untuk training, mengambil risiko bolos sekolah tanpa diketahui Umma-nya karena tahu she would have no chance of debuting if she is not improved enough, particularly after the previous disastrous monthly appraisal

Lalu Umma-nya tiba-tiba mengetahui anaknya bolos sekolah, dan di saat yang bersamaan eksekutif DB juga menyalahkannya karena mereka tidak pernah menyuruhnya untuk bolos sekolah -- "DB tidak mendebutkan anak-anak yang hanya tahu mempercantik diri tetapi berotak kosong". 

Oh, dan Choo Mina tentu akan saya buat lebih psychotic dan kejam lagi, tidak hanya sekedar menggertak Rachel seperti anak kucing dan menjebaknya dua kali dengan cara yang menurut saya terlalu lembek untuk ukuran trainee yang desperate untuk debut. (kinda spoiler here) Mungkin saya akan membuatnya benar-benar berpacaran dengan Jason Lee, untuk semakin menegaskan bahwa "All is Fair in Love and Kpop, even if it means backstabbing your debut partner"

 
Sepertinya plot-plot semacam ini akan lebih membuat deg-degan, dan lebih menggambarkan brutalnya kehidupan trainee Kpop. At least jika dibandingkan dengan adegan "pacaran" Rachel dan Jason, yang mendapat porsi cukup banyak di novel.


But then again, saya bukan Jessica Jung, dan saya bukan editornya. Dan sebagai orang yang tidak pernah paham apa pentingnya romansa, jelas saya adalah penilai yang paling buruk untuk memberi skor pada penting-tidaknya pacaran ketika sedang menghadapi masalah sebesar Rachel Kim. Kalian yang sangat menghargai hubungan romantisme antara dua sejoli, mungkin akan memandang pacar-pacaran antara Rachel dan Jason ini dengan cara yang berbeda.

Namun, saya sebenarnya cukup menikmati membaca novel ini. Dengan gaya bercerita Jessica yang ringan dan plot yang enteng-enteng aja, justru saya malah merasa ter-relaksasi. Sebagai orang yang selalu memilih membaca novel yang plotnya "berat", membaca novel ini rasanya menyenangkan.

Overall, I can recommend this book to you kalau kalian ingin bacaan yang ringan untuk mengisi waktu luang atau mengisi post traumatizing book - induced reading slump. Tapi harap di-note bahwa Shine adalah novel fiksi, bukan autobiografi. Saya lihat tokoh Rachel memiliki banyak sekali kesamaan dengan the real-life (on cam) Jessica Jung, sehingga akan sangat mudah bagi pembaca (khususnya Kpop fans) untuk mengasosiasikannya sebagai cerminan diri Jessica sendiri sebagai eks-SNSD, lalu berharap bahwa buku ini akan mengungkap kebenaran mengenai kejadian G30SNSD. No, there was no such things. Ini buku tentang Rachel Kim, bukan tentang Jessica Jung.




Rating: 3 / 5 (please do not expect any SNSD-related revelation)

----
Get your ebook here:

- Google Playbook (UK)

- Google Playbook (US) 

- Amazon book (kindle)



Oct 1, 2020

The Jacatra Secret: Dan Brown Series KW-3

Saya baca semua buku Dan Brown. Saya senang mengetahui ada penulis lokal yang bisa menyamai intensitas karya beliau (E.S. Ito: Review 1 | Review 2). Dan begitu seseorang di komunitas litbase mention ke saya tentang buku ini, tanpa pikir panjang saya langsung check out buku ini dari marketplace.


The Jacatra Secret adalah novel karangan Rizki Ridyasmara yang bercerita tentang pembunuhan seorang laki-laki berusia 66 tahun yang terjadi di depan Museum Fatahillah. Di saat-saat terakhir hidupnya, ia menuliskan dying message dengan tinta darah, sebuah anagram yang ditujukan kepada orang yang ia percaya.

AS AT DUTCH


Sementara itu, John Whitemaker Grant, seorang warga Amerika Serikat pakar bahasa simbol yang sedang diundang dalam acara pertemuan penikmat teori konspirasi di Jakarta, dikabari bahwa salah seorang tokoh penting telah dibunuh di depan Museum Fatahilah. Ia segera datang ke TKP dengan niat membantu penyelidikan, namun kemudian menemukan bahwa korban telah menuliskan sebuah pesan yang seharusnya tidak diketahui Polisi.

Plot bergulir dimana Grant dan Angelina akhirnya memutuskan untuk memecahkan kasus ini sendiri, tanpa bantuan polisi Jakarta (yang menurut mereka malas). Grant sebagai ahli simbologi akhirnya bercerita panjang lebar mengenai bagaimana kota Jakarta memiliki banyak sekali bangunan dengan unsur simbol Freemason. Ia juga menceritakan sejarah-sejarah terkait, yang menunjukkan bahwa Grant memang the very person you'd ask about Jakartan symbology.

Tidak perlu waktu lama buat saya untuk menyimpulkan bahwa buku ini adalah rip-off dari serial Dan Brown. Dari penokohan sampai detail pembunuhan pertama, semua mirip sekali dengan The Da Vinci Code. Bagaimana penulis membagi chapter dalam bukunya menjadi beberapa kejadian yang nantinya saling terhubung, juga mirip (walaupun kalau ini sih, banyak banget buku yang menggunakan pendekatan sama). Bahkan bagaimana Professor Sudrajat dibunuh untuk memperoleh informasi mengenai suatu benda pun, sangat mirip dengan bagaimana curator Jacques Sauniere ditembak mati oleh Silas. 

Pesan kematian berupa anagram yang ditinggalkan? Oh, sama persis. Cuma beda huruf-hurufnya.

Selama membolak-balikkan halaman, saya dibanjiri dengan informasi sejarah gedung-gedung di Jakarta, termasuk konspirasi di baliknya (yang berhubungan dengan Freemason). Dari sejarah VOC, sejarah freemason, sampai bagaimana mafia Berkeley berkonspirasi merusak Indonesia, semua tumpah ruah dikeluarkan di sini. Secara pribadi, informasi yang dituliskan di buku ini sebenarnya tidak banyak yang baru. Soalnya saya sudah pernah membaca novel lain tentang topik-topik tersebut. Freemasonry saya dapatkan dari The Lost Symbol. Sejarah bangunan di Jakarta (Monas) saya dapatkan dari Rahasia Meede. Sedikit topik dewa-dewi? Rick Riordan series juga saya sudah khatam.

This book could've turned great, walaupun informasinya ga baru lagi (terutama kalau kalian belum baca Dan Brown atau Rick Riordan). Masalahnya, penulis memasukkan kejadian sejarah ke novel ini tidak sebagai pendukung atau latar belakang cerita, tetapi sebagai clusterfucks of historical (conspiratory) events. Di beberapa bagian, saya hampir merasa tidak sedang membaca novel misteri, tetapi sedang membaca buku teks sejarah. Interaksi antar tokoh sangat minim, bahkan purpose dari sejarah yang dituliskan terhadap actual plot juga sering kali tidak jelas -- karena part "sejarah"nya terlalu panjang. Saya sampai lupa bahwa Professor Grant sekarang sedang memecahkan kasus, bukan sedang mengajar di kelas.

The remaining novel parts are also written subparly. Benar-benar ala kadarnya, terkesan seperti sekedar ada untuk penyela antara history-vomit satu menuju lainnya. Sayang banget, plot cerita seberat dan seintens ini harus ditulis dengan gaya penulisan seperti aktris sinetron yang dipaksa menyelipkan kalimat promosi product placement di sela-sela dialog mereka.

Penyampaian sejarah sangat didominasi oleh male lead, sehingga female lead terkesan ga ngerti apa-apa (padahal diceritakan dia sedang mengambil tesis di kepolisian, seharusnya dia bisa berpartisipasi terhadap setidaknya seperlima dari total seluruh paragraf sejarah, kan?). Sekedar referensi, Robert Langdon dan Sophie Neveu di Da Vinci Code, dan dengan Katherine Solomon di The Lost Symbol, masing-masing berbagi input dalam segala informasi "wow" yang muncul di dalam buku.

Selain itu, dari sedikit tokoh yang dimasukkan ke dalam cerita, sebagian besar dari mereka malah kehadirannya tidak terlalu diperlukan. Ada dua tokoh wartawan yang muncul, tetapi kehadiran mereka benar-benar tidak membawa value ke dalam cerita. Okay ada wartawan, so what? Jika kita mengacu pada gaya penulisan Dan Brown, atau E.S. Ito untuk versi lokalnya, mereka pasti akan menambahkan peran kepada wartawan-wartawan kaliber tinggi ini. Misalnya berpartisipasi dalam mempertemukan polisi reserse dengan main character. Or worse, membantu pelaku pembunuhan untuk kabur dari kejaran polisi karena mereka tanpa sadar telah mengganggu proses penyelidikan.

Saya sempat googling review buku ini. Banyak pembaca yang kecewa mengenai tokoh utama yang adalah orang asing. Saya sendiri ga masalah dengan hal tersebut (apa salahnya WNA memahami sejarah bangsa kita, kan? Toh sejarah itu terhubung melintasi wilayah dan periode). Namun, dengan cara penulis mengembangkan plot, saya setuju bahwa akan lebih cocok jika male lead adalah warga lokal. Selain kefasihan berbahasa Indonesia yang agak di luar normal, bagaimana ia luwes sekali menyetir di Jakarta (setir kanan, ngebut di jalan semrawut dan rumit?) rasanya agak tidak match dengan latar belakangnya sebagai pengajar di George Washington University.

Saya aware bahwa untuk menulis karya dengan detail multidisiplin seperti ini membutuhkan banyak sekali penelitian. Saya apresiasi kerja keras penulis, afterall ga ada yang salah dengan meniru storytelling penulis besar. Sebab bagaimanapun, eksekusi tiap penulis juga akan berbeda sehingga in the end, buku tersebut akan tetap spesial. However, sadly it left out the very part where a book able to captivate its reader: the book 'soul'.  Bagaimana plot diaduk-aduk agar sulit ditebak, bagaimana tokoh-tokoh di dalamnya menemui perkembangan yang mengejutkan, maupun ending yang dibuat spesial. Sayang banget saya ga bisa menemukan ketiga hal tersebut di karya ini. Saya sudah baca banyak karya yang endingnya menggantung, tapi tidak dengan plot se"lugu" ini.

Buku ini menjadi cloning dari karya Dan Brown, tetapi sayangnya ia hanya sebatas clone: raga tanpa jiwa. Daripada ditulis dalam bentuk novel, saya sepertinya akan lebih setuju kalau buku ini dibuat sebagai kumpulan teori konspirasi saja.

Final disclaimer: saya sudah membaca banyak buku Dan Brown, so I just cannot help comparing this book against some unrealistic benchmark. Namun, jika kalian sama sekali belum pernah membaca karya beliau, bisa jadi kalian akan menilai buku ini dari sudut pandang yang berbeda. Apalagi kalau kalian sebenarnya suka baca fakta sejarah atau teori konspirasi.

Recommended?

No, kalau kalian mengharapkan akan menemui cerita sekeren The Da VInci Code
Yes, kalau kalian cuma pengen mengincar simbologi bangunan Jakartanya

 

Quick review:

History part          : 4.5 / 5
Novel part            : just bad
Overall rating       : 2.5 / 5

 

------

Get your ebooks here:

- Google Playbook

Sep 28, 2020

The Poppy War: A Triple Threat of Brutality

So, what's the deal with one of the most hyped book in twitter community?

Mungkin saya jadi salah satu yang telat start untuk bicara tentang The Poppy War. Karya R.F. Kuang sepertinya jadi salah satu buku yang sering banget dimention (ditanyakan, disebut, direkomendasikan) di twitter literarybase sejak awal PSBB. Anyhow, I finally put my hand on its pages.

And

It's damn intense.



Yes, this is a freaking trigger warning. This book include a "good" amount of war cruelty, graphic content, rape, murder, gore, human torture, just any usual thing you can find in a war or "common" hard life. Kalau kalian ketrigger dengan scene tersebut, lebih baik kalian drop buku ini. Sayang loh, mahal soalnya.

Saya ga bicara betapa intensnya buku-buku Dan Brown. E.S. Ito (review 1, review 2). Or even Laut Bercerita or The Weight of Our Sky. Buku ini benar-benar at the whole different level, saya ga pernah merasa selelah ini baca buku fiksi. Saya mulai butuh break saat saya bahkan belum separo jalan. Saya sering sekali menilai sebuah cerita membosankan, datar, tidak intense, tetapi saya ga nyangka bahwa cerita fiksi bisa bikin se-lelah ini.

Mungkin saya kena hukuman Dewa Buku karena sempet mengkritik karya beberapa penulis, haha. You want plot intensity? Here, enjoy and have a brilliant day.

The Poppy War (diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama menjadi "Perang Opium", saya baca versi Bahasa Inggrisnya by the way) bercerita tentang Fang Runin, seorang yatim piatu korban perang yang bertekad untuk melarikan diri dari pernikahan paksa yang direncanakan orang tua angkatnya yang abusive.  Dengan segala cara, ia bertekad untuk lulus ujian masuk Academy Sinegard, satu-satunya akademi di kekaisaran Nikara yang menggratiskan seluruh biaya hidup dan sekolah. Namun, menginjakkan kaki di Sinegard ternyata baru permulaan dari kerasnya hidup yang harus dia lanjutkan.

Second warning: maybe some spoiler. Maybe not. Saya bingung gimana bahasnya soalnya kalo ga mention plot.

Di awal buku, saya sudah disuguhkan dengan kerasnya realita hidup yang harus dihadapi Rin. Bukan keras dalam artian dikejar-kejar monster (ref: Percy Jackson) atau memiliki kekuatan gaib yang aneh (ref: Harry Potter), tetapi hidup yang benar-benar brutal. Ia menyogok satu-satunya guru di desanya dengan opium curian untuk mengajarinya seluruh materi ujian. Ia menolak tidur untuk persiapan ujian.  Bagaimana ia benar-benar mendorong dirinya melampaui batas untuk mencapai tujuan, her persistence, her painful way of life, her paranoia on failure, her "tiger mother" attitude toward herself, benar-benar tipikal Asian. Saya bisa ngerti keputusasaan Rin, tapi tetap tidak membuat she any less frightening. And it's only the beginning.

Kengerian ini berlangsung sampai trial pertama, dimana Rin akhirnya memilih salah satu spesialisasi studi. Baru saja ia berhasil menempuh satu milestone pembelajaran dari gurunya, tiba-tiba Nikara menerima ancaman perang dari negeri seberang, Federation of Mugen. Di tengah-tengah pertempuran, Rin terpaksa mengeluarkan ilmu yang ia peroleh dari Master Jiang untuk memanggil kekuatan dewa Phoenix. Menyadari betapa berbahayanya Rin terhadap status quo perpolitikan internal Nikara, Master Irjah sang ahli strategi merekomendasikan Rin kepada peleton "buangan" yang berisikan algojo-algojo pembunuh. Di sana, Rin kembali bertemu dengan legenda Akademi Sinegard yang sempat menghilang, Altan Trengsin.

Baru aja saya ambil napas dan merasa saya udah cukup terbiasa dengan kegilaan setting novel ini, datanglah war scene dan THIS IS WHERE THE REAL SHHT COMES. Sudah saya wanti-wanti di atas, oke.

Bersetting perang (beneran) antara Nikara dan Mugen, bagian II kurang lebihnya menceritakan bagaimana perang berlangsung. Dari manajemen pleton (pasukan?), intrik antar penguasa lokal, sampai adu licik-licikan antar negara, semua ada di sini. Tapi tetep yang paling bikin lemes ya adegan kekerasan perangnya. Sebenarnya adegan kekerasan dan horor perang yg digambarkan penulis tuh sangat wajar, like, yang namanya perang ya pasti barbar dong. 

Tapi kan tetep aja bikin merinding hey T_T

Masih ngikutin? Kalian emang batu, ya. Anyway, adegan perang yang bener-bener barbar sebenernya berakhir di bagian kedua, jadi kalian udah bisa tenang ketika baca bagian ini...

...Or not

Kejutan R.F. Kuang belum selesai, teman. Main character belum mati, jadi dia masih akan bergerak. Bersama Altan, mereka sepakat untuk menjalankan satu-satunya cara yang tersisa untuk mengalahkan Mugen, yaitu dengan memanfaatkan kelebihan yang mereka miliki. Saya ga akan ekspos kelebihan apa tepatnya yang mereka miliki (karena bakal nge-spoil klimaks dari Bagian I), tapi dalam perjalanan ini, mereka akhirnya menemukan kenyataan mengenai masa lalu Altan. Yang pastinya bakal bikin kalian terenyuh sendiri.

Saya ga bisa ngapa-ngapain setelah baca ini, karena saya baper sendiri tentang Altan.


Long story short? The Poppy War ini sensasinya mirip seperti baca Laut Bercerita atau The Weight of Our Sky yang di-fusion dengan sistem super human The Kane Chronicles. Tiga part buku ini masing-masing akan menusuk hati kalian dengan grief yang berbeda-beda.

Bagian I, kita akan dikocok-kocok sama kerasnya kehidupan Fang Runin. Seorang anak perempuan bisa melakukan hal-hal segila itu kalo udah muak sama kehidupan. You think your life sucks? Fang Runin beg to laugh.

Bagian II, kita dibuat merinding sama kekejaman dan kebrutalan medan perang. Scene pertempuran yang ga terlalu dominan justru malah manjur banget buat nonjolin horor yang ditimbulkan dari kebengisan prajurit-prajurit yang diutus sebagai mesin pembunuh atas nama Kaisar. Warfare ain't for the weak-hearted.

Bagian III, kita dibuat ngenes sama nasib tokoh cerita yang ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih tragis dari apa yang bisa di-handle manusia kebanyakan. Terutama manusia-manusia "lembek" kaya kita yang udah terlalu banyak dibuat nyaman oleh feeling economy.

 

Buku ini kabarnya diadaptasi dari perang Sino-Japanese pertama. Which make sense, karena peta wilayah yang dipampang di depan buku memang sekilas mirip dengan peta geografi Jepang, China dan Taiwan saat ini.

Kalau kalian ga punya masalah dengan mental kalian, ga punya anxiety akan trigger tertentu, dan ga masalah dengan adegan kekerasan yang intens, saya berani rekomendasikan buku ini ke kalian. Saya gatau rating buku ini untuk usia berapa, tapi saran saya kalau kalian masih remaja, belum lulus sekolah, lebih baik cari aja buku yang lain. Hidup kalian masih jauh, nak.



Rating: 4.5 / 5
 

-------
Get your ebook here:
- Amazon Book (kindle)
- Google Playbook (english)
- Google Playbook (Indonesia)




Sep 25, 2020

Literally: A Story of Race To The Sun

My love for Rick Riordan's writings udah mengacaukan feeling brain saya. Total buku Rick Riordan Presents yang sudah saya selesaikan saat ini adalah 4 judul, dengan skor masing-masing:

This is a personal opinion, okay.


Dengan hasil yang fifty-fifty ini, dan fakta bahwa Uncle Rick did not write any of them stories, saya seharusnya sudah mulai menurunkan ekspektasi saya terhadap any of them books dan menikmati ini buku seperti kalo saya ga kenal Uncle Rick. But still, yeah. 




Anyway. Buku ini bercerita tentang seorang ABG dengan keturunan monsterslayer berlatar mitologi Navajo (salah satu dari sekian kelompok indigeneous people of the US - atau sering kita sebut suku Indian). Suatu hari, tiba-tiba ia melihat seorang (seekor?) monster datang ke sekolahnya, namun dengan wujud manusia normal yang nampak terhormat. Sebagai satu-satunya orang yang mampu melihat wujud monster tersebut sebenarnya, ia harus memastikan Ayah dan adiknya aman dari kejaran makhluk tersebut. Masalahnya, Mr. Charles, sang monster, ternyata menyamar sebagai calon bos besar Ayahnya.

Benar saja kan, Ayahnya diculik Mr. Charles. Dengan petunjuk dari Mr. Yazzie, kadal bertanduk yang ternyata adalah tetua - semacam guardian  I guess? - Nizhoni, Mac dan Davery memulai perjalanan mereka menuju The House of the Sun untuk mendapatkan senjata yang dapat mengalahkan monster. Tentu saja perjalanan mereka tidak mudah, mereka harus memperoleh 4 hadiah terbaik untuk Spider Woman, yang akan menunjukkan kepada mereka Jalan Pelangi, jalan untuk mencapai Rumah Matahari.

This theme could turn good. Masalahnya, somehow buku ini gagal menarik dan memaksa saya untuk terus membaca. Padahal, petualangannya cukup kompleks. Dalam 182 halaman, para tokoh telah dihadapkan dengan banyak sekali tantangan yang seharusnya cukup memuaskan dahaga saya akan kesialan tokoh. Apa asiknya novel kalau main character nya punya plot cerita yang mulus, bukan?

Poin-poin petualangan dalam plot buku ini rasanya seperti...grocery list? Memang ada banyak sekali hambatan dalam perjalanan Nizhoni, tetapi saya ga bisa menangkap serunya. I feel like reading a Cinderella book, dimana plot-plot lewat begitu saja tanpa bisa menarik adrenalin dan hati saya.

Saya tidak bisa merasakan Nizhoni yang (harusnya) sedang terjepit, berpacu dengan waktu dan berusaha mati-matian berusaha menyelamatkan Ayahnya.

Saya tidak bisa merasakan Nizhoni yang (harusnya) terguncang, melihat Mac, adiknya, tiba-tiba menghilang.

Saya tidak bisa merasakan Nizhoni yang (harusnya) sudah berada di titik kritis setelah lagi-lagi sahabatnya gagal menghadapi ujian.


Pun dari penggambaran setting dan karakter mitologi, saya merasa mereka hanya dijadikan karakter tambahan. Semacam bumbu penyedap,  agar cerita tidak kosong. I do aware kalau buku ini bukan buku referensi budaya, sehingga saya ga seharusnya mengharapkan informasi mengenai mitologi Navajo. Tapi saya rasa keterlibatan mereka dalam cerita benar-benar sangat kurang, terutama untuk buku yang ditulis di bawah brand Rick Riordan Presents. Jika kita ibaratkan ujian yang harus dihadapi Nizhoni cs ini adalah seleksi masuk universitas, makhluk mitologinya ini seperti hanya jadi staff yang bertugas mengantarkan main characters ke actual trial. No clear personality, no actual relationship with main characters, pokoknya benar-benar hanya numpang lewat.

Kok rasanya saya lebih banyak dapat insight mengenai indigenous people dari karakter Piper McLean di Heroes of Olympus, padahal dia cuma satu dari tujuh tokoh utama. Uncle Rick bahkan hampir selalu fokus pada latar belakang Piper sebagai putri Aphrodite, daripada sebagai keturunan Cherokee.

Apa mungkin penulis memang ingin fokus ke judul, ya? Race to The Sun, berarti memang cerita difokuskan kepada perjuangan Nizhoni untuk menghadapi ujian dalam perjalanan mencapai Rumah Matahari. But I don't know. I feel like despite the intention, seharusnya cerita ini bisa dibuat lebih menarik lagi.

Spoiler: Namun, saya tetap mau kasih credit ke satu bagian ending yang menurut saya cukup menyentuh. Dalam buku ini, karakter Nizhoni diceritakan sebagai anak perempuan yang baru puber, craving for attention dan desperate for being famous. Namun, ketika ia dipaksa memilih, Rebecca menunjukkan character development untuk tokoh Nizhoni yang cukup baik dengan akhirnya memutuskan untuk melepas kesempatan untuk menjadi hero, untuk menjadi terkenal, demi bisa menolong orang-orang yang disayanginya.

Bagaimanapun, saya tetap harus fair. Buku ini adalah buku middle grade, yang memang ditujukan untuk audiens anak-anak SMP. Sedangkan usia saya sudah dua kalinya anak SMP, jadi mungkin saya tanpa sadar memasang ekspektasi yang terlalu tinggi. (I'm not blaming several book titles that ruins my standard, I swear).

Walaupun saya tidak terlalu suka buku ini, tetapi audiens yang tepat mungkin akan relate dengan petualangan dan jungkir baliknya emosi Nizhoni selama menghadapi tantangan-tantangan dalam perjalanannya, menuju Rumah Matahari.


Quick Review:


 

Rating: 3 / 5


----


Get your ebook here:


- Amazon book (kindle)

- Google Playbook